BEST FRIEND OR ???

image

          ” Terkadang, cinta itu bisa datang kapan pun dan dimana saja. Bahkan dengan sahabat mu sekali pun itu bukan hal yang mustahil untuk terjadi. Ketika cinta itu datang, hanya 1 hal yang bisa kau lakukan. Jaga lah ia….”.

Tiffany berusaha untuk tak tertawa melebihi batas normal ketika sahabatnya, kwon yuri melontarkan sebuah lelucon. Sebenarnya lelucon itu sama sekali tak lucu, namun ekspresi dari yuri saat menceritakannya lah yang membuat tiffany tertawa cekikikan. Beberapa orang yang berpapasan dengan mereka bahkan menyempatkan diri untuk sekedar melirik, merasa penasaran.

“Geumanhae yuwrie~ah. Aku tak mau mendengarnya lagi. Kau membuat perutku sakit”. Tiffany setengah berlari menjauhi yuri yang masih bercerita tentang dooe, puppy lucu berwarna hitam yang disulap yuri menjadi warna yang tidak jelas setelah ia membawanya ke salon. Yuri menyusul tiffany di tengah keramaian saat dirasa gadis itu mulai hilang dari pandangannya.

“Yaahh fanny~ah, aku belum selesai dengan ceritaku. Jangan main lari saja bisa tidak ??”. Yuri sudah di samping tiffany, menyenggol bahu gadis itu pelan untuk menarik perhatiannya. Gadis bermarga Hwang membalas melirik yuri dari sudut matanya. Ia menggeleng dan menutupi kedua telinganya sembari masih menelusuri jalan menuju sekolah.

“Stop it kwon Yuwrie. Aku tidak mau orang-orang menganggapku gila karena tertawa di sepanjang jalan.” Jemarinya yang panjang mencubit lengan yeoja itu dengan pelan. Yuri yang tak sempat menghindari pura-pura merasa kesakitan, membuat tiffany memutar kedua bola matanya dengan malas.

“Jangan lakukan itu lagi tiffany. Appoo~”. Yuri berakting lagi, wajahnya berekspresi seolah-olah ia memang kesakitan. Sedang tiffany tertawa sejenak.

“Jauhkan wajah bodohmu itu yul.”

Yuri hanya mempoutkan bibirnya mendengar ejekan dari tiffany. Lalu sedetik kemudian ia merangkul bahu gadis itu dengan sok mesra.”Kau tak mungkin bisa jauh-jauh dariku, Nona”. Senyum yuri , menunjukan deret gigi rapinya.

Tiffany mengerutkan dahi. “Ck. Dasar kwon yul pabo, kau itu terlalu percaya diri”. Ia menyikut pinggang yuri cukup keras, tapi tak membuat rangkulannya  terlepas. “Gara-gara kau berteriak-teriak seperti orang gila tadi di depan rumahku, aku jadi tak sempat sarapan kwon yuwrie pabo”.

Yuri hanya tertawa mendengar ocehan tiffany, “Aku takut kau terlalu lama mandi dan membuat kita terlambat fanny~ah , makanya aku berteriak seperti itu agar kau cepat selesai”. Yuri menjawab asal.

“So stupid.” Tiffany menggerutu pada dirinya sendiri. Menyalurkan rasa herannya memiliki teman aneh macam Gadis tanned seperti yuri.

Sejak pertemuan pertama mereka di taman itu, keduanya menjadi teman dekat sampai sekarang. Mereka bahkan satu sekolah saat menengah pertama. Yuri dari dulu selalu bertindak konyol dan bodoh sampai tiffany dibuat pusing sendiri. Yuri selalu membuat kekacauan dan tiffany lah yang akan menanganinya. Yuri suka bercerita banyak dan tiffany dengan setia mendengar semua cerita dari sahabat kesayanganya. Mereka seperti melengkapi satu sama lain.

Tiffany mengenal baik sosok yuri dan begitu sebaliknya. Mereka kerap menghabiskan waktu bersama di taman tempat pertama kali mereka bertemu sekedar untuk duduk berdiam menikmati ice cream ataupun saling berbincang sesuatu.

“Jadi kau belum sarapan? Mianhae fanny~ah”.  Yuri menggaruk belakang kepalanya merasa tidak enak, memecah keheningan yang sempat terjadi di antara mereka berdua. Merasa bersalah karena tingkahnya tadi pagi.

Tiffany hanya tertawa. “Bodoh. Jangan memasang wajah seperti itu, kau pikir hanya karena tak sarapan aku akan mati”. Gadis itu gemas, sampai-sampai tak sadar jemarinya bertengger di pipi chubby kwon yuri dan mencubitnya cukup keras. “Ayolah kita akan benar-benar terlambat kalau terus berbicara di sini…”

Yuri tersenyum. Ia melepaskan rangkulannya saat sampai di persimpangan jalan yang ramai. “Hari ini aku tidak bisa pulang bersama yah?  Aku ada latihan dance dengan hyo”.

Tiffany mengangkat bahunya “Tak masalah. Aku bisa pulang sendiri.” Tiffany sedikit jengkel ketika tangan yuri mengacak pelan rambutnya sebelum  berjalan menjauh berlawanan dengan arah yang akan tiffany tuju. Ya, sekarang keduanya memang berbeda sekolah.  Mereka akan berpisah di persimpangan jalan saat berangkat dan bertemu kembali di sini saat usai sekolah. Bukan kah itu romantis ??

Sebenarnya saat kelulusan mereka berencana sekolah di tempat yang sama, namun sayang nilai yuri tak mencukupi untuk bisa masuk ke sekolah yang mereka rencanakan. Dan akhirnya, tiffany masuk dan menjadi murid SHIDAE, sedangkan yuri kini menjadi murid SM school.

.

.

.

Tiffany mendesis ketika merasakan perutnya berbunyi minta di isi. Karena tak tahan lagi ia akhirnya memutuskan untuk pergi ke kantin. Tepat saat tiffany keluar dari kelas ia berpapasan dengan yoon bora, teman sekelasnya.

” Tiff ada yang mencarimu. Dia menunggu di depan gerbang. ”

Tiffany menaikan alisnya bingung, “Siapa?” Tanyanya heran.

Bora mengangkat kedua bahunya ringan. “Sepertinya dari sekolah sebelah kalau ku lihat dari seragamnya. Rambutnya berwarna hitam dan cukup sexy ngahahahaha”. Kata bora sambil tertawa menggoda.

“Aiiisshhh kau ini. Arraseo, gomawo bora~ya”. Melupakan perut laparnya, tiffany berjalan menuju gerbang sekolah. Ia sibuk berpikir kenapa yuri ingin bertemu dengannya di jam sekolah begini. Apa ada sesuatu yang penting? Begitu pikirnya.

Kwon yuri tengah bersandar di samping gerbang ketika tiffany sampai. Senyum lebar langsung terlihat dari yeoja 18 tahun itu ketika melihat kedatangan tiffany. “Ada apa yul? Tumben sekali”. Tanya tiffany langsung setelah ia berdiri didepan yuri.

Tangan yeoja itu menyodorkan beberapa bungkus makanan ke arah tiffany,  “Kau bilang belum sarapan kan? Maka dari itu aku menyempatkan diri untuk membawakanmu ini. Habiskan yaaah”. Yuri tertawa kecil saat tiffany masih menatap bingung kearah bungkusan yang kini berada di tangannya.

“Yaaa!!! Kenapa hanya diam saja fanny~ah ?? Palli nanti keburu masuk dan kau tidak sempat istirahat”. Kata yuri sambil menepuk kepala tiffany pelan.

” Apa kau tidak suka makanannya yah?”. Tanya yuri sambil memandang tiffany.

Tiffany tersadar beberapa detik kemudian lalu menggeleng beberapa kali. “Ani. Aniya yuwrie~ah  ”

“Lalu apa?”. Tanya yuri penasaran.

Tiffany tersenyum. Menarik sudut bibirnya dengan kuat. ” Kau berlebihan sekali sampai membawakan makan siang ke sekolah ku yul. Tapi terima kasih banyak. Aku memang sangat lapar.” Tiffany bisa merasakan ada yang salah dengan wajahnya ketika mengatakan hal itu pada yuri.

“Untuk mu, aku akan melakukan apapun fanny~ah, jadi jika hanya membawakan mu makan siang seperti ini aku rasa itu tidak berlebihan”. Kata yuri dengan senyum tulus miliknya.

” Aku harus segera kembali ke sekolah fanny~ah, Ms. Park bisa menceramahi ku jika aku terlambat masuk kelasnya”.

“Gomawo yuwrie~ah dan hati hati dijalan”. Tiffany masih berdiri di sana hingga punggung yuri tak lagi terlihat.

‘Dan Terimakasih untuk perhatianmu.’

.

.

.

.

.

Tiffany tengah memandangi ice cream di tangannya saat matanya menangkap sosok gadis coklat yang berjalan ke arahnya. Tiffany menaikan alis melihat yeoja itu tertawa kecil dengan pelu di wajah. “Kau terlambat, stupid.” Yuri duduk di samping tiffany ketika gadis itu mengomel dengan gayanya yang seperti biasa. Mengabaikan omelan tiffany, yuri meraih ice cream milik gadis itu yang tinggal separoh dan menjilatnya rakus. Menikmatinya tanpa rasa bersalah.

“Ne, mian fanny~ah, Aku harus mengantar yoong kerumah soo makannya aku telat”.  Yuri menjelaskan panjang lebar di sela jilatanya pada ice cream strowberry milik tiffany.

Sepertinya tiffany cukup percaya dengan alasan yang di katakan yuri barusan.

“Kau seperti tak pernah makan ice cream.” Tiffany mengeluarkan sapu tangan dari saku bajunya, mengusap bibir yuri yang belepotan dengan tak lembut. “Bahkan anak-anak di sana jauh lebih pintar dan tahu cara menikmati benda dingin itu.” Yuri memanyunkan bibir seraya mengalihkan perhatian pada sekelompok anak yang memenuhi area taman dengan sepotong ice cream di tangan mereka. Terdengar gelak tawa dari mereka.

Taman cukup ramai ternyata. Maklum, mungkin karena weekend jadi banyak keluarga yang memilih menghabiskan waktu untuk sekedar jalan-jalan di taman. “Ah fanny~ya apa kau ingat sesuatu ?” Yuri telah kembali menatap gadis itu.

Tiffany menoleh. “Ingat apa?” Ia menaikan alisnya.

Sesaat, tiffany merasa yakin ia melihat seringai kecil di sudut bibir yuri. Belum lagi mata coklatnya kini terlihat mengkilat jahil. “Pita mu yang hilang.” Sontak pikiran tiffany tertuju pada pita miliknya yang selalu ia bawa. Ia tahu arah pembicaraan yuri mengarah pada pertemuan pertama mereka.

“Iya aku masih ingat. Memangnya kenapa?”

Yuri menggeleng pelan. “Tentang janji menjadi pangeran.” Tiffany bisa melihat mata coklat yuri berbinar-binar. Tiffany menelan ludah.

“A-apa?”

“Kalau kau memintaku menjadi pangeranmu sekarang, aku tanpa pikir panjang akan mengiyakan.” Yuri berseru dengan semangatnya.

Tiffany berdehem pelan, mungkin mencoba menghilangkan gugup yang entah kenapa tiba-tiba melandanya. “Kau bicara apa? Kau ini kan yeoja yul. Bagaimana bisa kau menjadi pangeran untuk ku ? .” Ia mencoba berkilah.

“Tapi kan kau sendiri yang bilang pada ku dulu fanny~ah, masa kau lupa ?”. Jelas yuri itu tak mau kalah.

“Oh lupakan.” Tiffany terlihat buru-buru untuk bergegas. “Aku tak ingat pernah memintamu jadi pangeran…” Lalu ia beranjak dengan terburu buru meninggalkan Yuri di bangku taman.

“Mwo ? Mwo ?? Yah…. yah…  jangan pergi fanny~ah…” Tanpa buang waktu yuri bergegas menyusul. “Jangan pura pura lupa, tiffany.” Goda yuri sambil tersenyum jahil dan tidak lupa sedikit mencolek dagu tiffany, persis seperti seorang ahjussi yang tengah mengganggu wanita.

“Diam lah kwon yuwrieee…”. Kesal tiffany sambil memicingkan matanya.

“Arraseo…. arraseo. Oh hey, tapi kenapa wajahmu merah begitu?”

“KWON YUWRIIIEEEE!”. Teriak tiffany kencang sambil berlari mengejar yuri yang telah lari lebih dulu.

.

.

.

“Gweanchana ? Apa kau baik baik saja fanny~ah?” Yuri memandang aneh pada Sahabatnya yang sedari tadi tersenyum sejak turun dari bus. Ia penasaran sekali kenapa tiffany sejak tadi tersenyum seperti orang gila. Yuri  menggaruk kepala belakanganya dengan wajah bingung. “Kau terlihat bahagia sekali hari ini.”

“Tentu saja.” Tiffany menjawab cepat. “Hari ini aku dan yang lain akan menonton pertunjukan Kim Taeyeon. Itu loh pertunjukan yang aku ceritakan beberapa waktu lalu.” Mendengar pernyataan tiffany membuat wajah yuri berubah sebal.

“Aaahh~~~  ku kira ada hal penting. Jadi cuma itu…”. Yuri  segera mengambil langkah meninggalkan tiffany dibelakang. Tiba-tiba hilang selera setelah mengetahui jawaban apa yang diberikan gadis ber eye smile itu. Beberapa minggu yang lalu tiffany memang pernah bercerita ingin sekali menonton pertunjukan musik kakak kelasnya, dan ia rela menabung demi bisa membeli tiketnya.

“Yaah yuwrie~yah  kenapa jalanmu cepat-cepat begitu?”. Tiffany terpaksa menggerakankan kakinya lebih cepat untuk menyusulnya. “Kwon yuri bodoh, jangan bilang kau cemburu..”. Tiffany dengan sengaja menyenggol bahu yuri dengan keras dan untung saja gadis itu tak sampai terjungkal.

“Enak saja.” Yuri mengacak-acak rambut tiffany.

“Sudahlah yul mengaku saja…”. Tiffany tertawa keras. Menikmati sekali menggoda sahabatnya itu.

“Mwo ??? Sudah aku bilang aku tidak fanny~aah “. Tiffany menghindar dan buru-buru berlari kecil menghindari yuri yang siap memukul kening tiffany. Alhasil mereka seperti anak kecil berkejar-kejaran di trotoar jalan yang padat.

“Berhentilah yul aku capek..” Nafas tiffany naik turun dan baru sadar ia menghabiskan separuh perjalanannya ke sekolah dengan berlari. Tangannya berada di kedua lutut berusaha menormalkan deru nafasnya.

“Ne… ne… tiffany…. hmmm…Dasar payah…”. Yuri tertawa mengejek. Sedangkan tiffany menekuk wajah merasa tak terima dengan sindiran gadis itu. Mereka berdua terdiam beberapa saat sebelum kemudian yuri kembali mengatakan sesuatu. “Langit sejak tadi gelap. Mungkin hari ini akan turun hujan.”

Tiffany menatap yuri yang mendongak memperhatikan langit, mau tak mau dirinya juga turut menengadah dan memperhatikan langit di atas sana. Benar, sejak tadi ia bangun tidur tak ada tanda-tanda akan ada sinar matahari yang muncul. Makanya sebelum berangkat tadi sang daddy menyuruhnya untuk membawa payung sekedar jaga-jaga.

“Untung saja aku sudah bawa payung, jadi tak masalah kalau hari ini hujan.” Tiffany berucap dengan bangga. Ia tahu kalau yuri pasti lupa untuk membawa payung.

“Siapa peduli toh cuma hujan. Basah-bahasan sedikit tidak masalah untuk ku.” Jawab yuri  kembali berjalan mendahului tiffany.

“Ckckckckc sepertinya ia sedang sensitif hari ini…”. Yuri  mendengar tiffany tertawa keras di belangkangnya. Ia menggelengkan kepala pelan sebelum sebuah senyum kecil terlihat di sudut bibirnya.

.

.

.

Bukan hal yang aneh jika di setiap sekolah ada murid yang menjadi idola dan ada murid yang menjadi penggemar. Hal itu berlaku juga di sekolah tiffany. Tak perlu jauh-jauh mencari karena sahabat-sahabatnya sendiripun menjadi bagian dari para penggemar siswa-siswa populer. Mungkin ia juga termasuk.

Dari beberapa siswa yang cukup populer di sekolahnya, tiffant sedikit menaruh perhatian pada Kakak satu tingkatnya, Kim Taeyeon.  Siapa yang tak kenal dengan kim taeyeon ? Meskipun bertubuh mungil, tapi itu bukan masalah untuknya. Ia mempunyai suara yang sangat merdu dan tentu saja ia merupakan siswi dengan segudang prestasi.

“Aku tak menyangka akan seramai ini.” Bora temannya itu mendesis kagum saat melihat ke arah gedung yang akan segera menggelar pertunjukan solo kim taeyeon. Yah, di sini lah mereka sekarang setelah jauh-jauh hari memesan tiket supaya bisa melihat kim taeyeon  di pertunjukan musiknya sampai rela membolos agar bisa melihat.

“Taeyeon sunbaenim memang benar benar luar biasa”. Seohyun yang cukup pendiam ikut pula berdecak kagum.

Tiffany tersenyum cukup lebar. Ia juga antusias meski sebenarnya sudah beberapa kali melihat penampilan gadis pendek itu di sekolah ketika tengah berlatih. Tapi meski begitu ia tak akan pernah bosan melihatnya meski berkali-kali. “Tapi sepertinya acara baru akan di mulai sekitar dua atau tiga jam lagi. Kita juga harus mengantri untuk masuk ke dalam.” Matanya bergerak melirik pintu gedung yang masih tertutup dengan sebuah papan petunjuk mengenai jam pertunjukan yang akan berlangsung.

“Bukan masalah. Kita bisa menunggu di sini.” Bora telah duduk di salah bangku panjang kosong dengan senyum lebar. Melambai-lambaikan tangannya.

Tiffany hendak melangkah ke arah bora ketika merasakan merasakan ponsel miliknya bergetar. Ada sebuah pesan masuk.

From: Kwon Yuwrie pabo

Kau benar-benar bolos untuk pertunjukan musik itu, fanny~ah?”

Dengan senyum tipis tiffany cepat-cepat membalas.

To: Kwon Yuwrie pabo

Iya. Kau tahu, yul ?! Di sini ramai sekali.

Tak berapa lama yuri kembali membalas.

From: Kwon Yuwrie pabo

I dont care.

Wajah tiffany berubah jengkel. Dasar yuri bodoh.

Ketika ia hendak membalasnya, satu pesan kembali ia terima.

From: Kwon Yuwrie pabo

Aku harus latihan lagi. Selamat bersenang-senang, fanny~ah.  Cepat pulang kalau pertunjukannya sudah selesai, hari ini sepertinya akan hujan deras. Jangan sampai kau sakit.

Dan Tiffany hanya bisa terpaku menatap layar ponselnya yang masih menyala.

Ia kehilangan kata-kata.

.

.

.

Beberapa kali petir terdengar membelah langit. Hujan turun dengan lebatnya tepat saat tiffany dan teman-temannya mengantri untuk masuk ke dalam gedung setelah menunggu hampir dua jam. Tiffany terpaku sejenak melihat hujan deras di luar sana.

“Yaah!!!! Tiff, kau tidak apa-apa?” Bora bertanya khawatir. Tiffany menggeleng pelan.

“Sepertinya aku ada urusan penting”. Tiffany bersiap pergi. Terlihat terburu-buru.

“Mwo ??? Yah tapi pertunjukannya sudah hampir dimulai tiff. Di luar juga sedang hujan deras, dan kau mau pergi? kau jangan gila.” Bora menahannya. Masih berwajah cemas.

“Tak masalah. Aku pergi dulu.” Bora tak sempat mencegat tiffany karena sudah tiba gilirannya masuk ke dalam gedung pertunjukan. Mungkin setelah acara selesai ia bisa meminta penjelasan.

.

.

.

“Rupanya kau di sini…”

Yuri tersentak kaget. Bola matanya sedikit membesar. “Fanny~ah?!” Ia seperti bertanya pada dirinya sendiri seolah memastikan sosok di depannya memang tiffany temannya sejak kecil.

Tiffany tersenyum, ia melangkah ke arah halte tempat yuri berteduh dari hujan yang deras. Ia meletakan payung yang dirinya bawa lalu mengusap bajunya yang sedikit basah. “Aku menunggumu di persimpangan jalan menuju sekolah yul, tapi kau tidak muncul-muncul. Dan ponsel mu juga tak aktif saat aku coba menghubungi mu…” Ia bercerita panjang lebar. Ada kerutan cemas terlihat di sudut matanya.

Yuri menurunkan pandangannya. “Ponselku mati karena batrenya habis fanny~ah. Lalu Kenapa kau bisa di sini? Pertunjukan itu? Bukankah seharusnya sekarang, kau sedang bersama temanmu bersenang-senang di sana?”. Kwon yuri tak sungkan menunjukan rasa keheranannya. Masih bingung melihat keberadaan Sahabatnya disini. Kenapa gadis itu di sini?

Gadis itu tekekeh pelan. “Iya memang seharusnya aku di sana sekarang. Berteriak-teriak bersama teman temanku melihat pertunjukan kim taeyeon, tapi saat aku ingin masuk, hujan lebat di luar gedung mengingatkanku pada orang bodoh yang lupa membawa payung.” Tiffany menarik sudut bibirnya. Seperti tengah membuat seringai.

Yuri menggaruk kepala belakangnya dengan kerutan di dahi. “Orang bodoh?!” Ia setengah bergumam. “Maksudnya aku?” Lalu dengan nada sedikit tinggi ia berseru seraya menunjuk kearah dirinya sendiri setelah beberapa detik mencerna perkataan tiffany.

Tiffany tertawa. “Siapa lagi?!” ia berkata dengan nada ringan.

“Aku tak bodoh tiffany. Aku hanya kelupaan membawa payung.” Sanggah nya merasa tak terima.

“Itu sama saja, bodoh.”

“Jelas Beda tiffany…”

“Sama saja.”

“Ok, aku mengalah. ” Yuri menyerah. Ia tahu tak akan bisa menang melawan gadis itu. “Tapi terimakasih banyak telah mengkhawatirkan aku sampai-sampai kau melupakan pertunjukan yang sangat kau nantikan itu.” Ekspresi yuri nampak serius.

Gadis itu hanya mematung di tempat tanpa sadar, suasana di antara keduanya tiba-tiba terasa berubah. Beberapa kali tiffany berdehem mencoba menemukan kata-kata tepat serta untuk menghentikan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu dua kali lipat dari biasanya.

“Eh fann —”

WUUSSSHHH…

Tiupan angin cukup kencang yang tiba-tiba datang menerbangkan dedaun coklat serta benda-benda ringan di sekeliling mereka. Keduanya sedikit menundukan wajah agar kedua mata mereka tak kemasukan debu dan hal lain yang berbahaya. Baru setelah angin tak lagi berhembus mereka kembali menegakkan tubuh.

“Oh tidak rambutku…” Yuri dengan jelas mendengar suara jengkel keluar dari mulut tiffany. Ia pun hampir meloloskan tawa ketika melihat rambut gadis itu menjadi berantakan akibat sapuan angin. Bahkan sehelai daun bersarang di rambut coklat terang itu. Namun karena merasa tak tega melihat tiffany kesusaha  merapikan rambutnya, ia akhirnya turut membantu menyingkarkan daun di sana.

“Sial….aku pasti seperti nenek sihir sekarang.” Ia terus menggerutu sembari sibuk dengan rambutnya. “Kau membawa sisir, yul?”

Yuri terkekeh geli. “Jangan bercanda tiffany hwang, mana mungkin aku bawa sisir.”

“Menyebalkan sekali…”

Gadis itu terdiam mengamati tiffany sejenak. “Ah~ fanny~ah , kau bawa pita berhargamu itu?” Tiffany berhenti dari aktifitasnya, ia menatap yuri tak mengerti sebelum mengangguk pelan. “Coba berikan padaku..” Minta yuri menjulurkan tangan.

Tiffany tak banyak tanya. Ia merogoh pitanya di dalam tas dan menyerahkannya pada yuri. Gadis itu menerimanya, ia berjalan dan berdiri di belakang gadis yang lebih pendek dari nya.

“Kau mau apa,  yul ?”. Tiffany mendadak panik dengan kening berkerut bingung.

“Sudah diamlah sebentar…”. Yuri meraih rambut panjang tiffany . Menaikannya lalu melilitnya dengan pita tersebut secara bertahap dan mengikatnya cukup kencang. “Selesai. Pitamu memang sangat berguna. Meskipun tidak rapi, tapi lumayanlah daripada berantakan seperti tadi.” Yuri tersenyum puas dengan hasil karyanya.

Tangan tiffany bergerak meraih rambutnya yang kini terkucir kuda. Ia lalu melirik yuri. “Apa aku terlihat cantik? Dan kau tidak menguncir rambut mu juga? Aku bisa membantu mu”.

Yuri memutar bola matanya. “Sudahlah, ayo kita pulang. Hujan sepertinya tak akan reda…” Gadis tanned itu meraih payung tiffany dan mereka berdua keluar dari halte. Hujan langsung menyergap payung yang mereka gunakan.

Mereka berdua berjalan dalam diam untuk beberapa saat. Sibuk dengan pikiran masing-masing sebelum kemudian yuri menyadari sesuatu.

“Fanny~ah, merapatlah. Nanti kau bisa kebasahan…”

“Eh?”. Tiffany tak sempat menanggapi ketika sebelah tangan yuri yang bebas terjulur dan meraih bahu gadis itu. Menariknya lebih dekat pada tubuh yuri. Seperti memeluknya atau memang memeluknya.

“Nah seperti ini lebih baik.” Gadis itu tersenyum pada tiffany sejenak sembari masih melangkah di antara hujan yang lebat.

Sempat tiffany melirik dan mendapati setengah bagian baju yuri basah kuyup, tak mendapat keteduhan sepenuhnya dari payung yang ia bawa. Angin begitu kencang hingga sepertinya yuri membagi setengah tempatnya agar ia tak terkena air hujan. Tiffany meringis, merasa dirinya teristimewakan. Serasa menjadi sosok yang begitu penting bagi yuri. Ia tak tahu apa yang melanda dirinya, ia hanya bisa jujur bahwa ia sangat menikmati suasana seperti ini. Sangat.

Apa ia telah jatuh cinta pada sahabat kkab nya ini ? Ia merasakan debaran aneh setiap kali yuri melakukan yang menurutnya terlalu berlebihan untuknya. Seperti saat ini, ia melihat yuri yang bahkan setengah darinya sudah basah terkena air. Tapi yuri terlihat tidak perduli.

” Yuwrie~aah… kenapa kau hanya memayungi ku saja ? Lihat, baju mu menjadi basah”.

” Gweanchana fanny~ah,,, asal kau tidak kehujanan aku akan baik2 saja”. Balas yuri sambil terus berjalan.

Sekali lagi, yuri membuatnya merasa sangat special. Wajah putihnya seketika merona mendengar perkataan yuri barusan. Ia selalu merasa bahagia jika bersama gadis tanned sahabatnya.

“Fanny~ah aku ingin mengatakan sesuatu. Apa kau mau mendengarnya?”. Tanya yuri masih terus berjalan dan tentu saja merangkul bahu tiffany.

” Mwo ?? Katakan saja. Kenapa serius sekali?”. Balas tiffany yang ntah kenapa sangat penasaran dengan kata kata yang akan yuri katakan.

” Aku menyukai seseorang”. Jawab yuri pelan.

THE END

Anyyeooooooooong chingu~yaaaa…..
Cuma mau bilang, makasih yah buat yg masih mau baca sama tinggalin komen di melon~~~…..

Oiyah buat My Prend yang jauh dimata tapi dekat di hati *asyiiiiiiqqqq , sorry yah kalo semisal ff nya kurang greget, Kurang nampol, pokonya banyak kurangnya, sekali lg gw minta maaf yeehh kaa~~~

P.S : Hoy cepet sembuh ya~ C
Semoga penyakitnya cepet di angkat sama Allah S.W.T
Amiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnn ☺☺☺☺☺

– Love Yaaaa~~~ Keong –

Posted from WordPress for Android

Advertisements

16 comments

  1. Yess,,, author update bawa yulti,, selain yulsic gw juga suka banget sama yulti ^^
    tapi thor kok yulti nya gk sampae jadian sih,,, ^_=

  2. Ehhh lalu itu Yulti jadian gak ? Oh my god, gue mulai seneng Yulti. Cocok aja gtuu eeeekekekekekekkeke
    Hal sederhana yg mendebarkan biasanya tjd disekitar kita . Hemmm. Jd inget masa2 SMP…..
    Gomawo keong sudah mau menulis

  3. Seriusan end???
    Jiaahh mreka pan belom jadiaann.
    Gregeett lah gw 😭😭😭

    Heheheh tpi thanks yaaa udah ngabulin permintaan gw, loveee yaaa 😙😙😙

  4. Ehh? End?? Seriusn itu thor?? Ksh sequel dong ><
    mau lhat reaksi mommy, stlah uncle yul ngungkpin prsaannya…

  5. lah ko udah the end aja..kan yuri belum bilang suka sama siapa..nih yulti nya sweet banget..yul yang perhatian bnget sama fany..pengen jadi fany dong..hehe
    sequel ya thor..

  6. Yayaya apa apaan ini thor ? Berhenti ditengah jalan ㅠㅠ ya walopun pasti pada tau sih si yul suka sama siapa tapi kan ga harus ngerem mendadak thor endingnya 😢😢😢

  7. Duhhh dri brantem mulu akhirnya suka khn… tpi Yaah endnya gntung bkin penasaran…
    Bkin sequel donk thor hahaahha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s