HUG ME ANY LONGER

image

       ” Karena pertemuan yang indah dan terjalin erat, belum tentu berakhir seperti apa yang kita inginkan seberapa keras pun kita mencobanya, jika Sang Pengantur Rencana tidak mengkhendaki”…….

Hembusan angin menerbangkan beberapa helai daun kering yang telah merapuh, terlepas lalu terbang dari ranting yang senantiasa menggenggamnya. Suara dedauan yang saling bersentuhan menciptakan melodi alam dalam diam milik indahnya malam. Entah kenapa malam hari ini dingin terasa begitu sangat menusuk. Bahkan langit hitam diatas sana juga terlihat seperti tengah bersengkokol untuk menciptakan malam dengan suasana begitu menyesakkan.

Uap asap terlihat seiring dengan helaan nafas dari seorang gadis pendek berkulit putih yang kini tengah duduk di atas tembok yang warnanya sudah mulai mengelupas. Helaan nafasnya terdengar sarat akan keputusasaan. Rambut panjang pirang serta kepalanya sedikit menunduk, mencoba mencari objek pandang sebagai pengalih perhatiannya.

“Bisakah kau mengatakan sesuatu? Aku tidak suka melihatmu yang menjadi pendiam seperti ini tae”.  Gadis yang terduduk disampingnya nampak mencoba mencari celah untuk memancing gadis itu berbicara. Sejak setengah jam yang lalu  bertemu, mereka hanya saling terdiam. Tidak ada satu pun dari keduanya yang berinisatif untuk memulai percakapan.

Kim Taeyeon gadis imut yang sejak tadi tertunduk itu menoleh pada gadis manis disampingnya. Menarik seulas senyum dibibirnya. Mencoba menghapus keraguan yang mencengkram erat hatinya.

“Kau ingin aku bicara apa, panny~ah?”. Tiffany tersenyum mendengar balasan dari gadis itu yang menurutnya sangat menggoda. Ia merindukan kim taeyeon yang seperti ini.

“Biasanya kau itu selalu berisik seperti anak kecil. Kau terlihat aneh jika diam seperti ini. Bukan seperti kim taeyeon yang aku kenal”. Gadis itu mencibir. Kebekuan suasana itu kini terlihat mulai mencair seiring dengan kedua tangan yang saling merajut, bergenggaman.

Kehangatan terasa saat kedua kulit itu bersentuhan. Menciptakan satu detak baru dalam aliran nadi masing-masing.

“Bukannya kau yang selalu memintaku untuk tidak bersikap seperti itu ?”. Kim taeyeon kembali melancarkan aksi godaannya, membuat pipi gadis itu perlahan mulai merona karena malu. Yah, ia memang tak suka jika kim taeyeon itu mulai merengek seperti seorang bayi, tidak mendengarkan larangan dari nya.  Tapi berisik lebih baik dari diam. Terlebih sekarang.

“Iya, tapi kau terlihat tak cocok jika bersikap seperti itu tae”. Helaian rambut keduanya saling berterbangan saat angin berlari melewati mereka. Membuat mereka berdua tanpa sadar mengeratkan genggaman.

Kim taeyeon mendengus geli, terkekeh pelan sebelum kemudian mengalihkan tatapannya. Mengamati jalanan didepan mereka yang telah sepi.

“Wae? Apa kau takut nantinya akan banyak yang menyukai ku jika aku tidak lagi seperti anak kecil huh?”. Tiffany meninju bahu gadis itu pelan dengan tangannya yang bebas. Merasa kesal dan gemas secara bersamaan.

“Jangan terlalu percaya diri Nona Kim”. Gadis yang dipanggil nona kim itu kembali menoleh pada gadis cantik bermata bulan sabit pencengkram hatinya. Memandangi objek indah itu untuk sejenak.

Tiffany mengerjapkan mata menatap bingung, ia canggung ditatap sebegitu intens oleh gadis imut disampingnya. Gadis periang itu jarang memperlihatkan sisi serius dalam dirinya. Hampir selalu bertingkah selayaknya seorang bocah yang hanya tertarik dengan dunianya.

“Kau mulai bertingkah aneh lagi…”. Lagi, Tiffany kembali membuka suara hanya untuk membuat gadis penyukai ice cream itu tak lagi memandangnya seperti itu. Bukan ia merasa risih, hanya saja melihat mata itu, melihat ekspresi wajah didepannya itu…Ah, dia tak ingin mengungkitnya.

Kim taeyeon terkekeh pelan, mengusap tengkuk belakangnya dengan kaku.

“Aku hanya ingin memandangimu…”. Kim taeyeon bergumam pelan. Mengusapkan ibu jarinya pada punggung tangan milik gadis itu yang kini tengah dalam genggamannya. Menatap tangan mereka yang saling menyatu. Terasa tak ada celah.

Tiffany tersenyum, kini malah ia sendiri yang justru sibuk memandangi wajah gadis berparas imut tersebut. Mengamati setiap jengkal wajah yang hampir separuh hidupnya ini menjadi teman setia dalam setiap langkah hidupnya. Selalu membuatnya mampu untuk sekedar mengukir senyum meski kadang luka terlalu kejam menyakiti dirinya. Menyakiti keduanya.

Satu lelehan airmata akhirnya tumpah dari mata indah itu. Dengan cepat tiffany menghapusnya, ia bahkan tak sadar bahwa dirinya bisa semudah itu menangis hanya menatap wajah gadis yang selalu memberikannya bahu untuk sekedar melepas lelah yang ia rasakan.

Kim taeyeon menoleh merasakan tiffany sedikit bergerak dari posisinya. Mata itu menyipit padanya.

“Kau menangis? Gweanchana panny~ah?”. Kim taeyeon bertanya ragu. Gadis itu nampak menggelengkan kepalanya. Berpura-pura.

“Tidak, aku hanya terkena debu tae.” kilah tiffany sambil berusaha tersenyum.

Kim taeyeon menjulurkan tangannya yang bebas mengusap lembut pipi gadis itu. Merasakan dingin saat kulit jemarinya menyentuh permukaan kulit wajah sahabat sekaligus orang yang sangat ia cintai.

“Kau kedinginan, panny~ah ? Lebih baik aku antar kau pulang. Aku takut jika nanti kau jatuh sakit”. Tiffany  menggelengkan kepalanya cepat, melepaskan genggaman tangannya dan memeluk lengan gadis itu dengan erat.

“Aniya taetae, kita saja baru bertemu. Aku ingin disini lebih lama lagi bersama mu”. Kim taeyeon tersenyum melihat tingkah tiffany.

“Kundae panny~ah, aku takut kau akan sakit jika terlalu lama disini”. Khawatir taeyeon.

Tiffany menyenderkan kepalanya pada bahu mungil milik kim taeyeon. Mungkin setelah ini ia tidak bisa melakukan hal manis seperti ini pada gadis itu. Apa salah jika ia bertindak manja untuk yang terakhir kalinya ??

“Tae~”.  Kedua alis gadis itu bertaut mendengar gumaman halus tiffany.

“Hmm ?”.

“Apa kau akan datang besok ?”. Tanya tiffany sedikit bergetar, menahan isak tangisnya.

“Aku pasti akan datang panny~ah”. Balas taeyeon dengan suara yang tak kalah bergetarnya dari tiffany.

” Apa yang kau ingin kan setelah ini?”. Tanya tiffany lagi.

“Ehm, mungkin aku ingin bebas…”. Gumam taeyeon pelan. Tiffany menengadahkan kepalanya. Menatap taeyeon dengan bingung.

“Bebas? “. Taeyeon mengangguk, tersenyum sembari mendaratkan satu kecupan pada dahi tiffany.

“Aku ingin menikmati hidupku…”. Gadis itu berujar sedikit menerawang.

Tiffany kembali menudukkan kepalanya. Jantungnya tiba-tiba bergetar. Bukan getaran yang selalu membuatnya nyaman tapi sebuah perasaan yang justru terasa menyudutkannya, membuatnya takut.

“Bagaimana denganmu? Bukankah cita-citamu akan segera terwujud besok? Kau akan menikah panny~ah”. Taeyeon mencoba mencairkan suasana, namun kepala gadis itu justru semakin dalam menunduk. Membuat helaian rambutnya jatuh menutupi wajahnya.

“Panny~ah…??? “. Taeyeon memanggil pelan, menyadari sikap tiffany yang tiba-tiba menjadi diam. Gadis itu menyingkap helaian rambut halus milik tiffany. Memaksakan tiffany untuk menatap kearahnya.

Mata kim taeyeon terlihat membesar saat mendapati mata indah milik tiffany  kini telah ternoda dengan butiran-butiran bening yang dengan pasti terus menetes membasahi wajahnya.

“Aku tak bisa taetae~ah…” Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan. Wajahnya terlihat memerah karena tangis. “Aku tidak bisa berhenti menangis, maaf…”. Tiffany mengingat janjinya pada taeyeon jika ia tidak akan menangis lagi.

Kim taeyeon menghela nafas sesak. Ikut meringis dalam hati meyaksikan isak tangis yang keluar dari gadis disampingnya. Bukannya kim taeyeon tak pernah menangis mendapati dirinya akan kehilangan gadis yang sangat ia cintai. Ia bahkan selalu menangis saat tertidur. Tapi didepan tiffany, ia berusaha tidak menangis.

“Gweanchana,,, tidak apa-apa”. Kim taeyeon mengusap wajah basah tiffany dengan jemarinya. Menghapus airmata milik gadis itu. “Jangan seperti ini panny~ah,,,, jangan menangis dihari bahagia mu, aku rasa kau akan menyesal saat mendapati mata mu membesar seperti alien saat acara mu besok”. Nada canda yang keluar dari kim taeyeon terdengar penuh kegetiran dan kepahitan.

Tiffany mencoba menghalau airmatanya yang kembali ingin menetes. Tapi seperti keran rusak, air itu terus saja mengalir. Ck, ia mengingkari janjinya untuk tak menangis dihadapan gadis itu.

“Aku tak ingin ber-”

“Kajjah,,,, ku antar pulang. Aku rasa siwon oppa pasti khawatir saat mengetahui pengantin wanitanya tidak ada dirumah”. Kim taeyeon terbangun dari duduk. Meraih tangan gadis itu untuk beranjak dari posisinya. Terkesan memaksa.

Tiffany terdiam sejenak masih menundukkan kepalanya. “Peluk aku tae. Jeball peluk aku” Pintanya lirih. Hening sesaat.

Kim taeyeon tak bicara apapun, mendekati gadis itu dan merengkuhnya erat. Mereka telah sepakat untuk tidak melontarkan kata perpisahaan, untuk tidak mencoba terpaku pada masa lalu. Berangan tentang hal yang tak mungkin mereka gapai.

Karena takdir mereka memang harus berakhir seperti ini.

“Aku memang akan menjadi seorang pengantin …”Gadis itu berhenti sejenak, masih memeluk erat punggung kim taeyeon. “tapi, apa gunanya jika bukan kau yang berdiri disampingku”. Tangisnya tertahan saat ia mengatakan hal yang membuat hati nya terasa lebih sakit dari sebelumnya.

Hati taeyeon mencelos mendengar perkataan sederhana dari gadis yang sekarang berada di pelukannya. Gadis yang sebentar lagi tidak akan bisa ia gapai sosoknya. Tidak akan lagi bisa ia kecup dahinya untuk menenangkannya disetiap kekalutan hatinya. Tidak akan lagi bisa ia goda dengan kata-kata manisnya. Karena esok, ditempat sakral itu, dalam alunan melodi lembut, dalam balutan gaun mewah, gadis itu akan mengikat janji dengan seseorang.

Bukan dengan dirinya.

Bukan dengan dirinya yang mencintai gadis itu segenap hatinya, hingga pada akhirnya ia justru harus memutuskan untuk melepaskannya. Bukan pula ia yang seorang pengecut karena tidak berani hanya untuk mempertahankannya atau sekedar membawa gadis itu lari dari kenyataannya yang tak mereka inginkan. Ia, kim taeyeon harus merelakan satu satu nya hal yang paling ia inginkan untuk orang lain.

Ia sudah mencoba, namun hanya titik perpisahanlah yang terlihat didepan mata. Maka tak ada pilihan lagi yang bisa ia pilih. Ia akan tetap berdiri pada pusaran yang sama. Melepaskannya untuk orang lain dan membangun kembali puing-puing kehidupannya yang ia sendiri tak yakin untuk mampu melakukannya.

“Besok,  saat kau berjalan menuju altar, aku rasa kau akan menjadi satu satu nya pengantin tercantik yang pernah aku lihat panny~ah. Dan siwon oppa pasti akan menjadi pengantin pria terberuntung karena bisa memiliki mu”. Tayeon mencoba menenangkan dirinya sendiri.

” Aku tahu, mungkin sekarang sudah terlambat untuk mengatakan hal seperti ini pada mu. Tapi aku rasa ini waktu yang pas untuk mengatakan jika aku benar benar mencintai mu tippany. Dan menurut ku siwon oppa adalah lelaki baik untuk mu”. Kim taeyeon berbisik pelan dalam helain rambut coklat panjang itu. Membiarkan tangis milik gadis itu semakin tumpah tak terkendali. Keduanya menangisi keadaan yang besok sudah tak lagi sama.

“Peluk aku lebih lama lagi, Taeyeon~ah”. Kim taeyeon hanya mengganggukkan kepalanya, mempererat dekapannya pada tubuh tiffany yang terasa lemah.

Kim taeyeon telah berbesar hati merelakannya. Ia tak akan merubah skenario Sang Pencipta yang berjalan. Tidak pula menyalahkan keadaan dirinya yang ternyata sangat mencintai sahabat kecilnya itu. Dan tak akan menyesal telah mencintai Tiffany Hwang.

Di taman itu mereka bertemu untuk pertama kali. Dan ditaman itu pula mereka berpisah tanpa ada kata selamat tinggal yang terucap dari bibir masing-masing.

Esok akan menjadi babak baru untuk mereka didalam kehidupan masing masing. Tiffany, ia akan menjadi seorang pengantin paling sempurna dan kim taeyeon, haaahh….. ia akan menyaksikan gadis yang paling ia cintai mengikat janji dengan orang lain.

Setelah mengantar tiffany, taeyeon tidak memutuskan untuk segera pulang. Ia bahkan enggan untuk kembali ke apartemen miliknya yang menyimpan begitu banyak kenangan mereka berdua. Karena ia terus saja menunduk saat berjalan, maka dari itu ia tidak sengaja menabrak orang lain. Karena merasa bersalah, kim taeyeon segera meminta maaf dan membungkukkan badanya.

” Mianhae aku tidak sengaja”. Kata taeyeon sambil menatap orang yang di tabraknya barusan.

” KAU ????”.

” TAE ????”.

THE END

Annyeeoooooooong *LambaikanTanganAlaMissUniverse

Maap yeh kalo belakangan ini gw sering nongol ngepost FF yang ceritanya makin absurd. Buat yang nanyain kpn FF yg masih TBC dilanjut, gw sendiri juga gatau. Gw ntu pelupa parah, jd sorry2 aja kalo gw udh lupa sama jalan cerita ff yg gw buat sendiri. Dan ntu artinya, gw gatau mau dilanjut apa kaga *BakarKeongRame2
Cuma kalo buat oneshoot, gw banyak cadangan sih. Ampe yg NC juga ada wkwkwkwk

Oiyah gw mau tanya nih kira2 disini ada yg nnton PHANTASIA INA ga ?? Kalo ada bisaaaaa kaliii kita meet up wkwkwkwkw… serius nih, kalo ada yuk lah kita meet up sama Authors – Readers yg lain~~~ jawab di komenan yaah~~~

– Love Yaa~~ Keong –

Posted from WordPress for Android

Advertisements

BEST FRIEND OR ???

image

          ” Terkadang, cinta itu bisa datang kapan pun dan dimana saja. Bahkan dengan sahabat mu sekali pun itu bukan hal yang mustahil untuk terjadi. Ketika cinta itu datang, hanya 1 hal yang bisa kau lakukan. Jaga lah ia….”.

Tiffany berusaha untuk tak tertawa melebihi batas normal ketika sahabatnya, kwon yuri melontarkan sebuah lelucon. Sebenarnya lelucon itu sama sekali tak lucu, namun ekspresi dari yuri saat menceritakannya lah yang membuat tiffany tertawa cekikikan. Beberapa orang yang berpapasan dengan mereka bahkan menyempatkan diri untuk sekedar melirik, merasa penasaran.

“Geumanhae yuwrie~ah. Aku tak mau mendengarnya lagi. Kau membuat perutku sakit”. Tiffany setengah berlari menjauhi yuri yang masih bercerita tentang dooe, puppy lucu berwarna hitam yang disulap yuri menjadi warna yang tidak jelas setelah ia membawanya ke salon. Yuri menyusul tiffany di tengah keramaian saat dirasa gadis itu mulai hilang dari pandangannya.

“Yaahh fanny~ah, aku belum selesai dengan ceritaku. Jangan main lari saja bisa tidak ??”. Yuri sudah di samping tiffany, menyenggol bahu gadis itu pelan untuk menarik perhatiannya. Gadis bermarga Hwang membalas melirik yuri dari sudut matanya. Ia menggeleng dan menutupi kedua telinganya sembari masih menelusuri jalan menuju sekolah.

“Stop it kwon Yuwrie. Aku tidak mau orang-orang menganggapku gila karena tertawa di sepanjang jalan.” Jemarinya yang panjang mencubit lengan yeoja itu dengan pelan. Yuri yang tak sempat menghindari pura-pura merasa kesakitan, membuat tiffany memutar kedua bola matanya dengan malas.

“Jangan lakukan itu lagi tiffany. Appoo~”. Yuri berakting lagi, wajahnya berekspresi seolah-olah ia memang kesakitan. Sedang tiffany tertawa sejenak.

“Jauhkan wajah bodohmu itu yul.”

Yuri hanya mempoutkan bibirnya mendengar ejekan dari tiffany. Lalu sedetik kemudian ia merangkul bahu gadis itu dengan sok mesra.”Kau tak mungkin bisa jauh-jauh dariku, Nona”. Senyum yuri , menunjukan deret gigi rapinya.

Tiffany mengerutkan dahi. “Ck. Dasar kwon yul pabo, kau itu terlalu percaya diri”. Ia menyikut pinggang yuri cukup keras, tapi tak membuat rangkulannya  terlepas. “Gara-gara kau berteriak-teriak seperti orang gila tadi di depan rumahku, aku jadi tak sempat sarapan kwon yuwrie pabo”.

Yuri hanya tertawa mendengar ocehan tiffany, “Aku takut kau terlalu lama mandi dan membuat kita terlambat fanny~ah , makanya aku berteriak seperti itu agar kau cepat selesai”. Yuri menjawab asal.

“So stupid.” Tiffany menggerutu pada dirinya sendiri. Menyalurkan rasa herannya memiliki teman aneh macam Gadis tanned seperti yuri.

Sejak pertemuan pertama mereka di taman itu, keduanya menjadi teman dekat sampai sekarang. Mereka bahkan satu sekolah saat menengah pertama. Yuri dari dulu selalu bertindak konyol dan bodoh sampai tiffany dibuat pusing sendiri. Yuri selalu membuat kekacauan dan tiffany lah yang akan menanganinya. Yuri suka bercerita banyak dan tiffany dengan setia mendengar semua cerita dari sahabat kesayanganya. Mereka seperti melengkapi satu sama lain.

Tiffany mengenal baik sosok yuri dan begitu sebaliknya. Mereka kerap menghabiskan waktu bersama di taman tempat pertama kali mereka bertemu sekedar untuk duduk berdiam menikmati ice cream ataupun saling berbincang sesuatu.

“Jadi kau belum sarapan? Mianhae fanny~ah”.  Yuri menggaruk belakang kepalanya merasa tidak enak, memecah keheningan yang sempat terjadi di antara mereka berdua. Merasa bersalah karena tingkahnya tadi pagi.

Tiffany hanya tertawa. “Bodoh. Jangan memasang wajah seperti itu, kau pikir hanya karena tak sarapan aku akan mati”. Gadis itu gemas, sampai-sampai tak sadar jemarinya bertengger di pipi chubby kwon yuri dan mencubitnya cukup keras. “Ayolah kita akan benar-benar terlambat kalau terus berbicara di sini…”

Yuri tersenyum. Ia melepaskan rangkulannya saat sampai di persimpangan jalan yang ramai. “Hari ini aku tidak bisa pulang bersama yah?  Aku ada latihan dance dengan hyo”.

Tiffany mengangkat bahunya “Tak masalah. Aku bisa pulang sendiri.” Tiffany sedikit jengkel ketika tangan yuri mengacak pelan rambutnya sebelum  berjalan menjauh berlawanan dengan arah yang akan tiffany tuju. Ya, sekarang keduanya memang berbeda sekolah.  Mereka akan berpisah di persimpangan jalan saat berangkat dan bertemu kembali di sini saat usai sekolah. Bukan kah itu romantis ??

Sebenarnya saat kelulusan mereka berencana sekolah di tempat yang sama, namun sayang nilai yuri tak mencukupi untuk bisa masuk ke sekolah yang mereka rencanakan. Dan akhirnya, tiffany masuk dan menjadi murid SHIDAE, sedangkan yuri kini menjadi murid SM school.

.

.

.

Tiffany mendesis ketika merasakan perutnya berbunyi minta di isi. Karena tak tahan lagi ia akhirnya memutuskan untuk pergi ke kantin. Tepat saat tiffany keluar dari kelas ia berpapasan dengan yoon bora, teman sekelasnya.

” Tiff ada yang mencarimu. Dia menunggu di depan gerbang. ”

Tiffany menaikan alisnya bingung, “Siapa?” Tanyanya heran.

Bora mengangkat kedua bahunya ringan. “Sepertinya dari sekolah sebelah kalau ku lihat dari seragamnya. Rambutnya berwarna hitam dan cukup sexy ngahahahaha”. Kata bora sambil tertawa menggoda.

“Aiiisshhh kau ini. Arraseo, gomawo bora~ya”. Melupakan perut laparnya, tiffany berjalan menuju gerbang sekolah. Ia sibuk berpikir kenapa yuri ingin bertemu dengannya di jam sekolah begini. Apa ada sesuatu yang penting? Begitu pikirnya.

Kwon yuri tengah bersandar di samping gerbang ketika tiffany sampai. Senyum lebar langsung terlihat dari yeoja 18 tahun itu ketika melihat kedatangan tiffany. “Ada apa yul? Tumben sekali”. Tanya tiffany langsung setelah ia berdiri didepan yuri.

Tangan yeoja itu menyodorkan beberapa bungkus makanan ke arah tiffany,  “Kau bilang belum sarapan kan? Maka dari itu aku menyempatkan diri untuk membawakanmu ini. Habiskan yaaah”. Yuri tertawa kecil saat tiffany masih menatap bingung kearah bungkusan yang kini berada di tangannya.

“Yaaa!!! Kenapa hanya diam saja fanny~ah ?? Palli nanti keburu masuk dan kau tidak sempat istirahat”. Kata yuri sambil menepuk kepala tiffany pelan.

” Apa kau tidak suka makanannya yah?”. Tanya yuri sambil memandang tiffany.

Tiffany tersadar beberapa detik kemudian lalu menggeleng beberapa kali. “Ani. Aniya yuwrie~ah  ”

“Lalu apa?”. Tanya yuri penasaran.

Tiffany tersenyum. Menarik sudut bibirnya dengan kuat. ” Kau berlebihan sekali sampai membawakan makan siang ke sekolah ku yul. Tapi terima kasih banyak. Aku memang sangat lapar.” Tiffany bisa merasakan ada yang salah dengan wajahnya ketika mengatakan hal itu pada yuri.

“Untuk mu, aku akan melakukan apapun fanny~ah, jadi jika hanya membawakan mu makan siang seperti ini aku rasa itu tidak berlebihan”. Kata yuri dengan senyum tulus miliknya.

” Aku harus segera kembali ke sekolah fanny~ah, Ms. Park bisa menceramahi ku jika aku terlambat masuk kelasnya”.

“Gomawo yuwrie~ah dan hati hati dijalan”. Tiffany masih berdiri di sana hingga punggung yuri tak lagi terlihat.

‘Dan Terimakasih untuk perhatianmu.’

.

.

.

.

.

Tiffany tengah memandangi ice cream di tangannya saat matanya menangkap sosok gadis coklat yang berjalan ke arahnya. Tiffany menaikan alis melihat yeoja itu tertawa kecil dengan pelu di wajah. “Kau terlambat, stupid.” Yuri duduk di samping tiffany ketika gadis itu mengomel dengan gayanya yang seperti biasa. Mengabaikan omelan tiffany, yuri meraih ice cream milik gadis itu yang tinggal separoh dan menjilatnya rakus. Menikmatinya tanpa rasa bersalah.

“Ne, mian fanny~ah, Aku harus mengantar yoong kerumah soo makannya aku telat”.  Yuri menjelaskan panjang lebar di sela jilatanya pada ice cream strowberry milik tiffany.

Sepertinya tiffany cukup percaya dengan alasan yang di katakan yuri barusan.

“Kau seperti tak pernah makan ice cream.” Tiffany mengeluarkan sapu tangan dari saku bajunya, mengusap bibir yuri yang belepotan dengan tak lembut. “Bahkan anak-anak di sana jauh lebih pintar dan tahu cara menikmati benda dingin itu.” Yuri memanyunkan bibir seraya mengalihkan perhatian pada sekelompok anak yang memenuhi area taman dengan sepotong ice cream di tangan mereka. Terdengar gelak tawa dari mereka.

Taman cukup ramai ternyata. Maklum, mungkin karena weekend jadi banyak keluarga yang memilih menghabiskan waktu untuk sekedar jalan-jalan di taman. “Ah fanny~ya apa kau ingat sesuatu ?” Yuri telah kembali menatap gadis itu.

Tiffany menoleh. “Ingat apa?” Ia menaikan alisnya.

Sesaat, tiffany merasa yakin ia melihat seringai kecil di sudut bibir yuri. Belum lagi mata coklatnya kini terlihat mengkilat jahil. “Pita mu yang hilang.” Sontak pikiran tiffany tertuju pada pita miliknya yang selalu ia bawa. Ia tahu arah pembicaraan yuri mengarah pada pertemuan pertama mereka.

“Iya aku masih ingat. Memangnya kenapa?”

Yuri menggeleng pelan. “Tentang janji menjadi pangeran.” Tiffany bisa melihat mata coklat yuri berbinar-binar. Tiffany menelan ludah.

“A-apa?”

“Kalau kau memintaku menjadi pangeranmu sekarang, aku tanpa pikir panjang akan mengiyakan.” Yuri berseru dengan semangatnya.

Tiffany berdehem pelan, mungkin mencoba menghilangkan gugup yang entah kenapa tiba-tiba melandanya. “Kau bicara apa? Kau ini kan yeoja yul. Bagaimana bisa kau menjadi pangeran untuk ku ? .” Ia mencoba berkilah.

“Tapi kan kau sendiri yang bilang pada ku dulu fanny~ah, masa kau lupa ?”. Jelas yuri itu tak mau kalah.

“Oh lupakan.” Tiffany terlihat buru-buru untuk bergegas. “Aku tak ingat pernah memintamu jadi pangeran…” Lalu ia beranjak dengan terburu buru meninggalkan Yuri di bangku taman.

“Mwo ? Mwo ?? Yah…. yah…  jangan pergi fanny~ah…” Tanpa buang waktu yuri bergegas menyusul. “Jangan pura pura lupa, tiffany.” Goda yuri sambil tersenyum jahil dan tidak lupa sedikit mencolek dagu tiffany, persis seperti seorang ahjussi yang tengah mengganggu wanita.

“Diam lah kwon yuwrieee…”. Kesal tiffany sambil memicingkan matanya.

“Arraseo…. arraseo. Oh hey, tapi kenapa wajahmu merah begitu?”

“KWON YUWRIIIEEEE!”. Teriak tiffany kencang sambil berlari mengejar yuri yang telah lari lebih dulu.

.

.

.

“Gweanchana ? Apa kau baik baik saja fanny~ah?” Yuri memandang aneh pada Sahabatnya yang sedari tadi tersenyum sejak turun dari bus. Ia penasaran sekali kenapa tiffany sejak tadi tersenyum seperti orang gila. Yuri  menggaruk kepala belakanganya dengan wajah bingung. “Kau terlihat bahagia sekali hari ini.”

“Tentu saja.” Tiffany menjawab cepat. “Hari ini aku dan yang lain akan menonton pertunjukan Kim Taeyeon. Itu loh pertunjukan yang aku ceritakan beberapa waktu lalu.” Mendengar pernyataan tiffany membuat wajah yuri berubah sebal.

“Aaahh~~~  ku kira ada hal penting. Jadi cuma itu…”. Yuri  segera mengambil langkah meninggalkan tiffany dibelakang. Tiba-tiba hilang selera setelah mengetahui jawaban apa yang diberikan gadis ber eye smile itu. Beberapa minggu yang lalu tiffany memang pernah bercerita ingin sekali menonton pertunjukan musik kakak kelasnya, dan ia rela menabung demi bisa membeli tiketnya.

“Yaah yuwrie~yah  kenapa jalanmu cepat-cepat begitu?”. Tiffany terpaksa menggerakankan kakinya lebih cepat untuk menyusulnya. “Kwon yuri bodoh, jangan bilang kau cemburu..”. Tiffany dengan sengaja menyenggol bahu yuri dengan keras dan untung saja gadis itu tak sampai terjungkal.

“Enak saja.” Yuri mengacak-acak rambut tiffany.

“Sudahlah yul mengaku saja…”. Tiffany tertawa keras. Menikmati sekali menggoda sahabatnya itu.

“Mwo ??? Sudah aku bilang aku tidak fanny~aah “. Tiffany menghindar dan buru-buru berlari kecil menghindari yuri yang siap memukul kening tiffany. Alhasil mereka seperti anak kecil berkejar-kejaran di trotoar jalan yang padat.

“Berhentilah yul aku capek..” Nafas tiffany naik turun dan baru sadar ia menghabiskan separuh perjalanannya ke sekolah dengan berlari. Tangannya berada di kedua lutut berusaha menormalkan deru nafasnya.

“Ne… ne… tiffany…. hmmm…Dasar payah…”. Yuri tertawa mengejek. Sedangkan tiffany menekuk wajah merasa tak terima dengan sindiran gadis itu. Mereka berdua terdiam beberapa saat sebelum kemudian yuri kembali mengatakan sesuatu. “Langit sejak tadi gelap. Mungkin hari ini akan turun hujan.”

Tiffany menatap yuri yang mendongak memperhatikan langit, mau tak mau dirinya juga turut menengadah dan memperhatikan langit di atas sana. Benar, sejak tadi ia bangun tidur tak ada tanda-tanda akan ada sinar matahari yang muncul. Makanya sebelum berangkat tadi sang daddy menyuruhnya untuk membawa payung sekedar jaga-jaga.

“Untung saja aku sudah bawa payung, jadi tak masalah kalau hari ini hujan.” Tiffany berucap dengan bangga. Ia tahu kalau yuri pasti lupa untuk membawa payung.

“Siapa peduli toh cuma hujan. Basah-bahasan sedikit tidak masalah untuk ku.” Jawab yuri  kembali berjalan mendahului tiffany.

“Ckckckckc sepertinya ia sedang sensitif hari ini…”. Yuri  mendengar tiffany tertawa keras di belangkangnya. Ia menggelengkan kepala pelan sebelum sebuah senyum kecil terlihat di sudut bibirnya.

.

.

.

Bukan hal yang aneh jika di setiap sekolah ada murid yang menjadi idola dan ada murid yang menjadi penggemar. Hal itu berlaku juga di sekolah tiffany. Tak perlu jauh-jauh mencari karena sahabat-sahabatnya sendiripun menjadi bagian dari para penggemar siswa-siswa populer. Mungkin ia juga termasuk.

Dari beberapa siswa yang cukup populer di sekolahnya, tiffant sedikit menaruh perhatian pada Kakak satu tingkatnya, Kim Taeyeon.  Siapa yang tak kenal dengan kim taeyeon ? Meskipun bertubuh mungil, tapi itu bukan masalah untuknya. Ia mempunyai suara yang sangat merdu dan tentu saja ia merupakan siswi dengan segudang prestasi.

“Aku tak menyangka akan seramai ini.” Bora temannya itu mendesis kagum saat melihat ke arah gedung yang akan segera menggelar pertunjukan solo kim taeyeon. Yah, di sini lah mereka sekarang setelah jauh-jauh hari memesan tiket supaya bisa melihat kim taeyeon  di pertunjukan musiknya sampai rela membolos agar bisa melihat.

“Taeyeon sunbaenim memang benar benar luar biasa”. Seohyun yang cukup pendiam ikut pula berdecak kagum.

Tiffany tersenyum cukup lebar. Ia juga antusias meski sebenarnya sudah beberapa kali melihat penampilan gadis pendek itu di sekolah ketika tengah berlatih. Tapi meski begitu ia tak akan pernah bosan melihatnya meski berkali-kali. “Tapi sepertinya acara baru akan di mulai sekitar dua atau tiga jam lagi. Kita juga harus mengantri untuk masuk ke dalam.” Matanya bergerak melirik pintu gedung yang masih tertutup dengan sebuah papan petunjuk mengenai jam pertunjukan yang akan berlangsung.

“Bukan masalah. Kita bisa menunggu di sini.” Bora telah duduk di salah bangku panjang kosong dengan senyum lebar. Melambai-lambaikan tangannya.

Tiffany hendak melangkah ke arah bora ketika merasakan merasakan ponsel miliknya bergetar. Ada sebuah pesan masuk.

From: Kwon Yuwrie pabo

Kau benar-benar bolos untuk pertunjukan musik itu, fanny~ah?”

Dengan senyum tipis tiffany cepat-cepat membalas.

To: Kwon Yuwrie pabo

Iya. Kau tahu, yul ?! Di sini ramai sekali.

Tak berapa lama yuri kembali membalas.

From: Kwon Yuwrie pabo

I dont care.

Wajah tiffany berubah jengkel. Dasar yuri bodoh.

Ketika ia hendak membalasnya, satu pesan kembali ia terima.

From: Kwon Yuwrie pabo

Aku harus latihan lagi. Selamat bersenang-senang, fanny~ah.  Cepat pulang kalau pertunjukannya sudah selesai, hari ini sepertinya akan hujan deras. Jangan sampai kau sakit.

Dan Tiffany hanya bisa terpaku menatap layar ponselnya yang masih menyala.

Ia kehilangan kata-kata.

.

.

.

Beberapa kali petir terdengar membelah langit. Hujan turun dengan lebatnya tepat saat tiffany dan teman-temannya mengantri untuk masuk ke dalam gedung setelah menunggu hampir dua jam. Tiffany terpaku sejenak melihat hujan deras di luar sana.

“Yaah!!!! Tiff, kau tidak apa-apa?” Bora bertanya khawatir. Tiffany menggeleng pelan.

“Sepertinya aku ada urusan penting”. Tiffany bersiap pergi. Terlihat terburu-buru.

“Mwo ??? Yah tapi pertunjukannya sudah hampir dimulai tiff. Di luar juga sedang hujan deras, dan kau mau pergi? kau jangan gila.” Bora menahannya. Masih berwajah cemas.

“Tak masalah. Aku pergi dulu.” Bora tak sempat mencegat tiffany karena sudah tiba gilirannya masuk ke dalam gedung pertunjukan. Mungkin setelah acara selesai ia bisa meminta penjelasan.

.

.

.

“Rupanya kau di sini…”

Yuri tersentak kaget. Bola matanya sedikit membesar. “Fanny~ah?!” Ia seperti bertanya pada dirinya sendiri seolah memastikan sosok di depannya memang tiffany temannya sejak kecil.

Tiffany tersenyum, ia melangkah ke arah halte tempat yuri berteduh dari hujan yang deras. Ia meletakan payung yang dirinya bawa lalu mengusap bajunya yang sedikit basah. “Aku menunggumu di persimpangan jalan menuju sekolah yul, tapi kau tidak muncul-muncul. Dan ponsel mu juga tak aktif saat aku coba menghubungi mu…” Ia bercerita panjang lebar. Ada kerutan cemas terlihat di sudut matanya.

Yuri menurunkan pandangannya. “Ponselku mati karena batrenya habis fanny~ah. Lalu Kenapa kau bisa di sini? Pertunjukan itu? Bukankah seharusnya sekarang, kau sedang bersama temanmu bersenang-senang di sana?”. Kwon yuri tak sungkan menunjukan rasa keheranannya. Masih bingung melihat keberadaan Sahabatnya disini. Kenapa gadis itu di sini?

Gadis itu tekekeh pelan. “Iya memang seharusnya aku di sana sekarang. Berteriak-teriak bersama teman temanku melihat pertunjukan kim taeyeon, tapi saat aku ingin masuk, hujan lebat di luar gedung mengingatkanku pada orang bodoh yang lupa membawa payung.” Tiffany menarik sudut bibirnya. Seperti tengah membuat seringai.

Yuri menggaruk kepala belakangnya dengan kerutan di dahi. “Orang bodoh?!” Ia setengah bergumam. “Maksudnya aku?” Lalu dengan nada sedikit tinggi ia berseru seraya menunjuk kearah dirinya sendiri setelah beberapa detik mencerna perkataan tiffany.

Tiffany tertawa. “Siapa lagi?!” ia berkata dengan nada ringan.

“Aku tak bodoh tiffany. Aku hanya kelupaan membawa payung.” Sanggah nya merasa tak terima.

“Itu sama saja, bodoh.”

“Jelas Beda tiffany…”

“Sama saja.”

“Ok, aku mengalah. ” Yuri menyerah. Ia tahu tak akan bisa menang melawan gadis itu. “Tapi terimakasih banyak telah mengkhawatirkan aku sampai-sampai kau melupakan pertunjukan yang sangat kau nantikan itu.” Ekspresi yuri nampak serius.

Gadis itu hanya mematung di tempat tanpa sadar, suasana di antara keduanya tiba-tiba terasa berubah. Beberapa kali tiffany berdehem mencoba menemukan kata-kata tepat serta untuk menghentikan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu dua kali lipat dari biasanya.

“Eh fann —”

WUUSSSHHH…

Tiupan angin cukup kencang yang tiba-tiba datang menerbangkan dedaun coklat serta benda-benda ringan di sekeliling mereka. Keduanya sedikit menundukan wajah agar kedua mata mereka tak kemasukan debu dan hal lain yang berbahaya. Baru setelah angin tak lagi berhembus mereka kembali menegakkan tubuh.

“Oh tidak rambutku…” Yuri dengan jelas mendengar suara jengkel keluar dari mulut tiffany. Ia pun hampir meloloskan tawa ketika melihat rambut gadis itu menjadi berantakan akibat sapuan angin. Bahkan sehelai daun bersarang di rambut coklat terang itu. Namun karena merasa tak tega melihat tiffany kesusaha  merapikan rambutnya, ia akhirnya turut membantu menyingkarkan daun di sana.

“Sial….aku pasti seperti nenek sihir sekarang.” Ia terus menggerutu sembari sibuk dengan rambutnya. “Kau membawa sisir, yul?”

Yuri terkekeh geli. “Jangan bercanda tiffany hwang, mana mungkin aku bawa sisir.”

“Menyebalkan sekali…”

Gadis itu terdiam mengamati tiffany sejenak. “Ah~ fanny~ah , kau bawa pita berhargamu itu?” Tiffany berhenti dari aktifitasnya, ia menatap yuri tak mengerti sebelum mengangguk pelan. “Coba berikan padaku..” Minta yuri menjulurkan tangan.

Tiffany tak banyak tanya. Ia merogoh pitanya di dalam tas dan menyerahkannya pada yuri. Gadis itu menerimanya, ia berjalan dan berdiri di belakang gadis yang lebih pendek dari nya.

“Kau mau apa,  yul ?”. Tiffany mendadak panik dengan kening berkerut bingung.

“Sudah diamlah sebentar…”. Yuri meraih rambut panjang tiffany . Menaikannya lalu melilitnya dengan pita tersebut secara bertahap dan mengikatnya cukup kencang. “Selesai. Pitamu memang sangat berguna. Meskipun tidak rapi, tapi lumayanlah daripada berantakan seperti tadi.” Yuri tersenyum puas dengan hasil karyanya.

Tangan tiffany bergerak meraih rambutnya yang kini terkucir kuda. Ia lalu melirik yuri. “Apa aku terlihat cantik? Dan kau tidak menguncir rambut mu juga? Aku bisa membantu mu”.

Yuri memutar bola matanya. “Sudahlah, ayo kita pulang. Hujan sepertinya tak akan reda…” Gadis tanned itu meraih payung tiffany dan mereka berdua keluar dari halte. Hujan langsung menyergap payung yang mereka gunakan.

Mereka berdua berjalan dalam diam untuk beberapa saat. Sibuk dengan pikiran masing-masing sebelum kemudian yuri menyadari sesuatu.

“Fanny~ah, merapatlah. Nanti kau bisa kebasahan…”

“Eh?”. Tiffany tak sempat menanggapi ketika sebelah tangan yuri yang bebas terjulur dan meraih bahu gadis itu. Menariknya lebih dekat pada tubuh yuri. Seperti memeluknya atau memang memeluknya.

“Nah seperti ini lebih baik.” Gadis itu tersenyum pada tiffany sejenak sembari masih melangkah di antara hujan yang lebat.

Sempat tiffany melirik dan mendapati setengah bagian baju yuri basah kuyup, tak mendapat keteduhan sepenuhnya dari payung yang ia bawa. Angin begitu kencang hingga sepertinya yuri membagi setengah tempatnya agar ia tak terkena air hujan. Tiffany meringis, merasa dirinya teristimewakan. Serasa menjadi sosok yang begitu penting bagi yuri. Ia tak tahu apa yang melanda dirinya, ia hanya bisa jujur bahwa ia sangat menikmati suasana seperti ini. Sangat.

Apa ia telah jatuh cinta pada sahabat kkab nya ini ? Ia merasakan debaran aneh setiap kali yuri melakukan yang menurutnya terlalu berlebihan untuknya. Seperti saat ini, ia melihat yuri yang bahkan setengah darinya sudah basah terkena air. Tapi yuri terlihat tidak perduli.

” Yuwrie~aah… kenapa kau hanya memayungi ku saja ? Lihat, baju mu menjadi basah”.

” Gweanchana fanny~ah,,, asal kau tidak kehujanan aku akan baik2 saja”. Balas yuri sambil terus berjalan.

Sekali lagi, yuri membuatnya merasa sangat special. Wajah putihnya seketika merona mendengar perkataan yuri barusan. Ia selalu merasa bahagia jika bersama gadis tanned sahabatnya.

“Fanny~ah aku ingin mengatakan sesuatu. Apa kau mau mendengarnya?”. Tanya yuri masih terus berjalan dan tentu saja merangkul bahu tiffany.

” Mwo ?? Katakan saja. Kenapa serius sekali?”. Balas tiffany yang ntah kenapa sangat penasaran dengan kata kata yang akan yuri katakan.

” Aku menyukai seseorang”. Jawab yuri pelan.

THE END

Anyyeooooooooong chingu~yaaaa…..
Cuma mau bilang, makasih yah buat yg masih mau baca sama tinggalin komen di melon~~~…..

Oiyah buat My Prend yang jauh dimata tapi dekat di hati *asyiiiiiiqqqq , sorry yah kalo semisal ff nya kurang greget, Kurang nampol, pokonya banyak kurangnya, sekali lg gw minta maaf yeehh kaa~~~

P.S : Hoy cepet sembuh ya~ C
Semoga penyakitnya cepet di angkat sama Allah S.W.T
Amiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnn ☺☺☺☺☺

– Love Yaaaa~~~ Keong –

Posted from WordPress for Android

ISENG

image

Ruangan mewah itu hening. Bahkan suara binatang malam diluar sana bisa terdengar di panca indera dengan mudahnya.

Dua orang dewasa itu hanya saling duduk terdiam tanpa berusaha untuk memandangi sang lawan. Yeoja berkulit coklat itu menghembuskan nafas sesaknya. Entah untuk ke berapa kalinya. Ia memijit keningnya pelan.

“Jadi, siapa yeoja itu?” nada suaranya berat dan dingin. Tak seperti ucapannya selama lima tahun terakhir ini.

Kwon Yuri. Dia bahkan harus bersusah payah hanya untuk mengeluarkan beberapa deret kata itu. Kepalanya terasa pecah jika harus mengingat kejadian beberapa menit lalu.

Wanita cantik dengan rambut honey blonde itu masih menundukkan kepalanya. Memandangi jemari-jemari tangannya yang saling bertaut. Meremas. Mencoba mengurangi kegugupan yang melandanya.

“Jessica jawab aku.” Hilangnya panggilan sayang dan meningginya suara yuri , menandakan bahwa yeoja itu memang tengah dalam emosi. Yuri adalah orang dengan tipikal hangat dan murah senyum, tapi kali ini jessica menyadarinya bahwa yuri tengah menahan marah.

“Dia Tiffany, teman kuliahku.” Wanita itu menyahut lirih tanpa berniat memandangi wajah lawan bicaranya.

Yuri meremas tangannya kuat-kuat. Ia melirik jessica dengan ekor matanya. Apa ini yang biasa jessica lakukan jika ia tengah tak berada dirumah?

“Benarkah? Apa itu yang namanya teman? Bermesraan dengan kekasih orang lain, begitu?”. Yuri mencibir marah. Merasa jengah dengan semuanya.

Kenapa niat baik yuri yang membiarkan kekasihnya untuk meneruskan kuliah justru menjadi bumerang sendiri bagi dirinya?

“Aku mengijinkanmu kuliah bukan untuk berselingkuh dibelakangku, sica~ah.” wajah tan itu memerah dikuasi emosi. Merasa semakin kalap karena jessica tak juga menatap kearahnya. Baru beberapa detik berlalu, akhirnya kedua mata itu saling bertemu.

“Aku tidak berselingkuh.”. Jessica menyahut tegas.

Yuri tersenyum meremehkan. “Apa kau pikir aku buta? Jelas-jelas aku melihat perbuatan memalukan yang kalian lakukan. Dab Kau masih ingin menyangkalnya ?”. Yuri hampir saja menggebrak meja didepannya. Ia betul-betul marah kali ini. Yeoja yang ia sangat cintai dan ia percaya kini justru bermain api dibelakangnya.

“Berhenti menyalahkanku, yul “. Jessica beranjak bangun dari duduknya. Ia menatap marah pada yeoja bermata coklat itu.

“Apa kau bilang?! Berhenti menyalahkanmu? Aku tak bodoh, Jessica.” Dalam hidupnya, yuri tak pernah membayangkan kisah asmaranya yang lima tahun dibinanya akan menuai kejadian seperti ini.

“Berpikirlah, siapa yang egois dalam hubungan ini? Kau yul. Kau !”. Jessica menatap yuri dengan sengit.

Perkataan jessica benar-benar menyulut emosinya. Memperparah keadaan yang memang telah parah. “Jangan memutar balikkan fakta. Selama ini aku percaya padamu dan sekarang dengan mudahnya kau merusak segalanya. Mengkhianatiku dengan teman wanita mu huh ?”

“Kamu tak pernah ada yul. Kemana kau saat aku butuh? Kemana kau saat aku sendiri. Tak ada. NEVER Kwon yuri. Hubungan ini hanya terasa kosong. Kau terlalu sibuk dengan duniamu.” Jessica mengusap kasar wajahnya yang kini telah basah.

Yuri tersenyum sinis . “Aku selalu ada. Hanya dirimu saja yang menganggapku seperti tak pernah bisa menolongmu. Aku tahu, dari dulu kau masih menganggapku yuri yang  bodoh.”

Jessica menutup rapat bibirnya.

“Aku memang bodoh, jessica. Bodoh karena telah mencintaimu, bodoh karena percaya padamu”. Yuri memelankan suaranya. Kali ini ia menatap kosong kaca meja didepannya yang tengah memantulkan bayangan jessica yang masih berdiri kaku.

Wanita itu tahu bahwa dirinya lah yang memang bersalah disini. Tapi sisi lain egonya tak ingin menyerah begitu saja. Yuri juga salah karena tak pernah ada waktu untuk dirinya. Yeoja itu terlampau sering tak berada dirumah.

“Jadi, apa kamu masih mencintaiku?”. Yuri berkata lirih kali ini. Ia masih menunduk menunggu jawaban terburuk yang akan diterimanya.

Jessica masih bisu. “Atau harusnya aku mengganti pertanyaanku. Apa kamu pernah mencintaiku?” Yuri mengangkat wajahnya. Apa dulu dirinya salah memutuskan untuk memilih jessica dan meninggalkan victoria ?

“Aku tak pernah mencintaimu”. Jessica berucap datar.

Sudah Yuri duga. Kenapa selama ini ia bisa bersikap bodoh?

“Ok, baiklah. Jadi apa maumu?”. Yuri memandang jessica dengan beda. Seperti bukan yuri yang selalu memandangnya penuh dengan cinta.

“Hentikan semua ini. Aku sudah tidak tahan lagi”. Balas jessica datar.

” Arraseo Jessica “.

Yuri masuk kedalam kamar dan keluar dengan  satu koper besar ditangan kirinya. Ia berhenti tepat didepan gadis yang sudah 5 tahun menemaninya.

” Aku tau mungkin kau tak pernah benar benar serius dalam hubungan ini dan disini hanya aku yang mencintai mu.
Setelah ini kau bisa melakukan apapun dengan selingkuhanmu”. Kata yuri sambil berlalu dan pergi begitu saja dari hadapan jessica.

“Kau memang brengsek yul , itulah sebabnya aku lebih memilih tiffany. Dia yeoja yang mengerti bagaimananya diriku. Tidak sepertimu…”

“Tapi setidaknya aku tak pernah berkhianat”. Yuri membalas tajam. Ruangan itu hanya dipenuh amarah dan emosi yang mereka berdua miliki. Terasa panas dan sesak meski ruangan itu luas dengan beberapa pendingin udara.

“Aku memang telah mengkhianatimu. Bahkan sebelum hubungan inipun aku sudah berkhianat.”

Biasanya rumah besar itu terdapat banyak pelayan yang berkeliaran, tapi kali ini terlihat sepi. Mereka seakan tak ingin ikut campur dengan masalah yang terjadi. Cukup yuri dan jessica saja.

“Mulai sekarang, aku tidak akan mengganggu hubungan kalian berdua. Dan aku harap, kau tidak akan berkhianat dengan kekasih baru mu seperti yang kau lalukan padaku”.

Sebelum yuri benar benar pergi dari rumah yang sebenarnya adalah miliknya sendiri, ia kembali mengatakan sesuatu, ” Ah atau kau harus berdoa karena setau ku, tiffany selingkuhan mu itu sudah memiliki kekasih dan kau tahu ? Kim taeyeon bukan orang yang akan dengan mudahnya melepaskan kekasihnya untuk orang lain”. Yuri kembali tersenyum, namun bukan senyuman seperti biasanya.

Jessica memandang benci yuri yang sekarang tengah tersenyum seperti meremehkan dirinya. Yaah,,, jessica sadar jika tiffany memang mempunyai seorang kekasih dan mereka bahkan hampir menikah.

“Selamat tinggal, Jessica.”

“OKE CUT. EKSPRESI DAN CHEMISTRY KALIAN BENAR-BENAR SANGAT BAGUS. WELL DONE”.

Yeaahh… ternyata Yuri dan Jessica tengah terlibat shooting drama dengan judul,

  ” KEKASIHKU YANG BERKHIANAT”.

The end

Annyeooooooong~

Ooyy oooyyy oooyy…

Keoooong FF lu ko gini amat sih ? Apaan dah segala sinetron dibuat cerita. Cast nya yulsic lagi ?????? Ckckckckc

Kalo ada yg komen kaya gitu, gw cuma mau bilang, maafkand keong yaahh teman temaaann~~

Semuanya berawal dr sinetron di Tipi Ikan terbang yang kalo mulai tepat jam 12 siang. Yang kalo ceritanya ga jauh dr berantem, rebutan harta, sama mati ketabrak. Itu semua krn temen kerjaan  gw demeeeeeeennn bgt sama sinetron model begitu. Yaahh… mau ga mau, ikhlas ga ikhlas, gw ikut nnton meskipun ga ampe abis sih ngahahahaha…..

Itu ajasih yg mau gw bahas. Sekali lagi maaf yak kalo ceritanya ga banget 😂😂😂😂

– Love yaaaa~~ keong –

Posted from WordPress for Android

Sister in love

image

Gadis muda itu melewati dirinya begitu saja. Tak ada sapaan maupun senyuman hangat yang biasa ia perlihatkan. Kwon yuri menghela nafas pendek. Pikirannya terasa berat dan penuh. Jessica  berhasil membuatnya seperti orang frustasi akhir-akhir ini. Namun yuri bukan orang yang mudah terpancing. Ia pintar menyembunyikan ekspresi di balik wajah cantiknya. Ia pandai menahan emosi dan keinginan hatinya.

“Tadi Appa mencarimu..” Suaranya yang khas dan terdengar lembut menghentikan lajunya. Gadis blonde itu tak menoleh maupun menyahuti. Ia hanya berdiri di sana dalam diam. ” …dia keluar kota tadi pagi.”. Yuri putuskan untuk kembali bersuara, terdengar sangat rendah di telinga jessica.

“Oh, baiklah…”. Hanya kata itu yang jessica lontarkan dan setelahnya ia kembali berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Meninggalkan yuri yang kini bersandar di ujung tangga. Yeoja berkulit tanned itu tau jelas kenapa dan bagaimana gadis itu berubah sikap kepadanya. Lebih dingin dan tak pernah lagi mengajak dirinya bicara jika masalahnya tak benar-benar penting.

Hal itu bermula ketika yuri lagi-lagi ‘menolak’ jessica. Itu sudah kesekian kalinya dan mungkin saja gadis itu telah jengah dengan sikap yuri yang selalu saja menghindar. Yuri juga tak tahu. Ia menyayangi jessica, tentu saja. Ia ingin memiliki gadis itu. Seutuhnya. Namun terkadang ada sesuatu yang menahannya. Sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.

Yuri tumbuh di keluarga Jung. Kepala keluarganya, Alex jung, adalah seorang pebisnis dan pedagang yang sukses. Choi hyunjung istrinya adalah desainer di kota Paris. Yuri seorang yatim piatu dan berumur sepuluh tahun ketika diangkat anak oleh keluarga Jung. Yuri tumbuh besar bersama dengan anak-anak jung yang lain. Ada jessica serta krystal, anak termuda di keluarga jung. Yuri dan jessica berbeda usia dimana yuri yang lebih tua 2 tahun dan itu artinya perbedaan usianya dengan krystal 4 tahun.

Jessica, ia gadis sembilan belas tahun. Cantik, populer dan baik hati. Jessica lebih ramah ketimbang krystal adik kandungnya. Tapi baby jung juga sangat menyayangi yuri bahkan tak jarang ia bersikap manja pada sosok gadis tinggi tersebut. Jessica juga termasuk gadis pintar. Menguasai beberapa alat musik, menjadi ketua club drama dan bercita-cita menjadi seorang pengusaha sukses. Yuri bahkan ingat bagaimana dulu jessica bercerita ingin menjadi seseorang yang bisa seperti appa nya. Lalu ia juga ingat, ketika tengah malam sering kali gadis cilik itu menyelinap masuk ke kamar Yuri dan meminta mengantarnya ke ruang perpustakan pribadi Appanya hanya untuk mengambil beberapa buku tentang bisnis.

Dan ketika waktu terus berjalan, Yuri mulai memandang jessica dengan cara berbeda. Bukan lagi seperti adik yang selalu ingin ia jaga. Ia merasakan perasaan menggebu yang aneh ketika di hadapkan dengan gadis itu. Ia mulai merasa tak nyaman pada dirinya sendiri ketika melakukan hal yang berhubungan dengan gadis berparas dingin tersebut.

Ia tak tahu.

“Perlu ku antar?” Suara Yuri yang husky menghentikan hening yang sempat terjadi di meja makan. Hanya ada mereka berdua saja di sana.

Jessica berhenti mengiris rotinya. Ia melirik ke arah Yuri sejenak dan menggeleng. “Tidak perlu.” Lalu kembali sibuk dengan sarapan paginya.

Lagi. Yuri kembali menarik nafas. Tangannya sejak tadi terkepal di atas meja, tak bergerak sedikitpun menyentuh makanan yang sudah disiapkan oleh para pelayan. Ia benci ini. Sikap jessica yang seperti ini benar-benar menyiksanya. Namun disisi lain, yuri tak tahu harus berbuat apa pada gadis itu. Dan sampai kapan jessica akan terus mendiamkannya seperti ini? Tak tahukah ia begitu tersiksa dengan sikapnya?

“Aku berangkat dulu.” Tanpa memandang ke arah Yuri, jessica mendorong kursinya ke belakang. Meraih tasnya dan bergegas pergi tanpa kata lain yang terucap. Biasanya, jessica lah yang membujuk yuri untuk mengantarnya ke sekolah tapi sekarang, berdekatan dengan gadis tinggi itu pun  seperti terlihat enggan.

Saat ulang tahun jessica yang ke sembilan belas beberapa bulan lalu, tanpa yuri duga, gadis itu mengutarakan perasaannya. Yuri tak tahu harus bagaimana ketika sebenarnya ia juga merasakan hal sama. Tak ada jawaban yang ia berikan waktu itu, hanya mengusap rambut jessica lalu memeluk tubuh sang gadis. Sejak saat itu jessica seolah terus mendorongnya bahkan tak jarang seperti ‘menawarkan’ tubuhnya bagi yuri. Semua itu memusingkan yuri.

“Ada apa, Yul ?”. Yoojin, manager di perusahaan Jung berhenti mengecek berkas berkas yang telah ditanda tangani oleh yuri . Ia melangkah mendekati Yuri yang tengah beristirahat dan menyenderkan kepalnya dibelakang sofa.  “…wajahmu akhir-akhir ini terlihat begitu suram.”. Lelaki itu melepaskan tumpukan kertas kertas tersebut , lalu duduk di samping yeoja tanned itu.

Yuri tak serta-merta menjawab. Ia sibuk menerawang. “Aku beberapa hari ini tak melihat Nona jessica berkunjung ke sini . Padahal ia tak pernah absen membawakan mu makanan kemari. Terjadi sesuatu diantara kalian?” Yoojin melanjutkan dan tebakannya memang benar. Hubungan yuri dan jessica sedang tak baik sekarang.

Yuri menghela nafas. “Jessica marah padaku..”. Katanya begitu pelan. Seperti hanya berbicara pada dirinya sendiri. Namun Namja tampan itu masih sempat mendengarnya.

“Marah? Nona jessica marah padamu?” Bahkan ia bertanya seolah tak percaya. Memang, jika melihat kedekatan dua orang itu dan bagaimana jessica memperlakukan yuri, maka tak akan ada yang percaya begitu saja jika anak boss sampai bisa marah pada yuri. “..memang ada apa, Yul ? Kau melakukan hal buruk?”

Yuri menghembuskan nafasnya, mencoba mengusir ke gelisahanya. Garis mata yeoja itu tak setegas biasanya. Hanya saja rahangnya terlihat mengeras. “Ya buruk, sangat buruk.”Ia menyahuti datar.

“Buruk karena aku jatuh cinta padanya.”. Bisiknya pelan dan tidak dapat didengar oleh soe yoojin.

“Kau sudah minta maaf?” Yuri menggeleng pelan menjawabnya. “…mintalah maaf. Nona jessica adalah orang yang baik. Ia pasti akan memaafkanmu yul.”. Yoojin menepuk pundak yuri memberikan semangat.

Bukan maaf yang gadis itu inginkan darinya. Yuri tahu betul.

“Ya, akan ku coba.”

Yuri duduk tak tenang di sofa ruang tengah. Arloji miliknya sudah menunjuk ke angka sebelas malam, namun sampai sekarang jessica  sama sekali belum kembali dari sekolahnya. Ia meremas tangannya kuat-kuat, gadis itu bertingkah di luar batas kewajaran. Yuri tak bisa mendiamkannya saja.

Saat ia beranjak untuk meraih kunci mobil, ponsel miliknya bergetar. Anda panggilan masuk dari nomor jessica. Ia sedikit terkejut namun tanpa buang waktu yuri segera mengangkatnya. Suara begitu bising langsung menerjang pendengarannya. “Kau dimana sekarang?” Nada yang ia gunakan begitu tegas. Terdengar menahan emosi.

“Maaf aku Tiffany, teman jessie”. Suara dari seorang gadis di sana terdengar kebingungan. “…kau Jung yuri kan ? Bisakah kau menjemputnya di bar gangnam park ? Ia mabuk dan aku kesusahan membawanya pulang.” Yuri meremas ponselnya kuat-kuat. Kali ini ia benar-benar marah. Jessica sudah keterlaluan.

“Baiklah, aku segera ke sana.” Yuri mematikan ponselnya lalu meraih kunci mobil dan melangkah cepat meninggalkan kediaman Jung.

Yuri sampai di sana beberapa menit kemudian. Ia mengemudi seperti orang kesetanan dan untungnya bisa sampai dengan selamat. Saat ia masuk ke dalam bar yang ditunjukan Tiffany, yuri mendapati jessica duduk di salah satu sofa. Dengan langkah cepat yeoja itu menghampirinya.

“Aku akan membawanya pulang..”. Tiffany sedikit terkejut ketika melihat sosok yuri, namun ia hanya mengangguk dan membiarkan gadis berambut hitam  itu menghampiri jessica. Berusaha menggendongnya.

Plak.

Tamparan itu menghentikan yuri. Ia menegakan diri dan menatap ke arah  gadis yang baru saja menamparnya. “Untuk apa kau disini? Aku bisa pulang sendiri. Pergilah…”. Jessica berusaha mendudukan dirinya susah payah. Matanya memerah setengah mabuk.

Kwon yuri mendesah keras. Tamparan jessica yang berbekas bahkan seperti tak ia rasakan.”Pulanglah. Appa tak akan suka melihatmu seperti ini…” Ia berkata datar. Dan sekali lagi, meraih tubuh jessica. Gadis itu meronta dalam gendongannya. Memukul yuri  dengan tangannya secara brutal. Yuri tak bereaksi, ia hanya berjalan pergi setelah mengucapkan terimakasih singkat pada tiffany.

” Jadi itu gadis yang dimaksud jessie ? Pantas saja ia begitu tergila – gila. Selera jessie sekali kekeke”. Tawa tiffany setelah kepergian yuri yang membawa jessica.

Pukulan Jessica mulai melemah dan terhenti. Gadis itu kini menangis di bahu yuri. Memprihatinkan. “Turunkan aku…” .Suaranya begitu serak di sela tangisnya. Yuri tak bergeming dan masih berjalan menuju mobilnya yang terparkir. Ia mendudukan jessica di dekat kursi pengemudi dan bergegas melajukan mobil menuju rumah mereka.

Tak ada yang bicara selama perjalanan. Hanya isakan dari jessica yang sesekali terdengar. Bahkan ketika yuri mengendong jessica menuju kamarnya, gadis itu masih menangis.

“Akan aku panggilkan imo..”. Yuri meletakan jessica di atas tempat tidurnya. Ketika ia hendak pergi, gadis itu meraih ujung jaket yuri dan menahannya.

“Tak perlu…”. Katanya lirih dengan wajah jatuh tertunduk.

Yuri melepaskan tangan jessica dari jaketnya. “Kau harus membersihkan tubuhmu..”. Yuri berucap datar lalu melangkah kembali. Bersiap membuka pintu.

“AKU BILANG TIDAK PERLU…”

Prankkk

Pecahan kaca dari vas bunga yang Jessica lempar berserakan di atas lantai. Yuri berhenti. Diam. Nafasnya naik-turun. Kepalanya terasa berputar, ia akhirnya membalikan tubuh dan kembali berjalan mendekati gadis rapuh itu. Gadis itu memeluk kedua lututnya erat-erat. Bahunya bergetar hebat. Ia menyembunyikan wajahnya di sana.

Ranjang jessica sedikit bergerak ketika yuri duduk. Lengannya yang kokoh meraih gadis itu dan memeluknya. Ketika tangis jessica tak kunjung mereda ia semakin mengeratkan tangannya memeluk gadis itu. “Maafkan aku…”. Bisiknya lirih dengan suara begitu kecil. Jemari tangan jessica meremat kaos depan yuri hingga kuku-kuku panjangnya terasa ingin merobeknya.

“Katakan padaku…”. Gadis blonde itu  akhirnya mengangkat wajah. Airmata mengotori kulit putihnya, sesekali terlihat jatuh dari sudut matanya. “…kau juga menginginkanku seperti aku menginginkanmu, kan? Katakan yul, aku mohon…” Nafasnya memburu. Ia memandang yuri penuh harap.

Gadis itu hanya diam, membuat gadis didepanya menggertakan gigi-giginya marah. Geram. “Apa yang kau pikirkan, Yuri~ah ?” Gadis itu mendorong tubuh yuri kuat-kuat hingga terhempas di atas tempat tidur. Ia menindih Yuri. Matanya berkilat menahan emosi. “…apa yang membuatmu takut? Katakan padaku, jangan diam saja!!!”. Ia meninggikan suaranya. Tak peduli jika ada orang lain yang mungkin saja mendengarnya.

Yuri menatap jessica dengan mata coklatnya tenang. Jari-jari panjangnya menyentuh leher jessica  lalu naik ke wajahnya dan menghapus airmata di sana. “Kita tidak bisa, sica~ah..” Ia berkata pelan. Seolah ingin memupuskan segala harapan gadis itu kepadanya. Bukan. Ia sama sekali tak ingin mengatakan hal tersebut. Namun bibirnya seolah tak bisa menemukan kata-kata yang tepat. “…kau adikku.”

Jessica berdecak keras. Jelas sekali marah. “Kau masih menganggapku gadis cilik yang perlu selalu kau jaga, Huh?” Ia merasa tak terima. “…buka matamu, Jung Yuri. Ah ani, kwon yuri. Aku bukan lagi jessica kecil yang menenteng boneka kemana-mana, bukan jessica yang menangis semalaman saat kau harus ikut pergi dengan Appa. Aku sud-”

“Bukan itu..”. Yuri menarik tangan jessica perlahan dan menyingkirkan tubuh gadis itu dari atas tubuhnya. Gadis itu bangun, masih menahan tangan jessica. “…mengertilah sica~ah .” Bisiknya dengan serak.

Jessica menarik tangannya dengan kasar. “Apa yang harus ku mengerti? Kau bahkan tak pernah memberitahuku alasan kenapa kau menolakku..” Ia mencengkram rambutnya frustasi.

“Aku tak pernah menolakmu..”

Gadis itu memandangnya tak mengerti. “Lalu apa?”

Yuri kembali menunduk menyembunyikan wajahnya. “Aku tak tahu..” Suaranya nyaris tak terdengar. “…aku bingung.” Jessica beringsut mendekati lawan bicaranya. Tangannya terjulur dan menyentuh pipi  yuri. Ia mendesah pelan.

“Aku bukan anak kecil lagi, Yul..” Ia bergumam. Kali ini lengannya melingkar di leher gadis itu. “..berhenti membuat semuanya menjadi rumit.” Ia memberi ciuman kecil di wajah yuri. “…Appa bahkan tak melarangku saat aku mengatakan ingin menjadikan mu pendamping ku. Kelak…”. Gadis itu tersenyum kecil. Yuri memandangnya dan menyingkarkan anak rambut yang jatuh di dahi gadisnya.

Kelopak matanya berkedip pelan. Bola mata coklat itu  memandang seolah menelanjangi jessica. “Sica..” Katanya dengan nada menyerah.

“Ku mohon…” Bibir gadis itu bergerak pelan dari tulang pipi yuri lalu turun di rahang bawahnya. “..kali ini saja, yul.”

Ia mengepalkan tangannya ketika jessica mencium bibirnya dengan gerakan pelan lalu semakin menuntut ketika tidak mendapat balasan. Bukan ia tak ingin. Ia hanya takut kehilangan kendali atas dirinya.

Rasa alkohol yang jessica minum bahkan kini terkecap di mulutnya. Bibir lembut gadis itu tak henti melumat bibirnya dengan gerakan terlatih. Yuri mengeram dalam hati.

“Cukup Jessica..”. Yuri mendorong tubuh gadis itu pelan. Jessica memandangnya dengan mata berkaca. “..kau lelah. Tidurlah.” Ia menarik lengan gadis itu dan menindurkannya. Si blonde tak mengeluarkan satu katapun pada gadis itu dan tak menolak ketika yuri memeluknya. Ia memejamkan mata, merindukan aroma mint yang menguar dari tubuh gadis yang sangat dicintai itu.

Dan tak terasa airmata kembali menetes di sela matanya yang tertutup.

“Selamat malam, jessica…”

Tak ada yang berubah sejak kejadian beberapa hari lalu. Jessica masih bersikap acuh tak acuh pada yuri. Selalu terlihat menghindari gadis itu di setiap kali ada kesempatan mereka bersama. Bahkan ketika mereka duduk bersebelahan dalam pesawat saat akan mengunjungi sang eomma di Paris, jessica sama sekali tak mengajak yuri bicara.

Sedikit banyak Appa dan orang-orang yang tinggal di mansion jung menyadari keanehan hubungan dua orang itu. Ketika mereka kembali dari Paris pun hubungan mereka justru semakin terlihat merenggang.

“Kau dan jessie baik-baik saja?” Alex jung melipat koran miliknya dan meletakan di atas meja. Ia melirik yuri yang baru saja datang dari perusahaan. “…anak itu akhir-akhir ini terlihat lebih pendiam dan jarang mengajakmu berbicara. Kalian ada masalah?”

Yuri menarik nafas panjang. Ia menyandarkan tubuhnya di punggung sofa. Tiba-tiba merasa lelah. “Gadis itu, maksud ku sica, ia  marah padaku..” sahutnya pelan. Sebenarnya tak terlalu suka membahas permasalahan yang di hadapinya dengan sang Ayah.

“Apa karena perasaan anak itu padamu, Yul, hmmm ?”. Tanya sang appa lembut.

Yeoja cantik itu melirik sang Ayah. Ia mengatupkan rahangnya kuat-kuat. “Aku hanya takut Appa. Jessica masih terlalu muda…”

Lelaki tua itu tertawa kecil. Ia menikmati secangkir kopi hitamnya sebelum menyahuti ucapan anak gadis kesayanganya. “Kau selalu saja memikirkan sesuatu secara berlebihan, anak ku. Lagi pula kalian hanya berbeda 2 tahun yul.” Yuri hanya terdiam mendengar ucapan Sang Appa. “..tak ada yang melarang jika kau juga memiliki perasaan yang sama terhadap Jessica. Jadi berhentilah menyiksa diri.”

“Tapi Appa…”

“Tuan…”

Seorang pelayan senior berlari-lari kecil menghampiri keduanya. Wajahnya terlihat cemas.

“Ada apa?” Kepala keluarga itu menyahuti dengan pelan.

“Tadi sekolah menelpon, mengatakan Nona Jessica berkelahi dengan seniornya di sekolah…” Pelayan itu menjelaskan dengan terburu-buru. Alex jung mendesah pelan.

“Anak itu..” Katanya lelah. Ia memandang ke arah yuri yang nampak diam di tempatnya. “..kau tolong urusi dia, Yul. Aku masih harus ke pertemuan dengan Mr. Kim hari ini.” Pintanya

Yuri menatap sang Appa lalu mengangguk singkat.

“Ne appa…. ”

“Maaf sekali lagi, Miss Narsya”. Yuri membungkuk pada wanita cantik itu. Kepala Sekolah jessica. Miss Narsya hanya tersenyum menganggukkan kepalanya maklum. “..saya permisi dulu.” Yuri lalu menarik diri dan bergegas keluar dari ruang Kepala Sekolah.

Berkali-kali ia menghela nafas untuk menenangkan diri. Salah. Sangat salah jika jessica menggunakan cara seperti ini. Gadis itu tak bisa terus-terus menghancurkan hidupnya sendiri. Dan yuri juga tak bisa tinggal diam.

Yuri berdiri tegak dengan tangan terlipat. Mata brown itu terus menghindari yuri dan mereka sama sekali belum bicara sejak meninggalkan sekolah. Sudut bibir jessica sobek dengan satu titik darah terlihat di sana. Seragamnya juga sobek dan kotor penuh debu. Rambut coklat muda yang biasanya nampak indah kini kusut berantakan. Ada beberapa lebam samar di wajahnya.

“Bisakah kau hentikan ini?” Yuri berucap dengan suara tenang. “…kau membuatku lelah sica~ah.” Ia mengepalkan tanganya, ingin sekali memukul sesuatu hingga emosinya hilang.

Gadis itu mendengus geli. “Kau lelah? Lalu bagaimana dengan aku?” Intonasinya meninggi. Nadanya menyindir. “…kau yang membuat rumit semua ini, kwon yuri.” Kini mata brown itu melirik sinis.

Yuri mendesah. Ia berjalan kearah jessica dan menarik lengan gadis itu, membawanya masuk kedalam kamar mandi di kamarnya. “Bersihkan dirimu..” Katanya tegas. Jessica tak bergeming. Ia hanya diam dengan mata memandang lurus gadis itu. Wajahnya tanpa ekspresi. Diam keduanya menimbulkan hening.

Yuri mengusap kasar wajahnya. Ia berjalan menyalakan kran dan membuat air hangat mengalir jatuh dalam bathtube. Gadis itu mengulurkan tanganya ke arah jessica. “Aku akan membantumu..” ia berucap datar dan menanggalkan seragam yang jessica kenakan. Ada banyak lebam biru di tubuh gadis itu. Sebuah bekas cakaran melintang di atas dada sampai tulang belikatnya.

Gadis itu masih diam tak mengatakan apa-apa. Hanya saja kini tatapan matanya berubah melunak.

Yuri meringis miris. Jessica menangkup wajah gadis itu dan menjinjitkan kakinya. Meraih bibir yuri dan menciumnya. Jantung yuri berpacu kuat. Hal seperti ini lah yang tak bisa ia hindari kala harus berdekatan dengan gadis itu. Ia tak ingin lepas kendali dan menghancurkan semuanya. Ketika rasa ‘sesak’ itu semakin terasa, yuri benar-benar putus asa.

Ia tak ingin bersikap munafik maupun menjadi seorang pengecut.

Ia memang menginginkan gadis itu. Selalu.

Tangan yuri bergerak memeluk pinggang telanjang jessica. Semakin merapatkan tubuh mereka berdua hingga tak bercelah. Kali ini saja, yuri benar-benar ingin memiliki gadis itu untuk dirinya sendiri. Tidak. Jessica memang miliknya dan tak ada yang bisa memiliki gadis itu selain dirinya. Gadis cilik polos yang dulu selalu memanggilnya ‘eonnie’ akan terus berada dalam genggamannya.

Yuri mencium kasar jessica. Melesakkan lidah memaksa jessica membuka mulutnya. Tak peduli sudut bibir gadis itu masih terluka dan rasa besi kini bercampur dalam ciuman mereka. Jemari tangannya bergerak mengusap punggung kulit gadis itu perlahan hingga menimbulkan sensasi aneh yang mengelayari indera peraba gadis dingin tersebut. Yuri mendorong jessica, menghimpit tubuh gadis itu diantara kokohnya dinding kamar mandi dan tubuh tingginya. Terus mendesak dan semakin memperdalam cumbuannya.

Jessicaa terengah ketika yuri berpindah di lehernya dan menggigit kecil hingga menimbulkan ruam. Gadis itu mencengkram rambut yuri lalu turun di bahu kerasnya yang sedikit berotot. Ia memekik kala yuri mengecup puncak payudaranya membuat tubuh jessica meremang saat itu juga. Terlalu nikmat. Dan mereka tak ingin ini berakhir.

“Jangan menyakiti dirimu lagi…”. Yuri berbisik rendah. Mencium dan menjilat luka milik jessica. Gadis itu mengigit bibir bawahnya kuat-kuat. Lupa caranya untuk berkonsentrasi. Yuri benar benar membuatnya gila. “..kau terlalu berharga, Sayang~.” Bibir Yuri kembali menemukan bibir jessica. Lalu, bergelut dalam ciuman yang lebih dalam dan panjang.

Jemari jessica menarik kaos yuri meminta gadis itu membukanya. Tubuh atas yuri memang sempurna, para wanita pun pasti tak akan berpaling jika melihatnya. Dan jessica tak sudi membagi gadis hangat itu dengan yang lain. Yuri miliknya dan hanya dia yang bisa menyentuhnya.

“Katakan kau memiliki perasaan yang sama terhadapku?” Ketika jessica merapatkan tubuhnya pada yuri, seketika itu hangat menjalari permukaan kulitnya. Yuri adalah perpaduan kekuatan dan keindahan di mata jessica. Tak ada yang bisa menandingi. “Jebal yuri~ah…jawab aku.”. Jessica berbisik, ia membalas tatapan mata coklat yang mengkilat tajam bagai predator. Rengkuhan itu semakin kuat ketika yuri kembali melancarkan ciumannya. Kali ini lebih kasar.

Yuri menghindari permintaan jessica.

Ia mendesak gadis itu. Jessica merasakan sensasi lain saat yuri memeluknya dengan lembut namun terasa kuat. Ia tersenyum penuh kemenangan dalam hati. Sejujurnya ia tahu, meski yuri tak pernah mengatakan, gadis itu menginginkan dirinya. Lebih dari yang bisa bayangkan. Kau milikku!

Jessica menggigit kecil daun telinga yuri ketika gadis itu menurunkan rok seragamnya. Hingga kemudian celana dalamnya turut teronggok di atas lantai kamar mandi. “Kau yakin ingin melakukannya di sini?”. Tanya jessica berbisik begitu pelan di samping telinga yuri. Terdengar nada jahil dalam hembusan nafasnya yang terenga-engah. Gadis itu mendorong bahu jessica, sedikit menimbulkan jarak di antara mereka. Wajahnya yang lembut namun teduh menatap  tajam memaku wajah yang memerah sejak tadi.

“Kau keberatan?” Tubuh jessica meremang seketika saat tangan yuri membelai kulit pahanya. Suara parau gadis itu turut membangkitkan gejolak aneh di hatinya. Serasa ingin meledak.

Jantungnya berpacu kuat. Darah mendesir hebat dalam nadinya. Jessica lupa caranya untuk bernafas.

“Sa-sama sekali tidak…” Ia mencengkram bahu yuri hingga kukunya menancap di sana dan pasti menimbulkan bekas. “…bahkan jika kau ingin melakukannya di tempat paling kotorpun aku tak akan menolak..”. Jessica menjilat bibir bawah yuri hingga kembali basah. Tangannya bergerak pelan ke bawah dan terhenti di ikat pinggang yuri.

“Kau tahu..”. Yuri memandang jessica. Menunggu. “…aku takut menghancurkanmu.”. Yuri berbisik rendah. Tangan lembutnya merengkuh pinggang jessica lebih erat. Bibirnya menghujani bahu jessica dengan ciuman kecil.

Jessica menarik sudut bibirnya. “Kau tak akan pernah menghancurkanku. Justru sebaliknya, kau melengkapiku.” Ia sedikit bergidik saat jari-jari yuri mengusap punggungnya lembut lalu turun sampai pinggang bawahnya.

Yuri tak berkata apa-apa lagi. Ia membiarkan jessica melepas ikat pinggang serta celananya. Melanjutkan ‘permainan’ mereka. Mungkin saat ini, yuri tak mengatakan apa-apa. Namun lewat tatapannya, lewat sentuhannya, ia ingin gadis itu mengerti sendiri bagaimana berharganya seorang jessica untuk dirinya. Mungkin ketika tiba waktu yang tepat, ia akan mengatakan seluruh isi hatinya pada gadis itu. Tapi untuk sekarang, cukup jessica berada di sisinya.

“Kau milik ku”.

THE END

Posted from WordPress for Android

NOW, I’M GIVING UP ON YOU

image

Pernahkah kalian menunggu ?? Pernahkah kalian mengharapkan sesuatu hingga kalian mengabaikan orang orang yang menyayangi kalian dengan tulus ?? Dan berakhir dengan kata menyerah ?? Karena kalian terlalu lelah dengan harapan kosong itu ??~~

Seoul, 25 02 feb 2016

Seorang gadis tengah asik menyeruput coffe latte miliknya yang asapnya bahkan masih mengepul tebal itu dengan nikmat. Ia sudah 10 menit di caffe tersebut menunggu seseorang datang namun sampai sekarang, orang yang ditunggu tidak tampak batang hidungnya padahal ia sendiri yang menyarankan gadis itu agar tidak datang telat dan kenyataanya, malah ia sendiri yang telat. Namja yang sudah seperti oppa untuknya memang selalu seperti ini. Datang telat dan setelahnya ia seperti tidak melakukan kesalahan sama sekali dengan menampilkan deretan gigi putih miliknya.

” Iishhh… awas kau oppa !!! Aku akan memukul mu setelah kau sampai disini. Menyebalkan”. Kesalnya dengan menggerutu.

Tidak terasa sudah 15 menit, Kwon Yuri gadis yang bahkan sudah menghabiskan 2 gelas coffe latte miliknya masih sabar menunggu kedatangan namja yang sebentar lagi akan merasakan amukan darinya. Bagaimana tidak ?? 15 menit bagi yuri adalah waktu yang terbuang sia sia hanya untuk menunggu namja petakilan tersebut. Karena sudah tidak sabar, akhirnya yuri memutuskan menelpon namja yang berbeda usia 2 tahun darinya tersebut.

” Yaaaa Oppaa!!! Eodiga huh ? Kenapa belum sampai juga ?”. Bentaknya kesal saat sambungan telponya diangkat.

Aigoo yaa yuri~~ahhh… sabar ne ?? Aku sudah dekat. Kau tunggu saja. 5 menit lagi oppa sampai”.

” Awas saja jika dalam 5 menit belum sampai, aku akan membunuh mu. Arraseo ??”.

Sambungan telpon itu akhirnya terputus dengan yuri yang masih terus mengomel sampai sebuah suara membuatnya menoleh dan segera saja mendaratkan pukulan bertubi tubi pada namja tersebut.

” Yayaya appo yuri~ aahh iishhh. YA!!  Apa seperti itu kau menyambut oppa tampan mu yang baru saja datang ?”.

” Kau membuat ku menunggu lama oppa. Dari mana saja kau huh?? Aiishh..  ku benar benar….”. Kesal yuri namun namja itu malah tertawa lepas.

” Mian dongsaeng ku tersayang~~,,, kau tau kan motor kesayangan ku seperti apa ?? Ia bahkan lebih manja dari kekasih ku sendiri hahahahahah”. Tawanya mengingat bagaimana kondisi motor kesayangan miliknya.

Yuri yang awalnya kesal akhirnya ikut tertawa ketika mendengar alasan yang diberikan Lee Hyukjae. Yah~~ yuri tau bagaimana menjengkelkannya motor kedayangan hyukjae itu. Motor yang selalu daja mati jika ia menggasnya terlalu kencang.

Lee Hyukjae, namja yang menurutnya  tampan memang beda dengan namja korea kebanyakan. Jika banyak namja seusianya mulai sering memarkan mobil mobil mewah tapi tidak dengannya. Ia lebih memilih sebuah motor antik sebagai kendaraan yang selalu ia pakai kemana pun ia pergi. Bukanya ia tidak mampu membelinya, hyuk oppa bahkan memiliki beberapa koleksi mobil sport, tetapi hobby nya mengalahkan mewahnya mobil mobil miliknya yang tersimpan rapih.

Namja yang selalu ada disaat yuri susah maupun senang itu bukanlah teman baru baginya. Keduanya mengenal saat masih sama sama duduk dibangku SMA dimana hyuk yang merupakan senior disekolahnya dan mereka menjadi dekat sampai sampai yuri menganggap namja bermarga Lee tersebut seperti Oppa nya sendiri, begitu pun sebaliknya.

“Kau masih menjadi Hachiko kah yul ? Hahahaha”. Tawanya dengan menggodaku.

Hachiko.

Hyuk oppa memang sering sekali menggoda ku dengan panggilan hachiko. Hachiko, seekor anjing peliharaan yang kesetiaanya sudah tidak perlu di ragukan lagi. Ia bahkan masih tetap menunggu sang majikan pulang ditempat yang sama persis saat pemiliknya masih hidup. Hachiko tidak tahu jika majikanya telah tiada dan ia tidak pernah berhenti menunggu disana. Berbulan bulan ia masih setia menunggu sampai akhirnya ia menyusul sang pemiliknya. Bahkan karena kesetiannya, di jepang telah dibuatkan monumen patung untuknya.

Dan sekarang, karena hyuk oppa tau aku memang sedang menunggu seseorang, ia jadi sering memanggil ku hachiko. Menunggu diri nya yang bahkan sebelumnya tidak tahu jika aku memang menunggu. Menunggu Jessica Jung….

Bukan salah jessica memang. Ia bahkan tidak tahu jika yuri menunggunya. Tapi itu dulu sebelum yuri lagi lagi kembali jujur padanya tentang perasaannya. Dulu memang pernah bilang pada jessica jika ia sedang menunggu. Tapi jessica tidak tahu jika yang ditunggu yuri adalah dirinya sampai suatu saat yuri bilang yang sebenarnya.

Tidak ada hal besar yang terjadi saat jessica tahu yang sebenarnya. Ia juga tidak meminta yuri untuk berhenti. Tidak juga memberi kepastian akan seperti apa kedepannya karena yuri tahu, saat itu jessica tengah menjalin hubungan dengan seseorang dan ia tidak ingin mengganggu hubungan keduanya. Yang yuri lakukan hanyalah selalu ada  kapan pun jessica butuh.

Hubungan keduanya pun berjalan baik karena memang dari yuri sendiri tidak ingin menuntut apapun. Ia sudah cukup senang ketika mengetahui jessica baik baik saja. Tapi tentu saja, teman teman yuri menganggapnya bodoh. Termasuk Lee Hyukjae.

” Sudahlah yul~,,, mau sampai kapan huh kau menjadi hachiko yang rela menunggu lama seperti ini ?? Kau itu sebenarnya mempunyai 2 pilihan”. Hyuk oppa kembali membuyarkan lamunan yuri.

” 2 pilihan ?? Maksud oppa ?”. Tanya yuri tidak mengerti maksud dari lee hyukjae.

” Maksud ku kau mempunyai 2 pilihan. Akan tetap menjadi hachiko yang menunggu harapan kosong atau kau berubah menjadi Hachi, si lebah pencari kebahagiaan ??”. Lagi lagi, lee hyukjae mengatakan hal yang tidak masuk akal.

“Hachi ?? Tokoh cartoon itu?”. Tanya yuri memastikan.

” Yup. Kau taukan cerita dari film cartoon tersebut ? Apa hachi pernah menunggu sesuatu yang tidak pasti ? Tidak pernah yul. Ia bahkan rela pergi jauh untuk mencari kebahagiaan. Yaitu bertemu umma nya. Karena ke gigihannya, akhirnya ia bisa berkumpul dengan orang orang yang disayanginya. Dan kau, kau bisa memilihnya. Tetap menjadi hachiko atau kau jemput kebahagiaan mu sendiri”.

Meskipun kadang hyuk oppa sangat menjengkelkan, tapi yuri selalu menemukan sisi dimana yang bisa membuatbya sangat kagum pada sosok tersebut. Yuri selalu menemukan jawaban yang menurutnya pas dan masuk akal dari lelaki ini. Sosok yang tidak terlalu banyak ikut campur, tetapi sangat bisa diandalkan olehnya.

” Otteh ?? Kau pilih mana ?”.

Jujur saja, sampai saat ini pun perasaan ku masih tetap sama untuk jessica. Meskipun jessica tidak lagi menjadi satu satunya dihati yuri karena yah~~ sudah ada orang lain yang kembali mengisi hari harinya tapi tetap saja, ia masih menyayangi gadis itu. Gadis yang mampu membuatnya mengerti arti kesabaran menunggu, mencintai tanpa harus memiliki dan yang paling penting, ia bisa selalu berkata jujur tentang perasaanya sendiri. Dari jessica, yuri mendapatkan itu semua. Yuri berpikir keras untuk menemukan jawaban tersebut.

Apa ia harus tetap menunggu untuk sebuah ketidakpastian hubungannya ?

Apa benar ia harus menyerah setelah apa yang selalu ia perjuangkan selama ini untuk menggapai jessica dan berhenti begitu saja  ?

Atau ia memang harus segera berhenti dari semua ini?

Cukup lama ia berpikir sampai ia sendiri lupa jika kini, didepannya hyuk oppa tengah memperhatikan setiap perubahan wajah yang tanpa sadar yuri berikan. Namja itu tersenyum geli melihat dongsaeng kesayangannya yang terlihat berbeda dari biasanya. Yuri bukanlah type gadis yang senang memikirkan apapun secara serius. Tapi sekarang ia malah terlihat seperti tengah memecahkan sebuah soal fisika terumit yang pernah ada.

” Jika kau masih ragu dengan semuanya, kau tidak perlu menjawab ini terburu buru yul. Cukup kau pertimbangkan baik baik semua yang aku katakan barusan”. Hyuk oppa menepuk kepala yuri pelan.

” Aniya oppa. Kau benar. Aku rasa memang sebaiknya aku berubah seperti hachi, si lebah pencari kebahagiaan. Bukan hachiko si penunggu setia itu”. Kata yuri akhirnya.

” Kau serius yul ?? Aku rasa kau hanya terburu buru untuk mengambil keputusan ini. Aku memang tidak mau kau terus seperti ini. Tapi aku lebih tidak mau melihat kau menyesal karena mengambil keputusan yang menurutku terburu buru “. Hyukjae terlihat tidak yakin dengan keputusan yang yuri buat.

“Sebenarnya sudah sejak lama aku memikirkan ini. Memikirkan apakah aku akan tetap bertahan dalam ketidakpastian ini, atau aku membuat perubahan besar untuk diri ku sendiri. Ketika aku sudah memilih untuk pergi, jessica dengan mudahnya kembali meruntuhkan dinding kokoh yang telah aku bangun dengan kepercayaan diri ku sendiri. Dan akhirnya, aku tidak mampu pergi lebih jauh dari nya”.

” Kau mencintainya yul. Itulah yang mengapa kau selalu seperti ini”.

“Yaahh… aku tahu, aku memang mencintainya. Tapi sekarang aku sudah mengambil keputusan ku sendiri oppa”. Yuri menyunggingkan sebuah senyuman manly miliknya.

” Now, I’m giving up on her. Aku menyerah untuk ketidakpastian yang selama ini membuat ku mengabaikan perasaan seseorang yang tulus menyayangi ku. Sekarang, Aku dengan kehidupan ku. Dan jessica dengan kehidupan miliknya. Meskipun aku tau aku masih mencintainya dan jessica mencintai pasangannya”.

” Jinjjah ? Kau tidak mabuk karena kebanyakan mengonsumsi coffe saat menunggu ku kan ?”. Lee HyukJae masih tidak percaya dengan keputusan yuri.

” Hahahahahahahahaha tentu saja tidak oppa. Tidak ada yang tahu kedepannya akan seperti apa kan ? Sekarang, aku memang menyerah pada semuanya. Aku lelah oppa. Lelah sekali.  Dan aku bahagia jika jessica bahagia”.

” Wooooaaaaahh…. Kwon Yuri Jjaaaangg!!!! Daebaaakkk!!!! Aku mendukungmu yul. Apapun yang kau lakukan, aku akan selalu berada di pihak mu”. Hyukjae memeluk yuri senang.

Aku menyerah sica~ah….

Aku menyerah pada ketidakpastian ini…

Satu hal yang harus kau tau, bahwa kapan pun kau butuh, aku akan selalu ada untuk mu. Berbahagialah, my love~~

THE END

Annyeooooooooooooong keongeeeeeeerrssssss *teriakMakeToa

Cuma mau bilang, sorry kalo semisal ceritaya pendek atau malah pendek bgt. Maklum bikinnya juga sistem ngebut. Cuma 15 menit kelar. Terinspirasi dr lagu. So,, ini bukan real life ya guys ngahahahahahaha… terus kalo kenapa cuma yuri doang yg kebanyakan ngemeng, ya krn gw emng males buat banyak cast nya *MaleeessBgtLuOong😂😂😂

Kalo typo bertebaran, ya maap juga. Gw males buat baca ulang. Okedeh… selamat baca aja… oiyah jan lupa komen. Ga maksa ko yg mau aja.

Oke byeee keongeeerrsss 🐌🐌🐌🐌🐌🐌🐌🐌

Posted from WordPress for Android

The story of us (KRYSTAL)

image

” YA KWON YURI !!!”. Teriak krystal sambil bertolak pinggang.

” Aisshh… jinjjaah,,, krys bisakah  pelankan sedikit suara mu ? Dan hei, panggil aku eonnie arra? bahkan aku lebih tua dari mu bocah kecil”. Kata ku kesal dengan sikap kurang ajarnya.

” Aniyo. Aku lebih senang memanggil mu Yuri dari pada dengan tambahan eonnie dibelakangnya”. Balasnya dengan sangat santai.

” Tidak sopan”. Kataku menggerutu kesal.

” Whatever. Kajjah kita pergi. Aku bosan jika harus diam seperti ini”. Ajaknya sambil menggandeng tanganku.

” Aisshh… sudah tidak sopan, sangat pemaksa, dan yang paling aku tidak suka dari mu adalah aku yang selalu kalah dengan semua rayuan mu krys”. Kataku sambil mengikuti langkah cepatnya.

” Itu karena kau masih mencintai ku Yuri. Tapi kau selalu mengingkarinya dengan bilang kau sudah mencintai orang lain”. Katanya sambil cemberut.

Benarkah aku masih mencintai gadis kecil yang masih menggandeng tangan ku dengan erat ini ? Bahkan setelah apa yang kami lewati beberapa tahun belakangan ini ?

Aku terus mengikutinya dari belakang dengan tangan yang masih bergandengan. Masih memikirkan kata katanya yang begitu menggelitiku. Apa benar begitu?

” Kenapa jadi diam saja huh ?”.

Krystal menghentikan langkahnya dan melepaskan genggaman yang sejak tadi terasa begitu hangat. Memperhatikan raut wajah ku yang mungkin terlihat begitu aneh.

” Wae hmm ?? Apa kata kata ku barusan benar ?”. Krystal menatap wajah ku dengan tanda tanya besar.

” Kata – kata mu yang mana ?”. Aku balik bertanya, menyilangkan kedua tangan ku didepan dada.

” Tentu saja yang barusan kwon yuri. Apa aku benar jika kau masih mencintaiku?”.

” Apa kau bisa menebaknya ? Bukankah kau selalu tau apa yang tengah aku pikirkan ?”. Kata ku sambil kembali menggandeng tangannya dan melanjutkan perjalan yang sempat berhenti.

” Kau… itu banyak berubah yul. Aku bahkan hampir tidak mempercayai jika kau kembali membuka hati mu untuk gadis lain”.

Gadis itu…

Gadis yang aku kenal dari pertemanan di sebuah grup. Apa kalian masih ingat dengan gadis bermata sayu, Jessica Jung? Yaahh… gadis yang memang berhasil mengambil alih perhatianku. Tidak semua, hanya saja gadis itu memang berhasil mengambil alih sebagian. Gadis yang membuat ku berhenti untuk tidak lagi mengkosumsi kopi dengan berlebihan, gadis yang selalu mengingatkan ku untuk selalu membawa tisu karena memang aku termasuk salah satu gadis yang mudah sekali mimisan jika panas matahari sangat menyengat atau jika kepala ku yang sedikit pusing. Ini bukan penyakit, melainkan sepertinya appa ku menurunkannya.

Krystal memang mengetahui jika aku tengah dekat dengan orang lain, tapi ia tidak tahu siapa gadis itu. Dan ia bukan termasuk orang yang mau repot untuk bertanya padaku perihal seseorang yang tengah dekat denganku selain dirinya. Bahkan gadis berusia 18 tahun itu terlihat tidak perduli sama sekali. Ia hanya pernah bertanya sekali dan itupun aku tidak memberitahu nya siapa orang itu. Dan ia juga tidak bertanya lagi. Terkesan tidak perduli. Menurutnya sangat tidak mungkin aku bisa berakhir bahagia karena kami saja tidak pernah bertatap muka satu sama lain. Dan aku akui krystal memang benar. Ntahlah, sejak mengenal gadis keras kepala itu, 80% dari kata katanya akan menjadi kenyataan dan aku akan heran sendiri.

” Jika kau ingin tahu jawaban ku, tentu saja aku masih meyakini jika disini, nama ku lah yang masih menempati bagian terbesar”. Kata krystal sambil menunjuk jantung ku.

” Ckckck… kau terlalu yakin adik kecil”. 

“YAA!!! berhenti memanggil ku adik kecil kwon yuri. Ah tapi Aku benarkan ? Mungkin kau hanya tidak sadar jika akulah yang masih menjadi penguasa hati mu. Dan kau terlalu sibuk mencari lalu melupakan jika sebenarnya aku masih ingin kau kembali”. Kulihat perubahan di wajah cantiknya.

” Krys jeball,,, sudah berapa kali aku bilang padamu untuk berhenti. Mau sampai kapan kau seperti ini ? Bukankah ada banyak namja yang menyukai mu? Kenapa kau tidak mencobanya?”.

” Yaaiisshh… kau itu ckckckc. Kau fikir mudah mencari yang cocok untuk ku huh? Nona yuri yang terhormat, jika saja kita tidak saling mengenal dan kau tidak datang kedalam hidupku mungkin saja saat ini, mantan kekasih ku sudah ada puluhan bahkan lebih bukan hanya 1 dan itu hanya kau stupid”. Katanya kesal.

” Apa sehebat itu pesona ku sampai sampai banyak namja yang patah hati karena kau menolaknya eoh?”.

“Ckckck percaya diri sekali kau. Kau bahkan tidak mempunyai pesona sedikit pun kwon yuri. Terlepas dari itu semua,  kau telah memberikan semua kebebasan yang aku mau yang memang aku cari selama ini. Kau bisa menjadi sahabat, teman, pacar, bahkan musuh sekali pun. Kau bisa menjadi apapun dikehidupanku. Dan yeaahh…. mungkin bisa dikatakan jika   aku begitu sangat bergantung padamu. Aku tahu kau menyadarinya”.

Yaah… yang dikatakan krystal memang benar. Terlahir dari keluarga kaya membuat gadis itu jarang bertemu dengan kedua orang tuanya. Apalagi ia anak tunggal. Terbiasa hidup mewah sejak kecil dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya membuat gadis penyuka cartoon lebah yang diberi nama hachi itu menjadi sosok yang pemaksa dan keras kepala. Ia selalu memaksaan kehendaknya tanpa memikirkan perasaanku terlebih dahulu. Sangat egois memang, tapi siapa yang peduli.

Aku juga tidak pernah melarangnya untuk dekat dengan siapapun. Ntah itu namja atupun yeoja. Krystal bebas memilih dengan siapa ia ingin berteman. Meskipun aku membebaskannya bukan berarti gadis penyuka tas mewah itu akan berlaku sama dengan ku. Ia bahkan selalu mengacaukan semua rencana yang telah aku susun dengan matang bersama teman teman ku. Seperti yang sudah sudah, ia akan datang kerumah ku dan memintaku untuk menemaninya pergi. Dengan wajah manis nan polos ia lalu mengatakan, ‘ woaahh… bahkan kau sudah rapih yul ? Bukankah aku belum mengabari mu ? Kau memang yang terbaik’, katanya sambil tersenyum. Meskipun kesal luar biasa, Tapi ntahlah, aku tidak pernah bisa marah terlalu lama denganya.

Beberapa bulan yang lalu tepatnya, bulan mei tanggal 29, aku mengakhiri hubungan kami. Alasannya karena memang krystal mengaku jika ia tengah menjalin hubungan dengan seorang namja. Kang minhyuk namanya. Jujur saja, aku tidak terlalu terkejut karena memang ia sering melakukan itu dan sesering itu pula aku memaafkannya. Bodoh bukan ? Yaahh… mungkin bisa dikatakan begitu.

Sebenarnya hubungan kami pun sudah benar benar kandas di awal bulan maret hanya saja aku baru mengetahui jika ternyata krystal lagi dan lagi menjalin hubungan dengan orang lain tepat tanggal 29 mei dan saat itu pula aku memutuskannya. Keren kan ? Yah… setiap kandasnya hubungan kami, memang selalu aku yang memintanya, dan selalu krystal pula lah yang meminta berhubungan kembali.

Saat aku mulai terbiasa dengan status baru ku, akhirnya sosok baru itu berhasil menarik perhatianku. Sosok yang sangat bertolak belakang dengan krystal. Sosok pengalah, penyabar dan ia sering sekali meminta maaf padaku meskipun aku tidak merasa marah atau terganggu tetapi tetap saja, ia akan meminta maaf. Dengannya aku merasakan sesuatu yang tidak pernah aku dapatkan selama ini dengan krystal.

Jessica jung. Harus ku akui jika kedekatan ku dengannya beberapa bulan ini mampu menimbulkan perasaan yang berbeda. Aku tahu, aku pernah menceritakannya pada kalian. Tapi apa kalian tahu ? Setelah penolakan yang diberikannya tempo hari aku memang merasakan kekecewaan luar biasa, hanya saja jauh dilubuk hati, aku tidak merasakan sakit yang berlebihan. Hanya kecewa dan aku rasa itu memang bukan termasuk sakit hati yang sudah ku sebutkan tadi.

Selama masa itu, sabahat yang selalu mendukung apapun keputusan ku tak hentinya selalu memberikan support agar aku mampu bangkit seperti kwon yuri yang mereka kenal.

Yuri yang aku kenal, bukan yuri yang seperti ini. Bukan yuri yang selalu terlihat menyedihkan karena penolakan itu. Bukan yuri yang selalu membahas jessica yang lebih memilih orang lain. Tapi yuri yang aku kenal adalah yuri yang selalu bersemangat, jahil dan tidak bisa diam”.

Itulah yang dikatakan Taeng pada ku saat kami menyempatkan waktu untuk bertemu diakhir pekan. Menurut ku tidak berlebihan jika aku seperti itu.Maksud ku, bukankah wajar jika aku terlihat sedikit menyedihkan karena apa yang aku alami? Tapi semua yang dikatakan oleh Taeyeon selalu aku pikirkan baik baik. Aku juga tidak mau terlalu larut dalam masalah ini.

Yul,,, ayolaah… hidup mu tidak akan berakhir hanya dengan penolakannya, iyakan ? Kau masih mempunyai aku, taeng bahkan yoong yang akan selalu ada saat kau butuh. Bukan kah kita kenal sudah sangat lama ? 20 tahun yul. Kita sudah saling mengenal 20 tahun. Kau lupa? “.

Aku selalu tertawa jika gadis penyuka doraemon itu sudah menyebutkan berapa lama kami sudah saling mengenal. 20 tahun? Hahahaha bukankah itu sangat lama? Meskipun kenyataanya aku sendiri lupa kapan tepatnya kami mulai bisa sedekat ini, tapi percayalah, pertemanan kami tidak selama itu. Seingat ku baru hitungan bulan, tapi ia sudah berhasil membuat ku mempercayainya. Aku bukan sengaja untuk tidak mengingat. Tapi jika sudah berhubungan dengan tanggal, tiba tiba aja aku lupa semuanya hahahaha

” Sudahlah eonnie, semakin kau memikirkannya hanya semakin membuat hati mu bertambah perih. Lupakan itu semua. Aku yakin jika orang seperti mu bisa melewati ini. Yang 4 tahun saja kau bisa melewatinya, masa yang baru hitungan bulan malah seperti ini. Sama sekali seperti bukan yuri eonnie yang aku kenal “.

Itulah yang dikatakan seorang im yoona, gadis penyuka segala makanan dan juga menjadi orang terakhir yang tahu tentang apa yang aku alami belakangan ini. Aku memang tidak bercerita banyak dengannya, tapi bukan berarti ia tidak tahu. Bahkan, ia menjadi satu2nya orang yang memberitahu ku jika ternyata, jessica memang sudah benar benar menjalin hubungan dengan park minyoung. Luar biasa bukan?

” Apa kau sedang melamun yul ? Dasar stupid gurl. Sudahlah tidak usah di pikirkan, aku tahu otakmu itu sangat sedikit. Selain hanya terisi teman teman mu yang tidak jauh berbeda denganmu yaitu suka dengan hal hal bodoh dan tak masuk akal, otak mu juga terisi dengan nama gadis incaran mu itu kan? Sudahlah, aku tau semuanya tentang mu kwon yuri. Tapi kau harus ingat, jika aku krystal tidak akan membiarkan mu benar benar jatuh ke tangan siapapun”.

“Kau benar krys~,,,, di otak ku memang hanya terisi oleh teman dan gadis yang kau sebutkan tadi. Tapi Kau juga sangat mengerikan gadis kecil. Apa kau tahu? meskipun kita bukan lagi pasangan kekasih, tapi semua sikap dan kelakuan mu seolah olah aku ini masih menjadi yuri milik mu”. Kata ku mencubit hidung mancung miliknya.

” Well, aku memang berniat seperti itu dan sebentar lagi akan terwujud hehehehe”. Katanya dengan penuh keyakinan.

” Aku rasa kau akan kembali kecewa sayang. Karena aku sudah bosan dengan gadis pemaksa seperti mu hahahahah”.

BUGH

” Awwwww… Yaaah!!! Untuk apa pukulan tadi ? Aiishh… mani appo jinjjah”. Kataku sambil menggosok kepala ku yang baru saja di pukul oleh gadis tak berperasaan.

” Itu balasan dari ku karena kau selalu berbicara sembarangan”.

” Mwo ? Sembarangan ? YAA!!! SIAPA DISINI YANG LEBIH SEMBARANGAN EOH ?”. Kataku kesal dengan sedikit berteriak.

“KAU ?? YAAA !!!! BERANINYA KAU BERTERIAK PADAKU AIISSHH STUPIID GUURL”. Suara extra kencangnya sukses membuat sebagian mata mengarakan pandangannya ke arah kami.

“Kwon yuri. Apa kau tahu ? Kata kata mu barusan sangat menyakiti ku huh ? Bagaimana bisa kau mengatakan bosan dengan mudah seperti itu ? Ckckckck sialan”. Katanya kesal.

” Aigooo yaaaa~ Kenapa kau jadi sensitif seperti ini sih krys ? Aku hanya bercanda krys~,,, tidak serius”. Kataku.

” Jangan marah ne ???”. Bujuk ku supaya krystal tidak marah.

BUGHH

” MWOO ?? Yaiiishhh… appooo jinjaah. Yaaa kaaaauuu!!!!”. Kataku sambil bersiap mengejarnya yang sudah terlebih dulu kabur setelah kembali memukul ku.

Satu lagi kebiasaan lamanya. Memukul. Ya memukul.  Anak itu memang senang sekali melakukan kekerasan. Sudah lama memang aku tidak merasakan pukulan darinya. Maklum, baru beberapa hari ini krystal kembali ke seoul setelah beberapa bulan lalu memutuskan untuk menetap di Amerika. Ntah alasan apa yang membuatnya kembali tinggal di korea, yang jelas itu akan sangat menyebalkan karena aku yakin setiap hari ia akan selalu membuat ulah dan melakukan apapun yang ia inginkan. Bahkan ia lebih dekat dengan keluarga ku dibandingkan dengan aku sendiri.

Meskipun begitu, aku tidak terlalu ambil pusing. Sudah terlalu hapal dengan segala kebiasaanya membuatku tidak terlalu memperdulikan. Sudah bukan hal asing lagi memang. Dan mungkin ini akan menjadi awal hubungan ku dengannya untuk waktu yang akan datang.

Krystal bukanlah sosok baru bagi ku. Aku bahkan sudah lebih dulu mengenalnya dari pada sahabat sahabat ku seperti contohnya kim taeyeon, im yoona bahkan tiffany hwang. 4 Tahun lalu, tepatnya bulan maret saat aku baru saja merayakan kenaikan kelas.

Siang itu aku yang memang penggemar komik romance menyempatkan pergi untuk sekedar membeli beberapa komik yang memang sudah aku tunggu sejak satu minggu yang lalu. Tidak perlu waktu lama segera saja aku membayar komik yang ternyata tinggal 1 itu. Awalnya aku berniat untuk segera pulang, tapi perhatian ku teralihkan setelah aku yang tidak sengaja melihat cover sebuah majalah yang didalamnya memajang girl band favorit ku, SNSD.

Disana aku pertama kali melihat sosok krystal yang saat itu masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama, berbeda denganku yang sudah duduk dikelas 3 SMA. Saat itu ia baru saja duduk di bangku kelas 2 SMP. Dan ternyata krystal juga penggemar komik romance yang sama dengan ku. Karena dia fikir komik itu belum terjual maka dari itu ia berniat untuk mengambilnya. Sempat terjadi perdebatan kecil antara kami dan ntah karena alasan apa, aku memberikan komik yang sebelumnya sudah ku bayar untuknya. Dari sana kami mulai berkenalan dan lambat laun kami menjadi dekat.

Krystal menjadi satu satunya manusia yang selalu aku pikirkan saat itu. Meskipun memang sangat menyebalkan, tapi ntah mengapa aku selalu terhibur dengan semua sikap yang di tunjukan gadis belasan tahun tersebut. Banyak hal telah kami lewati bersama. Mulai dari hal yang menyenangkan sampai yang menyakitkan sekalipun pernah kami lewati berdua. Tak ada yang bisa menggantikan sosoknya memang, sekalipun itu jessica. Keduanya mempunya tempat masing masing di hati ku.

Mungkin ini cerita yang dapat ku bagikan untuk kalian. Cerita yang akan selalu menjadi bagian dari setiap perjalan hidupku. Bagian yang membantu ku menemukan arti kebersamaan, persahabat dan juga cerita cinta yang akan selalu ku ingat untuk kedepannya. Bertemu dengan mereka menjadikan ku salah satu manusia beruntung mungkin. Dan untuk kembali bersama krystal, aku rasa itu tidak mungkin.

THE END

Annyeong~

Cuma mao bilang aja, sebenernya sih ini ff ga kepengen gw post. Tapi setelah dipikir2 sayang juga kalo ga gw keluarin. Ini juga sebenernya cuma curhatan gw aja sih. Lanjutannya ff yg kmrn dengan judul yg sama.

Okelah dr pada drabel disini mending langsung di baca aja. Yah sukur2 kalo pada suka dan tinggalin komen.

Posted from WordPress for Android

YOONHYUN

image

YOONHYUN

“Aigoooo kemana anak itu ?? Kenapa belum datang juga?”.

Sudah dari beberapa menit yang lalu, seorang gadis tak hentinya melihat jam dipergelangan tangan kanannya dan sampai detik ini orang yang ditunggunya belum juga menampakan kehadirannya. Tapi tidak ada raut bosan apalagi kesal darinya, ia malah terus saja tersenyum dan senyum semakin lebar saat matanya tak sengaja menangkap sesosok gadis tinggi yang tengah berlari ke arahnya.

” Hoossh… hooosshh…. aahh.. mihh..mian… mianhae hyunie aku telat haaah…”.

“Gweanchana yoong~,,, memang kau dari mana hmm ?? Kenapa telat sekali?”. Tanya Seo Juhyun, gadis yang sejak tadi menunggunya cukup lama.

” K.. kau tidak marah ?”. Tanya balik Kwon Yoona, gadis yang terlambat datang.

” Kau mau aku marah ?”. Seohyun biasa gadis itu disapa menghentikan langkah kakinya dan berbalik mentap mata rusa milik yoona.

” Ha..haha… aniya hyunie… miane aku telat”. Jawab yoona sambil menggelengkan kepalanya cepat.

” Memangnya kau pergi kemana dulu yoong?”.

” Hmm.. tadi yul eonnie memintaku membantunya di kantor maka dari itu aku telat datang”. Kata yoona sambil menggandeng seohyun.

Yoong tidak berbohong”. Kata seohyun dalam hati.

Memang sebelum yoona datang, yuri sudah terlebih dulu menelponnya dan memberi tahukan jika adiknya akan datang terlambat dan mungkin akan sampai 20 menit lagi dan itu terbukti.

Seo Juhyun atau yang biasa dipanggil seohyun oleh teman temannya atau bisa juga hyunie tapi itu biasanya hanya orang orang terdekat saja yang memanggilnya dengan sebutan tersebut merupakan mahasiswi Seoul University jurusan sastra dan ia sekarang menjadi mahasiswi tingkat akhir disana. Ia merupakan mahasiswi berprestasi dan membanggakan karena di usia yang masih terbilang muda ia akan menjadi seorang sarjana. Mempunyai wajah cantik dan bentuk tubuh yang sangat indah menjadikannya salah satu gadis tercantik di sana. Banyak yeoja maupun namja yang berniat menjadikannya seorang kekasih namun semuanya gagal karena seohyun bukanlah type gadis kebanyakan yang akan dengan senang hati membuka hatinya dengan mudah. Dengan kepribadiannya yang tertutup dan sedikit kaku membuatnya kesulitan mempunyai banyak teman. Tapi itu bukan masalah besar untuknya. Semuanya berubah ketika ia mengenal seorang Kwon Yoona. Mengenal yoona membuat seohyun sedikit keluar dari zona amannya.

Kwon yoona, atau yang biasa dipanggil yoong oleh kebanyakan orang merupakan salah satu mahasiswi yang mengambil jurusan bisnis karena latar belakang keluarganya. Terlahir dr keluarga yang semuanya berkecimpung di dunia bisnis membuatnya harus siap untuk memimpin salah satu perusahaan bersama sang eonni, Kwon Yuri CEO muda dr Kwon Corp. Meskipun begitu sosok nya jauh dari kata serius, tidak seperti sang eonni. Yoong merupakan yeoja jahil dan Shikshin sejati.

Keduanya menjadi dekat sejak masih sama sama duduk dibangku sekolah menengah pertama. Mereka juga seperti saling mengisi dimana sosok seohyun yang sedikit kaku akan berubah menjadi malu malu jika sudah bersama yoona. Begitu juga sebaliknya, yoona akan menjadi anak penurut jika sudah bersama dengan seohyun.

” Hyunie~”. Panggil yoona manja.

” Hmm… wae yoong ?”.

” Aniya hehehe… aku senang saja jika sedang berduan dengan mu”.

” Hahaha kau ini. Ah sudah sampai, kajjaah yooong”. Ajak seohyun sambil menarik yoona untuk mengikutinya.

Pantai.

Sore ini ntah mengapa seohyun tiba tiba saja ingin melihat pantai dan matahari terbenam. Sudah sangat lama memang ia tidak datang kesini. Tempat yang menjadi favoritnya jika ia tengah merasa bosan dan ia tidak pernah sendiri datang ke pantai dengan pasir putih berkilauan. Selalu ada yoona disampingnya untuk sekedar menemani. Gadis bermata rusa itu akan selalu ada untuk seohyun begitu pun sebaliknya. Saling melengkapi, itulah mereka.

” Hyunieee~”. Panggil yoona yang sudah asik dengan air pantai yang terasa dingin sore ini.

” Yaa..yaa.. kwon yoona berhenti menyiram ku yaaaa!!!”. Teriak seohyun yang terkena siraman dari yoona.

” Hahahahaha…. rasakan ini yoong”.

” Mwo ? Mwo ? Yaaakkk… ampuun hyunieee”. Kini giliran seohyun yang menyiramnya.

Tidak terasa sudah 2 jam mereka bermain dipantai. Duduk beralaskan pasir dan tengah bersiap untuk menanti terbenamnya matahari, keduanya saling menyenderkan kepala. Yoona terlihat sangat protektiv dengan memeluk seohyun.

” Yoong~…”. Panggil seohyun pelan.

” Hmm ??”. Sahutnya tak kalah pelan.

” Apa setelah lulus nanti kau akan langsung memimpin perusahaan mu?”.

” Hmm… aniya hyunie~, kata yul eonnie aku akan memulainya dari bawah. Tidak instan seperti itu. Karena yang instan pasti tidak akan bertahan lama. Itu katanya”.

” Yuri eonnie benar. Kau memang harus memulainya dari bawah yoong, jika kau ingin mempimpin sebuah perusahaan besar seperti yuri eonni mulai lah dari bawah. Agar kau tau seperti apa bekerja itu”.

” Yoong…”.

” Hmm ? Kenapa kau senang sekali mema…”.

” Saranghae…”. Kata seohyun memotong kata kata yoona.

“Nado hyunie~,,,, nado saranghae”. Kata yoona sambil menyunggingkan seulas senyum manly miliknya.

“Apa kita bisa seperti ini untuk waktu yang lama yoong ?”. Lirih seohyun.

” Aku tidak tahu hyunie, tapi aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu”. Kata yoona jujur.

” Gomawo yoong~”.

Keduanya berpelukan tepat saat matahari terbenam. Indah memang, terlebih disaat kau tengah bersama dengan seseorang yang sangat special.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Hynieeee aku lapar~”. Rengek yoona lucu.

” Aigoo neomu kiyoweoo yoong kekekeke”. Goda seohyun sambil mencubit pipi yoona gemas.

” Hai seo”. Sapa namja tampan dengan rambut berponi lucu.

” Oh hai yonghwa oppa”. Balas seohyun sopan sambil membungkuk.

” Sedang apa kau disini ? Makan siang kah?”. Tanya yonghwa ramah.

” Ne oppa. Oppa sendiri sedang apa?”.

” Sama. Aku juga ingin makan siang. Kau sendiri saja?”.

” Ani. Bersama yoona. Ya kwon yoona kesini”. Panggil seohyun.

” A..ah.. bersama yoona ya ? Hahaha baiklah. Aku pamit saja jika begitu. Anyyeong seohyun. Annyeong y…yoong”. Yonghwa segera pergi ketika seohyun menyebut nama yoona.

” Namja aneh. Kenapa ia seperti melihat hantu saja ketika mendengar nama ku ? Ckckck”. Kata yoona kesal.

” Hahahaha… sudahlah yoong~, mungkin bukan maksud yonghwa oppa seperti itu. Kajjah tadi kau bilang kau lapar kan ?”.

” Yeeeesshhh kajjaaaahhh”. Teriak yoona kegirangan ketika mendengar kata makan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

” Hyunieee~”. Panggil seseorang sambil berjalan ke arah seohyun berdiri.

” Yuri eonnie ??? “.

” Tentu saja aku. Memangnya siapa lagi hahahah”. Tawa kwon yuri lucu, mirip seperti yoona.

” Kau mau pulang kan ? Kajjah aku akan mengantar mu”.

” Eh ? Bukan untuk menjemput yoong kah?”. Tanya seohyun bingung.

” Yoong ? Aah~ yoong sudah sampai dikantor seo. Tadi appa memintanya untuk datang maka dari itu ia segera datang. Memangnya ia tidak bilang padamu ?”. Tanya yuri yang terlihat sangat aneh.

” Aniya. Aku belum bertemu dengannya sejak siang tadi. Apa eonnie sengaja menjemputku ?”.

” Ne. Aku memang ingin menjemputmu. Kajjah, hujannya semakin deras. Nanti kau bisa sakit”. Yuri segera merengkuh pundak seohyun dan memayunginya.

” Hyunie kita makan siang dulu ya ? Kau pasti belum makan kan ?”. Ajak yuri.

” Baiklah eonnie. Aku memang belum makan”. Angguk seohyun bersemangat.

Yuri terus saja melihat kearah seohyun yang saat ini tengah asik melahap makan siangnya. Raut wajah yang terlihat sedih itu tak bisa disembunyikan. Ia terus saja melihat seohyun dan tanpa sadar menitikan air matanya.

” Eonnie ?? Kau… kau menangis ? Wae?”. Tanya seohyun yang menyadari tatapan yuri.

” Ah ? Ahhahaha aniya.. aku hanya kelilipan seo. Sepertinya kau lapar sekali eoh ?”.

” Sepertinya aku ketularan yoong eonnie kekekeke”.

Setelah mengantar seohyun pulang, yuri tidak langsung pulang. Ia memilih berhenti dikedai pinggiran untuk sekedar minum soju berniat untuk menghilangkan prasaan yang mengganggunya. Ia selalu terbayang wajah polos seohyun yang selalu saja tersenyum ketika tengah membicarakan dongsaeng kesayangannya. Ia tidak bisa menahan rasa didalam dirinya lebih lama. Disatu sisi ia kasihan dengan seohyun, tapi di satu sisi lainnya ia tidak mau membuat seseorang yang disayanginya menjadi seperti ini lebih lama lagi.

” Yoong… apa yang harus eonnie lakukan hah? Apa eonnie harus membiarkan semuanya seperti ini ?”. Yuri benar benar merasa sedih mengingat semuanya.

Yuri tidak sadar jika ia sudah menghabiskan 1 botol suju seorang diri. Tapi hebatnya, ia tidak merasa mabuk sedikit pun. Kesadarannya masih terjaga penuh. Ia tidak tahu harus melakukan apa untuk menyelesaikan sebuah permasalahan yang belakangan ini sangat mengganggunya. Mengganggu hampir disetiak kegiatannya. Seohyun…. gadis itu… selalu saja menjadi objek dari semua yang yuri pikirkan. Setiap kali ia melihat kedalam mata seohyun, ia seperti menemukan seseorang yang sangat dirindukan, yang sangat yuri sayangi melebihi dirinya sendiri.

Sudah satu minggu seohyun tidak bertemu dengan yoona. Sudah satu minggu juga kwon yoona tidak menampakan kehadirannya di kampus. Semua itu bukannya tidak mempunyai alasan. Gadis berusia 23 tahu itu ternyata sibuk dengan segala tugas yang belakangan  ini memang menjadi tanggung jawabnya. Meskipun begitu bukan berarti jika seohyun tidak tahu kemana yoona pergi. Yoona selalu mengabari kemana pun ia pergi begitu pula dengan seohyun. Mereka juga selalu mengirim pesan, seperti sekarang seohyun sedang asik mengobrol dengan yoong lewat applikasi kakatalk, applikasu yang memang sangat di gandrungi oleh masyarakat korea.

Katalk

Bunyi pesan baru masuk ke smartphone miliknya. Segera saja seohyun membukanya. Dan senyum lebar pun tak terelakan.

” Seororoo… bogoshipeoo~,,,, apa kau bisa datang kerumah ku? Aku tidak bisa pergi keluar~, yul eonnie mengurungku dengan tugas kantor 😦 “.

Tawa khas keluar begitu saja ketika membaca pesan masuk dari yoona. Seohyun segera membalas dan tak lama setelahnya ia pergi untuk mengunjungi yoona yang memang tidak ditemuinya selama 1 minggu belakangan.

” Ne yoongie, aku segera kesana. Gidaryeo ne  ^_^ “.

Dirumah besar bernuansa elegant dengan dominasi cat berwarna cream, seohyun tengah asik duduk menunggu sang empunya turun menemuinya. Para maid sudah sangat mengenalnya maka dari itu ia bebas datang dan masuk ke rumah keluarga kwon sesuka hati.

“Hyuniee~,,,”. Panggil yoona sambil berlari menuruni anak tangga dengan cepat.

” Yaa !! Kau bisa jatoh kwon yoona jika berlari seperti itu. Bahaya arra ?”. Marah seohyun sambil memukul pundak yoona pelan.

” Hahaha neee~, mian. Aku senang kau datang hyunie~ah. Yuri eonnie sepertinya memang sengaja mengurungku agar aku tidak bisa bertemu dengan mu”. Kata yoona sambil mengembungkan pipinya lucu.

” Hahahahaha aigooo… kau itu kekanakan sekali yoong. Memangnya apa alasan yuri eonnie melarang kita bertemu eoh ?”.

“Habis kkab itu bukannya membantuku malah asik pergi dengan orang lain”. Adu yoona pada gadis yang lebih muda darinya itu.

Sedang asik asiknya mereka bercanda, ternyata yuri masuk dan mendapati seohyun tengah tertawa bahagia. Seketika saja yuri merasakan dadanya bergemuruh. Ia tahu, ia tidak bisa membiarkan keadaan ini bertambah lama lagi. Ia juga ingat jika dua hari lagi adalah hari yang tepat untuk memberitahu seohyun semuanya. Hari yang mungkin akan membuat semuanya kembali seperti sedia kala.

“Eonnieeee”. Panggil yoona sambil melambaikan tangannya.

” Mwo? Ada apa dengan yuri eonnie? Kenapa dia diam saja. Semakin hari semakin aneh saja ckckck”. Tanya yoona sambil melihat eonnie nya yang terkihat aneh.

“Eonnie gweanchana ?”. Tanya seohyun yang ntah sejak kapan sudah berdiri disampingnya.

” Ah ? Mwo ? Oh seoh kau disini”. Kata yuri gelagapan.

” Tentu saja eonnie. Aku sengaja datang karena aku ingin bertemu dengan yoong. Apa eonnie baik – baik saja?”. Tanya seohyun terlihat khawatir.

” Yaa yul eonnie kenapa kau menjadi aneh seperti ini huh ? Aigooo…. waeyo?”. Kini giliran yoona yang menanyakan keadaan saudara kandung satu satunya itu dengan heran.

Tidak ada tanggapan dari yuri. Ia seperti tengah melamun, tapi ntah apa yang membuatnya melamun seperti ini. Seohyun dan yoona hanya menatapnya heran. Yuri menjadi aneh sejak beberapa hari yang lalu. Menjadi pelamun dan pendiam dan tentu saja itu terlihat aneh.

” Yuri eonnie, aku dan yoong bertanya kenapa kau diam saja ? Apa kau baik – baik saja hmm ?”.

” Ah? A..ahaha… aniya. Nan gweanchana yoong, im fine seo. Mungkin hanya lelah saja. Apa kalian sudah makan ? YA kwon yoona apa tugas yang eonnie berikan sudah kau kerjakan?”. Tanya yuri sambil menunggu jawaban dari dongsaengnya.

” Tinggal sedikit lagi dan aku akan segera menyerahkannya padamu hehehehe….”. Lapor yoona semangat.

” Ah~,,, anak pintar… aku lapar. Ayo kalian temani eonnie makan”. Ajak yuri sambil berjalan meninggalkan keduanya.

” Kajjah hyunie~”. Yoona menggandeng tangan seohyun agar mengikutinya.

Setelah kepulangannya dari rumah kwon bersaudara, seohyun segera menuju kamar tercinta nya. Dikamar yang bernuansa putih serta dekorasi penuh dengan cartoon kesukaannya, ia memilih merebahkan dirinya di kasur berukuran besar. Matanya tak sengaja menangkap kalender yang ditanggalannya dilingkari oleh pulpen warna biru.

” 27 November ?”. Gumamnya bingung.

” Ada apa dengan tanggal itu ? Apa ada yang special di tanggal 27 ?”. Seohyun mencoba mengingat hari special apa yang jatuh di tanggal yang di lingkarinya.

Seohyun mencoba mengingat, namun ia tidak dapat menemukan apa apa ditanggal 27. Semua orang terdekatnya tidak ada yang berulang tahun atau merayakan apapun ditanggal tersebut.

” Ah sudahlah. Mungkin aku hanya iseng saja melingkari ditanggal itu”. Kata seohyun akhirnya.

Saat ia ingin beranjak dari dari kasur, ponselnya bergetar. Bunyi pesan masuk dan tanpa membuat si pengirim menunggu lama, seohyun segera membuka dan ia menenukan nama yang tidak asing lagi untuknya.

Yuri eonnie, 1 message

Malam seo, maaf eonnie mengganggumu malam malam beginj. Apa besok kau free? Aku ingin kau ikut bersamaku menemui seseorang. Otteh?”.

Kira – kira seperti itu isi dari pesan yang masuk dari yuri. Seohyun mengerutkan keningnya tidak paham. Tumben sekali yuri eonnie meminta bertemu secara formal padanya. Lalu siapa orang yang dimaksud dengan yuri itu? Kenapa tidak mengajak yoona saja, begitu pikir seohyun.

” Besok aku ada janji dengan yoona sekitar jam 12 siang, apa masih bisa?”.

Seohyun segera membalas pesan yuri begitu ia selesai mengetiknya. Tidak lama setelah itu seohyun mendapat balasan dari yuri.

” Gweanchana, eonnie janji tidak akan lama. Besok eonnie jemput jam 9 pagi. Otteh ?”.

Begitu balasan yang diterima nya. Masih dengan tanda tanya besar namun seohyun segera mengiyakan ajakan yuri. Memang besok ia ada janji dengan yoona untuk bertemu, tapi itu siang hari dan yuri janji jika hanya sebentar. Dan seohyun selalu mempercayai semua kata kata yang keluar dari kwon yuri karena yuri tidak pernah berbohong dalam hal yang mungkin tidak penting.

Pukul 9 tepat mobil audi hitam metalik milik yuri sudah terparkir didepan pagar ruma seohyun. Rumah dengan gaya minimalis namun terlihat mewah itu hanya diisi oleh seohyun dan beberapa maid yang memang sudah bekerja di kediaman keluarga Seo sejak seohyun baru berusia 2 tahun.

” Pagi hyunie “. Sapa yuri ramah.

” Eonnie ?? Kenapa kau memakai… pakaian seperti itu?”.

Seohyun heran dengan pakaian yang saat ini dikenakan oleh yuri. Serba hitam serta kaca mata hitam yang tergantung indah di matanya. Dengan memakai kemeja hitam serta dipadu jean hitam membuat yuri seperti ingin pergi ke sebuah pemakaman saja begitu pikir seohyun. Tapi bukannya menjawab, yuri malah tersenyum lebar sambil berjalan mendekati seohyun yang terlihat bingung itu.

” Wae ?”.

” An…aniya. Hanya saja, pagi ini kau terlihat sedikit aneh eonnie. Mengapa kau memakai pakaian serba hitam seperti ini?”.

” Hahahaha aigooo… aku kira ada apa. Kau nanti juga akan tahu seo. Kajjah nanti keburu siang, bukankah kau ada janji dengan yoong ?”.

” Ahh ye~, eonnie benar”. Angguk seohyun mengiyakan.

Di perjalanan yang ntah kemana, baik yuri maupun seohyun tidak banyak bicara. Jika yuri sibuk dengan menyetir, seohyun malah sibuk melihat ponselnya setelah itu ia tersipu malu. Ntah apa yang membuatnya seperti itu, tapi mungkin senyum itu tidak akan bertahan lama lagi.

Mobil semakin pelan ketika memasuki sebuah pekarangan besar. Yuri menghentikan mobilnya dan keluar terlebih dulu setelah itu ia membantu seohyun. Sementara itu seohyun hanya diam saja ketika mengetahui kemana yuri mengajaknya. Tiba tiba saja raut wajah seohyun berubah menjadi seperti ketakutan. Yuri yang menyadari perubahan dari seohyun segera merangkulanya dan menepuk pelan punggung seohyun.

” Kajjah kita kedalam”. Ajak yuri.

” E… eon… eonnie… kenapa kita kesini?”.

” Kau akan tahu nanti seo. Kajjah, dia sudah menunggu kita”. Senyum yuri sambil menggandeng seohyun agar mengikutinya.

Heaven.

Sebuah perkuburan yang terletak di barat incheon terlihat lengang pagi ini. Tidak banyak penziarah dan itu menjadikan tempat peristirahatan terkahir manusia terlihat sangat sepi. Hanya ada beberapa saja dan itu pun letaknya cukup jauh dari tujuan yuri. Seohyun menjadi pendiam sejak kedatangannya ke sini. Jantungnya mendadak berdetak tidak karuan. Ia merasakan ketakutan yang sangat luar biasa. Seperti mengingat sesuatu, seohyun menghentikan langkahnya tepat beberapa meter dari pusara yang kini tengah dipandagi oleh yuri.

” Annyeong, mianhae eonnie baru sempat datang melihat mu, yoong”.

Mendengar nama yoona, seohyun segera mendekat dengan perasaan yang luar biasa takut. Badannya bergetar hebat. Matanya sudah tak bisa melihat dengan jelas karena genangan air mata yang kini memenuhi mata miliknya.

Didepannya terlihat sebuah pusara dengan nama yang sudah tidak asing lagi. Dunianya seperti berhenti saat itu juga. Seohyu jatuh terduduk. Seperti mimpi dan tidak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya.

Kwon yoona

30 – 5 – 1990

RIP 27 – 11 – 2014

” Yoong… ??? In…ini tidak benar kan?”.

“Ini…. ini… tidak mungkin…. eonnie… ini… ini… ani. Aniyaaa!!!!”. Teriak seohyun sambil memukul mukul tanah.

” Seo… yoona… yoona sudah meninggal tepat satu tahun yang lalu”. Yuri mencoba tenang ketika mengatakannya.

” Ti… tidak mungkin… hiikkss.. hikkkss… yoong… aniya yoong”.

Flashback

Seoul, 27 november 2014

” Yeoboseo hyunie ??”.

“………”.

” Aah~ baiklah tunggu disana aku akan segera menjemput mu setelah aku menyelesaikan semua pekerjaanku bersama yuri eonnie”.

“……..”.

” Ne~, gidaryeo ne. Aku akan sampai 30 menit lagi. Annyeong~”.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya bersama dengan sang eonnie, yoona segera pergi menjemput seohyun yang sudah menunggunya di perpustakaan kampus. Memang jarak kantor dengan kampus mereka tidak terlalu jauh. 30 menit kemudian yoona sudah sampai dan segera menemui seohyun.

” Hyunie~”. Panggil yoona pelan saat melihat seohyun yang tengah asik dengan buku tebal di tangannya.

” Yoong ? Kau sudah sampai?”. Senyum seohyun sambil menggeser duduknya.

” Eumm… apa masih lama? Hyunie~ kajjah kita makan. Aku lapar sekali~”.

” Aishh.. kau ini. Yasudah kajjah. Aku juga sudah selesai”. Seohyun segera membereskan barang barang miliknya dibantu yoona.

Setelah makan siang, yoona memutuskan mengajak seohyun ke pantai yang memang menjadi tempat favorit mereka. Di perjalanannya menuju pantai, yoona tidak berhenti menceritakan apa saja yang tadi ia kerjakan bersama dengan yuri.

” Kau tahu ? Eonni memintaku untuk memulainya dari bawah. Bukan langsung seperti di drama drama yang pernah aku lihat sebelumnya”.

” Aku setuju dengan yuri eonnie. Setidaknya itu bisa membantu mu untuk kedepannya”.

Karena yoona tidak terlalu memperhatikan jalan, ia tidak melihat jika ada sebuah truk yang tengah melaju kencang ke arahnya. Semuanya terlambat ketika yoona menyadari truk itu berjalan ke arahnya.

Supir truk yang sedang mengantuk itu kaget luar biasa dan membuatnya membanting stir ke kiri, tapi itu membuat mobil yang tengah dikendarai yoona sedikit oleng. Karena yoona panik, ia segera memutar stirnya dan  menyebabkan mobilnya terpelanting serta keluar dari jalur. Didepanya sebuah mobil sedan yang tengah melaju sedang tidak sempat menghindar maka dari itu tabrakan pun tak terelakan. Audi putih itu terbalik beberapa kali sebelum berhenti menabrak pembatas jalan.

” H…hyu…nie…”.

Flashback end

Setelah tabrakan maut itu, baik seohyun maupun yoona segera dilarikan kerumah sakit. Parah. Itulah yang dapat dikatakan jika kalian melihat bagaimana kondisi keduanya. Darah mengalir dari kepala mereka. Membuat yang melihatnya hanya bisa berdoa agar mereka selamat.

3 hari setelah kejadian tabrakan itu, kwon yoona semakin kritis dan tepat pada tanggal 27 november, ia berhenti bernafas. Ia menyerah pada rasa sakit yang didapatnya akibat kecelakaan maut tersebut. Memang, dokter sempat memberi tahu yuri jika tidak ada kesempatan besar untuk yoona bisa bertahan hidup jika dilihat dari seberapa parah kondisi adiknya.

Sedangkan seohyun, ia mengalami koma selama 1 bulan akibat benturan keras dikepalanya. Karena itu pula ia mengalami kebutaan. Tapi berkat yoona, seohyun dapat melihat kembali. Yaa,,,, yuri mengikhlaskan mata adiknya untuk diberikan kepada seohyun agar ia masih bisa melihat mata itu didalam seohyun.

Setelah seohyun sadar, ia sepertinya baik baik saja. Namun itu tidak bertahan lama. Seohyun seperti lupa dengan semua kejadian yang dialaminya. Dan yang lebih parah, ia beranggapan jika yoona masih hidup.

Traumatic visual

Itulah yang dikatakan dokter saat ia memeriksa kondisi seohyun. Traumatic visual atau yang biasa disebut dengan halusinasi dimana orang yang mengalami gangguan ini seperti dapat melihat atau merasakan dan mendengar sebuah objek yang sebenarnya tidak nyata. 

Trauma ini berlangsung lama. Semua yang mengetahui jika seohyun menderita trauma, merasa kasihan pada gadis itu. Setiap kali seohyun mulai berbicara sendiri itu artinya ia tengah mengobrol dengan yoona.

Itulah sebabnya mengapa yonghwa, namja yang bertemu dengan seohyun di kantin tempo hari seperti enggan untuk berbicara banyak dengan seohyun. Semua orang tahu keadaan seohyun. Semua yang dilakukan seohyun selama satu tahun ini hanyalah kamuflase. Maksudnya adalah, semua yang seohyun lakukan sebelumnya sudah pernah seohyun lewati sewaktu yoona masih hidup.

Dimulai dari pantai. Dulu keduanya memang pernah bermain dipantai sambil menunggu matahari terbenam. Dan keduanya saling mengungkapkan perasaan. Itu sudah terjadi sejak 2tahun lalu dan itu artinya jauh sebelum kejadian itu berlangsung.

Kejadian ketika di kediaman kwon pun sama . Itu pun sering terjadi dan yuri yang sudah hapal hanya bisa menundukan kepalanya sedih melihat seohyun yang sepertinya masih belum bisa menerima kenyataan dimana yoona sudah tidak ada. Yoona hanya hidup di dalam kenangan gadis itu.

” Hikkss…. hikkss… yoong…. aku….”.

” Hiiikksss…. hiikkksss… yoong… kenapa seperti ini…. hiiikkss… aku…”.

Siapapun yang mendengar tangisan seohyun pasti akan ikut merasakan betapa sedihnya gadis itu. Ia mengingat semuanya. Ingat dimana kecelakaan itu terjadi. Ingat bagaimana yoona yang berusaha menyelamatkannya. Ia mengingat semuanya.

” Wae… yoong ? Waee ??? Kenapa kau meninggalkan ku ? Hiikkkss…”. Seohyun meraung sambil memukul dadanya yang terasa sangat sesak.

Yuri mendekat dan membawa gadis yang lebih muda 2tahu darinya itu kedalam pelukan hangatnya. Ia memeluk seohyun erat. Mengelus punggung dan kepala gadis itu pelan, mencoba memberi ketenangan untuknya.

“Eon…eonnie… ke… kenapa sepeti ini huh?? Kenapa yoong…”.

” Ssshhhhhttt… uljmarayaeo sayang~,,, uljimarayeo….”.

“Yoong….”. Lirih seohyun.

” Yoong sudah tenang diatas sana seo. Ia pasti tengah tersenyum karena kau mengunjungi nya hari ini”.

” Yoona sudah menunggu mu lama untuk bisa datang menemuinya di rumah baru untuk gadis jahil sepertinya”. Kata yuri menenangkan seohyun.

” Yoong…. bogoshipeo… jeongmal. Mianhae… aku baru mengunjungi mu hari ini”.

THE END

P.S

Annyeeeoong *tebarkeong

Loha para chingu, cuma mau bilang mungkin ini ff yoonhyun gw yg pertama dan terpanjaaaaaaaaang pula. Susah asli buat ff cast maknae dah. Kurang ngeFeel sih tapi yaudah deh gw coba aja. Maap bgt kalo semisal udh panjang plus typo bertebaran tapi ff nya kaga nyambung apalagi bagus buat di baca. Namanya juga coba2 yegak ? Hahahahaha….

Ooi, buat my chingu yg req ini ff. Sorry yah kalo ga sesuai sama yang lu mau. Asli deh gw udh usaha buat dptin feel nya tapi yagini deh… jangan marah ya my chingu ^_^

Happy reading guuyysss 

Posted from WordPress for Android

PENGORBANAN

image

      “Tak ada kisah tentang cinta yang terhindar dari air mata”

PENGORBANAN

Sudah 2 tahun semenjak kejadian malam itu, seorang gadis cantik berperawakan bak malaikat hanya bisa menyesali perbuatannya. Ia selalu menangis saat kembali mengingat kesalahan yang dilakukannya dan berakibat fatal tersebut. Karena perbuatannya pula lah seseorang yang tidak bersalah harus berkorban hanya untuk melindungi dirinya. Menghancurkan masa depan orang itu hanya untuk dirinya yang sangat egois.

” Mian Yul hiks… hikss…”. Tangisnya yang terdengar sangat menyayat hati.

” Mian… jeongmal mianhae”. Sesalnya dengan terus memukul dadanya untuk sedikit meredakan sakit yang hampir membunuhnya.

Dua tahun lalu kejadian naas menimpa dirinya dan mengharuskannya menjadi pengecut dan berlindung dibalik kebaikan seseorang yang sebenarnya sangat menyayanginya itu. Seorang sahabat yang selalu setia memberikan pundaknya untuk sekedar menjadi sandaran ketika ia bersedih. Seseorang yang akan menyeka air matanya ketika ia menangis. Seseorang yang rela bertanggung jawab meskipun itu bukan kesalahannya.

Orang itu adalah kwon yuri….

Gadis periang dan sedikit bodoh namun baik hati. Sangat berbakat dibidang dance dan ia juga merupakan kapten basket puteri di universitas ternama seoul. Gadis yang akan membuat siapaun merasakan hangat hanya karena senyum dan tatapan dari matanya. Gadis yang hampir saja menjadi idol. Jika saja ia tidak datang dan menyelamatkan sahabatnya…

Jessica jung…

Gadis idola yang namanya bahkan sudah dikenal seantero kampus dan mempunyai banyak penggemar meskipun ia bukan artis. Mempunyai wajah yang bak malaikat membuatnya begitu terkenal ditambah dengan suara merdu yang dimiliki olehnya tentu saja membuatnya begitu diidolakan. Banyak namja yang berlomba untuk mendapatkan perhatiannya namun sepertinya mereka harus kecewa karena ternyata gadis yang diimpikannya itu sudah mempunyai seorang kekasih tampan bernama Lee Donghae, namja tampan namun sangat tempramental dan suka memukul.

Semua berawal dari malam itu. Malam yang membuat semuanya berubah bagi keduanya, jessica jung maupun kwon yuri.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Seoul, 2014

Dilapangan basket sore ini terlihat sepi hanya ada beberapa orang saja yang tengah terlihat sibuk dengan bola bundar berwarna orange. Ditengah lapangan terlihat seorang yeoja tengah asik mendribel bola basket dan bersiap untuk mencetak 3point dari jarak yang cukup jauh dari ring. Peluh sudah membasahi kulit tannednya dan membuat gadis itu terlihat begitu sexy. Ia tidak perduli dengan peluh yang mengucur deras dan membasahi keningnya.

” Yuuulll “. Panggil seseorang dari pinggir lapangan.

Gadis yang dipanggil pun menolehkan kepalanya dan tersenyum ketika melihat siapa yang tengah berdiri sambil menggoyangkan botol air mineral. Kwon yuri pun akhirnya mendekati dan tersenyum bodoh menampilkan deretan gigi putih miliknya.

” Kau belum pulang eoh ?”. Tanya yuri sambil membuka tutup botol yang diberikan oleh gadis itu.

” Tentu saja belum. Aku menunggu mu bodoh. Apa kau sudah selesai?”. Tanya gadis itu yang ternyata jessica jung.

” Huh ? Memangnya kemana kekasih mu?”.

” Donghae oppa tidak bisa menjemput ku sore ini. Sibuk seperti biasa”. Balas jessica santai sambil membantu yuri melap peluh di kening gadis tomboy itu.

” Oh. Kenapa kau tidak bilang saja sica~ah. Apa kau sudah lama menunggu ku?”.

” Aniya. Aku baru saja selesai dengan kegiatanku. Aku sengaja tidak bilang karena kau pasti akan kembali meninggalkan latihan basket mu lagi yul. Ingat kau itu kapten”.

” Aah~ kau benar. Yasudah kau tunggu sebentar, aku akan mengganti pakaianku dulu”.

Di apartemen mewah yang terletak di pinggiran kota seoul, jessica jung tengah bersiap untuk pergi dengan donghae, kekasih tampan berambut coklat yang malam ini terlihat tampan dengan kemeja putih dipadukan jeans serta jam tangan mahal di pergelangan tangannya.

” Yuri~ah,,,, otteh ? Apa aku sudah cantik?”. Tanya jessica pada yuri yang malam itu hanya memakai hotpants serta baju mickey favoritnya.

” Kau selalu terlihat cantik nona jung”. Balas yuri sambil tersenyum melihat betapa cantik jessica malam ini.

Mendengar pujian yang diberikan yuri, tanpa sadar membuat seorang jessica jung tersipu malu. Wajah putih tanpa make up tebal itu semakin terlihat merona. Keduanya sama sama tau jika didalam hati masing masing tersimpan sebuah rasa berbeda yang lebih dari kata sahabat. Hanya saja baik yuri maupun jessica tidak ingin menghancurkan persahabatan yang bahkan sudah terjalin sejak mereka sama sama masih duduk dibangku taman kanak – kanak.

Karena itu, jessica mencoba menjalin hubungan dengan donghae hanya karena ia tidak ingin perasaanya bertambah untuk yuri. Dan lambat laun gadis itu memang mempunyai perasaan lebih untuk namja bermarga lee tersebut. Yuri sendiri tidak ingin mengganggu hubungan keduanya dengan bersikap biasa saja meskipun terkadang ia sedikit merasakan sakit. Tapi melihat jessica yang selalu tersenyum, ia melupakan semua rasa sakitnya.

Sementara itu di restoran dengan suasana mewah, jessica tengah asik berbincang dengan donghae. Mata gadis itu tidak dapat berbohong jika ia memang bahagia. Donghae seperti sangat memanjakan gadis bermarga jung itu.

“Bagaimana jessica ? Apa kau suka makanan disini?”. Tanya donghae sambil menengguk wine miliknya.

” Aku suka oppa. Gomawo sudah mengajak ku makan malam disini”. Jawab jessica dengan suara indah miliknya.

Keesokannya seperti biasa, di ruang latihan dance yuri tengah berlatih dan meregangkan otot2nya. Sudah 1 jam ia diruangan ditemani oleh musik hip hop yang mengalun kencang. Jika tidak latihan basket, mahasiswi tingkat akhir itu selalu menghabiskan waktunya di ruangan bernuansa biru untuk melatih beberapa juniornya.

Semalam ia tidak melihat jessica pulang, dan pagi tadi saat yuri ingin membangunkan jessica untuk berangkat bersama, yuri mengurungkan niatnya karena tidak tega membangunkan puteri tidur tersebut. Memang, jadwal mereka berbeda tapi biasanya keduanya selalu berangkat bersama. Tapi pagi tadi yuri memilih untuk berangkat sendiri.

” Kwon Yuri”. Panggil suara yang sudah tidak asing lagi.

” Mwo ? Kenapa kau kesini ? Memangnya kegiatanmu sudah selesai?”.

” Sudah. Yuri~aaahh,,, paegopayeooo… kita makan siang neeee?”. Aegyo jessica sambil bergelayut manja dilengan yuri.

” Ckckckc tidak perlu seperti ini jessica jung. Berlebihan sekali”. Balas yuri sambil membereskan barang barang miliknya dan merangkul jessica keluar dari ruangan dance.

” Wae? Bukankah aku menggemaskan jika seperti itu ?”. Balas jessica masih bergelayut manja.

” Ani. Jika itu Tzuyu yang melakukannya, mungkin akan terlihat menggemaskan dimataku, tapi tidak untuk mu nona”. Kata yuri jahil.

” YAA !!! NO JUGULEEE???”. Teriak jessica sambil mencubit lengan yuri dengan sangat dahsyat.

” Yayayayaya… appoo sica~aahhh,,,, yaiiishhh… yaak untuk apa cubitan mu tadi ? Aigooo jinjaa neomu”. Kata yuri sambil mengusap lengannya yang berubah kemerahan dan mungkin akan menjadi biru beberapa jam kemudian.

” Untuk kata kata mu barusan kwon yuri”. Marah jessica sambil berjalan meninggalkan yuri yang masih mengusap lengannya.

” Kau marah ? Yaaa !! Aku hanya bercanda sica~ah,,,, kajjah kita makan”. Kejar yuri sambil merangkul jessica yang sudah berjalan lebih dulu.

Sesampainya dikantin, yuri dan jessica memilih duduk dipojok karena memang hanya tempat itu yang tersisa. Jessica yang saat ini mengenakan kaca mata berbingkai lebar tentu saja menutupi sebagian mata cantiknya.

” Sica~ah, tumben sekali kau memakai kaca mata? Oh iya, semalam kau pulang jam berapa?”. Tanya yuri sambil menyendok makanannya dengan lahap.

” Aku hanya sedang ingin saja yul. Semalam aku pulang sekitar pukul 11 malam dan aku melihat mu sudah tertidur”.

” Ahh~ begitu…. baiklah”.

Saat jessica melepaskan kaca mata untuk membersihkannya, yuri tidak sengaja melihat keanehan di mata kiri jessica. Tepatnya diatas dekat alis. Terlihat seperti kebiruan padahal semalam tidak ada.

” Sica~ah, coba kau buka kaca matamu”.

“Hmm ? Wae ? Memangnya ada apa ?”.

“Cepat buka saja”. Pinta yuri penasaran.

Jessica terlihat gugup saat melepaskan kaca matanya dan sedikit menunduk tidak berani melihat yuri. Namun sayang, yuri sudah lebih dulu melihat luka memar itu.

” Siapa yang melakukannya sica ? Apa namja itu lagi ? Apa oppa kesayangan mu yang melakukannya?”. Tanya yuri menahan marahnya.

” Ani yul. Ini tidak seperti apa yang kau fikirkan”.

” Memang apa yang aku fikirkan hmm? Aku tanya padamu, apa lee donghae yang melakukannya ?”. 

” Yull jeball aku baik baik saja. Kau lihat sendirikan ?”. Jessica mencoba menenangkan yuri yang tampak marah didepannya.

” Apanya yang baik baik saja hah? Mata mu lebam dan itu bukan yang pertama kalinya jessica”. Yuri menghembuskan nafasnya kasar, ” Kenapa kau selalu membela laki laki yang sudah jelas selalu melakukan kekerasan fisik padamu ?”.

” Yuri~ah,,, aku mencitainya”. Jessica menahan tangisnya.

” Aku tahu kau mencintainya jessica jung. Mencintai laki – laki yang bahkan tidak pernah menghargai wanitanya sendiri. Selalu melakukan kekerasan dan setelah itu ia datang tanpa rasa bersalah padamu. Seolah olah tidak pernah terjadi apa apa. Tersenyum layaknya anak kecil tanpa dosa, dan yang lebih parahnya semua luka lebam mu belum menghilang. Ckckckck laki laki seperti itu kah yang akan kau pilih ?”. Kata yuri sambil menggebrak meja dan memilih meninggalkan jessica dikantin.

Yuri pergi tanpa menoleh. Ia terlalu marah dengan semuanya. Dengan Lee Donghae yang ternyata lelaki brengsek yang hanya bisa memukul dan berteriak kepada kekasihnya, marah dengan kebodohan jessica yang selalu membela kekasihnya yang sudah jelas jelas tidak pantas untuk dipertahankan. Masih banyak namja baik yang menyukainya, bahkan untuk sekedar menyakitinya pun mungkin mereka tidak berani.

Atau paling tidak masih ada dirinya yang sangat sangat sangat menyayanginya. Bukan namja tampan berhati kejam seperti donghae. Tapi apa mau dikata, yuri tidak ingin merusak persahabatan yang sudah terjalin lama itu meskipun ia tau jika jessica mempunya rasa yang sama dengannya.

Setelah kepergian yuri, jessica memutuskan untuk meninggalkan kantin dan menuju keparkiran dimana Audi putih miliknya terparkir disana. Tidak membutuhkan waktu lama, ia segera masuk kedalam mobil miliknya dan menyenderkan kepalanya di kemudi. Ia menangis. Ia selalu menangis jika selesai berdebat dengan yuri. Ia tahu semua yg dikatakan oleh gadis bermarga kwon itu benar. Donghae memang sering sekali memukulnya, bahkan tak jarang lelaki itu melakukannya di tempat umum.

Flashback

Setelah makan malam romantis, keduanya memutuskan untuk pergi dan melanjutkan kencan mereka disebuah mall besar didaerah seoul. Awalnya semua berjalan lancar sampai ketika jessica bertemu dengan kang jowoon, temannya dikampus. Disana mereka tampak asik berbincang sedangkan donghae tengah membeli tiket karena list date mereka malam ini selain makan malam, mereka juga memasukan movie didalamnya. Karena donghae pencemburu, ia tidak suka melihat jessica  dengan lawan jenis dan disana tanpa banyak tanya donghae segera menarik jessica dan membawanya pergi.

Diparkiran mobil donghae menghentikan dan melepaskan genggamannya dan itu membuat pergelangan tangan jessica terlihat merah. Jessica tahu saat ini lelaki didepannya tengah marah dengannya karena suatu hal. Hal yang sebenarnya tidak perlu di permasalahkan.

” Siapa namja itu ? Kenapa kau terlihat dekat sekali?”.

” Dia hanya teman kampus ku oppa. Jowoon opppa senior ku dan tadi kami hanya mengobrol biasa saja”.

” Kau tahukan aku tidak suka melihat namja manapun terlihat dekat dengan mu? Apalagi sampai kau tertawa dan melupakan ku”.

” Aniya oppa, bagaimana mungkin aku melupakan keberadaan mu? Jeball oppa~, ini bukan masalah besar. Kami hanya berbicang tidak lebih”.

” Apa kau bilang ? Bukan masalah besar? HAHAHAHA kau salah jessica jung. Aku membenci lelaki manapun yang terlihat dekat dengan mu, dan kau bilang itu bukan masalah besar huh ? Neo micheosoh?”.

” Oppa aku mohon~,,, bisakah kita masuk kemobil? Banyak mata yang memandang kearah kita”.

” Terserah aku tidak perduli”.

Setelah mengatakan itu, donghae segera masuk kedalam mobil. Meninggalkan jessica begitu saja yang masih berdiri memandang punggungnya.

” Kau mau terus berdiri disana huh? Cepat masuk atau aku akan meninggalkan kau disini”.

” Aku akan pulang dengan taksi saja oppa. Kau tidak perlu mengantarku”.

” MWO ? Kau menolak ajakan ku?”. Donghae segera menarik jessica dan tanpa sadar menghantamkan kepala gadis itu ke kap mobil miliknya.

Jessica yang kaget dan takut hanya bisa menangis tanpa berkata apa apa pada namja yang kini terlihat sangat menakutkan.

Flashback and

Jam sudah menunjukan pukul 11 malam dan itu tidak membuat yuri untuk memutuskan segera pulang. Ia masih betah berdiam diri di pinggiran sungai han sejak dari beberapa jam yang lalu. Ia tahu, mungkin reaksinya tadi sangat berlebihan pada jessica tapi ia tidak bisa menahan kekesalannya menerima kenyataan jika yang disakiti namja sekya itu adalah jessica.

” Haaaaahhh… namja brengsek. Jika aku tahu kau akan sekasar itu padanya, aku tidak akan membiarkan mu membawanya malam itu. Bagaimana bisa seseorang yang saling mencintai tapi kau malah memperlakukan pasangan mu seperti itu”.

” Dan kau sica~ah,,,, aku tidak mengerti kenapa kau masih saja bertahan dengan seseorang yang tidak menghargaimu huh? Cinta ? Ckckck bullshit sekali”.

Drrrttt… drrrrtttt….

Yuri merasakan getaran pada ponselnya. Awalnya ia malas untuk menerima panggilan tersebut, tapi melihat siapa pemanggilnya yuri mengurungkan niatnya. Meskipun malas, ia tetap mengangkatnya.

” Yeoboseo?”. Sapa yuri malas.

Yu….yull…. tolong akuu… hikss hiksss”.

” Sica ?? Wae?? Kau kenapa huh?”. Tanya yuri panik mendengar suara isak tangis jessica.

“Toloong aku yull… ak.. aku ta..kut… jeball”.

” Dimana kau sekarang ? Aku akan kesana. Kau tenang ne?”. Setelah pembicaraan barusan yuri segera bergegas menemui jessica.

Sementara itu dikamar hotel berbintang lima, seorang gadis tengah menangis dengan ketakutan yang luar biasa. Tangannya berlumuran darah serta kemeja putih yang dipakainya pun tak luput dari bercak darah. Suasana kamar mewah itu pum sangat kacau. Banyak pecahan kaca dimana2.

Terdengar bel dan tanpa ragu lagi jessica segera membuka pintu dan menemukan yuri yang tengah berdiri dengan raut wajah cemas. Jessica segera menariknya masuk kedalam dan memeluk yuri erat. Sangat erat dan menangis hebat. Yuri terbelalak kaget melihat ruangan didalamnya yang luar biasa berantakan, dan matanya lebih terbuka lebar saat melihat genangan darah di pojok ruangan.

” Sica~ah ada apa ini ?”. Tanya yuri sambil melepaskan pelukan.

“Hei apa yang terjadi disini ? Kenapa beran…”.

” Ak…. aku… membunuh donghae oppa yul… hikksss… “. Kata jessica ketakutan.

” MWO ???”. Kaget yuri sambil berteriak.

” Aku… takuutt yuri~aahh…. akuu takuutt hiikksss…”. Jessica jatuh terduduk sambil menutup wajahnya.

Yuri lebih memilih mengikuti genangan darah yang sepertinya sudah mulai mengendap di pojok ruangan. Mulutnya terbuka lebar dan matanya terbelalak kaget. Dipojok ruangan terlihat donghae yang tergeletak dengan perut  berlumuran darah. Yuri memutuskan untuk mendekat dan memeriksa denyut nadi namja yang saat ini sudah terasa sangat dingin. Tak ada tanda tanda denyut nadi. Yuri mendadak takut dan hanya menatap kosong tanpa berniat melakukan apa apa. Pikirannya penuh dengan tanda tanya besar kenapa bisa seperti ini. Didekatnya pisau yang masih tersisa darah tergeletak horor. Terlihat sangat tajam dan mengerikan.

Tak ada pembicaraan sampai yuri yang memulainya terlebih dulu. Duduk mendekat dan memeluk jessica sekedar untuk membuat gadis itu tenang. Mengusap pelan punggung gadis itu. Keduanya sama sama menangis namun dalam hal yang berbeda.

” Sica~ah,,, bisa kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi ? Kenapa bisa seperti ini?”. Tanya yuri lembut sambil mengusap air mata jessica.

” Aku…. aku tidak sengaja yuri~aah… aku… aku takuut dengannya dan aku… aku berusaha melindugi diri ku… tapi aku…”.

” Donghae oppaa…. berusaha… untuk memperkosa ku hiikksss… hiikksss”.

” Aku hanya berusaha melindungi diriku… tapi oppa memukul ku dan aku… aku melihat pisau itu… setelah itu.. aku… aku…”.

” Ssshhh… sudah tidak perlu kau teruskan”. Yuri kembali memeluk wanita yang sangat disayanginya itu.

Yuri sedang memikirkan sesuatu. Ia tahu jika sampai tercium polisi, masa depan jessica pasti akan tercoreng. Mimpi mimpinya harus dikubur jika semua tahu jika jessicalah yang melakukan semuanya. Dan ia tidak mau gadis itu merasakan kenyataan pahit ini. Akhirnya ia mengambil langkah berani, bahkan ia tidak memikirkan kedepannya bagaimana. Yang ia tahu, mungkin ini dapat membantu jessica meskipun ia sendiri yang akan menanggung semuanya.

“Sica~ah cepat buka baju mu”. Pinta yuri sambil ia membuka bajunya sendiri.

” Apa yang akan kau lakukan yul ?”.

” Sudah cepat buka saja baju mu. Dan ini, pakai baju ku”. Yuri menyerahkan bajunya dan serang ia hanya memakai Bra saja.

Jessica bingung namun ia tetap mengikuti perintah yuri dengan membuka pakaiannya yang banyak darah donghae. Mereka bertuka pakaian, yuri memakai kemeja putih jessica yang penuh darah, sedangkan jessica memakai kemeja milik yuri.

Yuri bergegas mengambil pisau yang sebelumnya tergeletak dan mencucinya mencoba menghilangkan sidik jari jessica, tetapi justru kini sidik jarinya lah yang tertinggal. Menutup mayat donghae dengan selimut dan langkah terakhir ia meminta jessica untuk segera pergi dari sini.

“Mwo ? A…aniya yul… aku.. tidak bisa pergi dari sini”. Kata jessica kaget ketika yuri memintanya pergi sejauh mungkin.

” Sica~aah…. jeball… dengarkan aku. Kau ingat apa mimpi mimpi mu ? Menjadi penyanyi terkenal dan kau akan melakukan banyak tour. Iyakan ?”. Tanya yuri sambil memegang pundak jessica.

” Tap… tapi…. ini tidak bisa yuri~ahh… hiiikkkss…. hikkkkss… kau tidak bisa melakukan ini untuk ku”. Tangis jessica kembali pecah ketika mengetahui niat yuri untuknya.

” Jessica Jung, dengarkan aku. Cepat pergi dari sini sebelum semuanya datang dan terlambat. Jangan pernah menoleh kebelakang apapun yang terjadi. Aku akan memanggil polisi sekarang”.

” Aniya yuri~ahh… aniya.. jeball… jangan melakukan ini…. kau juga mempunyai mimpi dan aku…”.

” Kaaah jessica… KAAAHH. Pergi dari sini”. Yuri mendorong jessica agar segera pergi dan meninggalkan  hotel ini sejauh mungkin.

“Yeoboseo ? Apa ini kantor polisi ?? Bisa kah kau datang ke hotel xxxxx? Aku…. aku… aku telah membunuh seseorang”. Kata yuri sambil takut.

” Yuri~ah… andwe…”.

” Pergilah jessica aku mohon…”. Kata yuri lembut dengan senyuman tulus miliknya.

” Mianhae yull… aku… mencintai mu”. Setelah itu jessica mencium tepat di bibir yuri.

Keduanya berpelukan dengan air mata yang tentu saja berjatuhan. Yuri melepas pelukannya dan mendorong jessica agar segera pergi dari sini sebelum polisi datang.

Tepat saat jessica keluar dari hotel beberapa polisi masuk. Jessica kembali menangis dan menutup mulutnya agar isak tangisnya tidak terdengar dan membuat orang lain melihatnya.

Dari kejauhan jessica memperhatikan yuri yang tengah di bawa oleh beberapa polisi. Dengan tangan terborgol dan wajah yang menunduk membuatnya terlihat begitu menyedihkan. Tak ada air mata yang kembali menetes di matanya. Jessica tak bisa diam berdiri saja dan akhirnya ia berlari mendekat, belum sempat ia mendekat, yuri yang menyadarinya segera menggelengkan kepalanya tanda tak setuju. Dengan gerakan bibir yuri meminta jessica agar segera pergi dari sini.

Jessica menggelengkan kepalanya dengan pandangan yang sudah tak begitu jelas dikarenakan air matanya yang kian banyak. Namun semuanya percuma karena pada kenyataanya yuri sudah bersaksi dan polisi sudah menetapkan yuri sebagai tersangka pembunuhan tersebut.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Seoul 2016

Tepat dua tahun sudah yuri menjalani hukuman yang diterimanya karena kebohongan yang ia lakukan agar dapat melindungi jessica. Ia tahu semuanya telah berubah. Bahkan semua mimpinya yang hampir saja terwujud menjadi seorang penari profesional atau pebasket nasional harus ia kubur dalam dalam. Ia ikhlas melepaskannya agar jessica tidak merasakan dinginnya dinding tahanan.

Semua dilakukannya karena rasa yang begitu besar untuk seorang gadis yang sangat ia cintai. Gadis itu adalah jessica jung.

Diruangan besar terlihat banyak sekali lighstick berwarna pink dengan bertuliskan jessica jung. Semua ikut bernyanyi mengikuti penyanyi yang memang sedang menjadi idola di dunia. Dengan suaranya yang merdu ditambah wajah cantik tak susah membuatnya menjadi idola dengan banyak fans. Ini adalah lagu terakhir sebelum ia menutup rangkaian konsernya dan kembali sibuk dengan beberapa jadwalnya yang masih harus ia jalankan.

” Ini adalah lagu terakhir dari ku sebelum aku mengakhiri konser ku. Lagu ini aku sangat menggambarkan perasaanku saat ini”.

Jessica terlihat sedikit menghela nafas, dan ia menyeka air matanya yang keluar begitu saja. Mengingat seseorang yang sangat ia rindukan. Seseorng yang sangat ia inginkan kehadirannya disini. Namun itu tak akan mungkin. Ia tahu ia sangat jahat karena sudah berapa lama ia tak pernah melihat yuri di jeruji besi karena yuri yang memintanya. Yuri tak ingin ada yang mengetahui jika seorang penyanyi seperti jessica mempunya teman yang kini berada didalam tahanan.

” Apa kalian pernah melakukan sebuah kesalahan yang berakibat fatal ? Dan karena kalian takut untuk mempertanggung jawabkannya, kalian mengorbankan orang lain?”. Tanya jessica sambil bersiap memainkan piano, mempersembahkan lagu terakhirnya.

” Jika pernah, aku tahu seperti apa rasanya…. aku harap dari kalian tidak ada yang pernah melakukan itu. Lagu terakhir ku, aku persembahkan untuk seseorang yang kini sangat aku rindukan….”.

Setelah menyanyikan lagu terakhir, jessica segera membungkuk tanda penghormatan kepada fansnya. Ia bahagia, namun sekaligus merasakan kesedihan yang sudah ia rasakan sejak beberapa tahun terakhir.

” Yuri~aahh….. mianhae… nan jeongmal bogoshipeoo…..”. Katanya sambil mengusap pipinya yang kembali basah karena air matanya.

THE END

P.s

Oooiii annnyeoooooong *kibasrambutalaraisa *dibacokReader *BodoAmat

Sorry yak ff yg kmrn kayanya bakalan stuck disitu bae dah. Soalnya si authornya yg mirip tempelan kulkas bilang udh bingung mau lanjutin ff nya apa kaga *BacokAjaGwIkhlas

Sebagai bentuk permintaan maafnya, gw buatin FF yang asli panjaaaaaang bgt menurut gw. Asli ini ff oneshoot terpanjang yng kayanya pernah gw buat dah…. okelah dr pada drabel dimari mending langsung baca aje yehh…

Oh iyaaa… ooiii buat mba broo… tolong yaahh… fansnya ‘YULIA’ dikomen kalo abis baca. Lu mah kebiasaan, baca doangan kaga komen. Awas lu yak kaga komen, gw samperin ke rumah lu ntar wkwkwkwkw….

Posted from WordPress for Android

The Story of us

image

– No coffe. Jangan lupa membawa tissu. Ah~ satu lagi. Awas saja jika kau sampai telat makan!!.

Sudah berkali kali aku membaca pesan yang dikirim olehnya. Meskipun terlihat biasa saja, namun tetap saja dapat membuat senyum ku terus mengembang di siang hari. Ntahlah, aku begitu menyukai semua perhatian yang diberikan gadis itu. Perhatian yang menurutku sangat manis dan membuat jantung ku selalu berdegup kencang hanya jika aku mendengar suaranya.

Ah~ , aku bahkan sampai lupa memperkenalkan diri karena aku begitu bersemangat saat membaca pesan singkat darinya. Yeaah… perkenalkan, nama ku kwon yuri, usia ku baru menginjak 21 tahun dan sekarang, aku masih berstatus mahasiswi di sebuah perguruan swasta di seoul. Tidak banyak cerita tentangku selain aku mempunyai beberapa teman yang bisa dibilang cukup dekat denganku. Sebut saja Kim Taeyeon, yeoja mungil yang sangat menyukai es cream vanilla, taeng, begitu aku memanggilnya juga sangat menggilai warna biru dan tentu saja ia sangat menyukai warna langit di siang hari. Lalu, Im Yoona. Ia merupakan maknae di antara kami. Ia pribadi yang ceria dan sangat menggilai semua makanan. Karena itu kami memanggilnya shikshin, meskipun ia sering makan, tapi anehnya ia tidak pernah terlihat gemuk sekalipun. Bahkan, karena yoong pula lah aku bisa mengenal sosoknya, sosok yang merubah semuanya. Dan satu lagi, Tiffany Hwang. Gadis cantik maniak pink itu sangat menyukai karakter robot kucing dari masa depan, atau yang biasa kita sebut Doraemon. Gadis itu bahkan mengumpulkan berbagai aksesoris dengan bentuk kucing gendut yang sangat takut tikus itu kekekeke~

Pertemanan kami berjalan lancar sampai suatu hari, yoona mempunyai ide untuk membuat sebuah Grup dari applikasi ternama. Dari sanalah aku mengenal sosoknya. Sosok yang mampu membuat ku begitu penasaran sampai aku memberanikan diri untuk mengajaknya berkenalan dan menawarkan sebuah pertemanan.

Sebuah grup yang terdiri dari beberapa anak anak yang tidak aku kenal sebelumnya, hanya yoona dan kim taeyeon saja. Disana, aku mengenal sosoknya. Sosok yang tidak terlalu mencolok hanya saja mampu membuatku cukup penasaran. Yaah… Sosok gadis bermata sayu, Jessica Jung. Gadis cantik beraura dingin namun sangat membuat ku ingin mengenalnya lebih. Dari sana, kami menjadi sering berkomunikasi ntah itu hanya saling mengirim pesan atau tingkatan paling jauh yaitu saling mendengarkan suara untuk pertama kalinya. Yaahh… akhirnya kami memberanikan diri untuk saling menelpon. Pendapat pertamaku ketika mendengar suaranya, aku akui jika suara pelan dan sangat khas miliknya mampu menghipnotisku dan membuatku  menjadikan suara paling aku inginkan setiap harinya.

Jessica Jung….

Gadis yang bahkan belum pernah aku temui itu dalam sekejap mampu membuatku selalu memikirkannya meskipun kami belum pernah bertatap muka secara langsung. Apa kalian tau jika kami hanyalah teman dunia maya ? Yeaah… oke aku akan menceritakan jika disini, kami maksud ku, aku dan jessica serta taeyeon dan tiffany merupakan pasangan LDR. Ah larat. Bukan pasangan hanya saja, kami sudah saling merasa nyaman satu sama lain.

Taeyeon dan Tiffany….

Mereka adalah pasangan idola karena menurut ku, mereka sangatlah cocok. Bagaimana tidak ? Jika taeyeon  sangat kekanakan serta  sifat childishnya yang luar biasa membuat aku dan yoong sering kewalahan,  mendapatkan seorang pasangan yang luar biasa sabar seperti Tiffany adalah keberuntungan luar biasa bagi nya. Tiffany akan menjadi wanita dengan sejuta pesona jika itu sudah menyangkut taeyeon. Gadis itu akan berubah menjadi orang tersabar dan sering mengalah jika itu berurusan dengan taeyeon karena sifatnya yang masih seperti anak berusia belasan tahun. Taeyeon akan berubah menjadi gadis menjengkelkan dengan sifat keras kepalanya. Tapi ketahuilah, jika taeyeon sudah seperti kau tidak perlu repot2 untuk bertanya karena kau tidak akan mendapatkan jawaban yang kalian inginkan. Cukup berikan gadis keras kepala itu waktu untuk berfikir, setelahnya ia akan kembali seperti biasa. Menjadi taeyeon yang penuh semangat.

Tapi bukan berarti taeyeon memang sangat menjengkelkan. Itu semua menurut ku sangat wajar karena taeyeon menyayangi tiffany melebihi siapa pun.  Begitu pun tiffany. Keduanya saling menyayangi meskipun tidak jarang tiffany akan mengeluh dengan sifat yang dimiliki taeyeon. Mungkin dari kita ber 5, tiffany lebih banyak menceritakan permasalahannya denganku. Mungkin karena dia lebih mengenalku terlebih dulu dibanding dengan Taeyeon maupun Yoona dan juga jessica. Bisa dibilang, kami seperti teman berbagi informasi. Kenapa begitu ? Karena seorang jessica akan berkata jujur jika itu dengan tiffany. Begitu juga sebaliknya dengan taeyeon. Jadi kami berdua sama2 mempunyai informasi yang memang dibutuhkan. Friend with benefit mungkin, kekekeke~

Bagaimana dengan yoona ? Banyak cerita yang disembunyikannya dari kami. Aku dan taeyeon tahu jika shikshin satu itu sedang dalam masalah hanya saja ia sangat pintar menutupinya dan malah bersikap seolah semua baik baik saja. Walaupun begitu, yeahh…. kami cukup  banyak tau seperti apa sifat yeoja penyuka serial detektiv conan itu. Didalam pertemanan kami, kami tidak akan memaksa satu sama lain agar kami mengetahui semuanya. Semua akan berjalan tanpa paksaan, mengalir begitu saja, karena kami percaya akan ada waktunya yoona atau siapapun akan menceritakan semuanya. Kami hanya membutuhkan waktu untuk itu semua. Memahami semua yang tengah terjadi disekitar kita.

Kembali lagi, dengan pertemanan kami ber 5, dimana semuanya kembali berhubungan. Aku mengenal jessica berkat yoona yang memang  sudah saling mengenal untuk waktu yang lama. Ntah bagaimana caranya mereka bisa saling berkenalan, yang aku tahu mereka sangat dekat. Yeah… bisa dikatakan, diantara kami ber 5, yoong yang cukup dekat dengan jessica. Kedekatan mereka mungkin seperti dongsaeng dan eonnie.

Ddrrtt…

Aahh… seperti biasa, dijam yang sama aku selalu mendapat pesan yang sama dari jessica. Hanya saja…. sekarang terasa berbeda. Tidak seperti minggu minggu kemarin. Tidak lagi menjadi istimewa karena beberapa alasan. Tapi tetap saja, aku selalu membalasnya seperti biasa, dengan candaan khas kwon yuri.

Berapa gelas coffe yang kau minum hari ini huh ? Lihat saja sampai perutmu sakit seperti kemarin.

– Aww~ kenapa kau galak sekali sica ? Tenang saja, untuk hari ini aku bahkan belum minum 1 gelas pun.

– Jeongmal??? Anak pintar. Ingat !!! Tidak ada coffe untuk mu. Ah~ seperti biasa jangan telat makan atau apapun kebiasaan yang bisa membuatmu sakit. Arra kwon yul?

Seperti itulah isi dari percakapan ku dengannya yang sebenarnya sudah ku hapal di luar kepala. Bedanya, kali ini aku tidak segombal biasanya. Karena yeah~,,, beberapa alasan tadi.

Apa kalian penasaran alasan apa yang ku maksud huh ? Hahah baiklah, aku akan menceritakan seluruhnya yang membuatku menjadi seperti sekarang.

Baiklah, jika boleh jujur beberapa minggu yang lalu aku menyatakan perasaanku pada jessica. Butuh keberanian yang besar untuk mengutarakannya. Kau tahu? Bukan hal mudah untuk mengatakannya karena saat itu, hubungan kami baru saja kembali baik setelah aku mengetahui jika ternyata jessica tidak jujur padaku. Memang, aku bukan siapa siapa jessica, tapi hey aku pikir kita cukup dekat dan aku bahkan masih mengingat percakapan kami saat awal2 kami membahas orang itu.

” Aku juga tidak terlalu suka yul sosok yang seperti itu. Terlalu berani menurut ku. Bukankah kita baru saja kenal ? Kenapa ia seperti sudah mengenal ku sejak lama ?”

Kira kira seperti itulah jawaban jessica ketika kami membahas sosok baru di pertemanan kami. Karena jessica yang mengatakannya aku tidak terlalu ambil pusing. Toh aku juga berteman baik dengan park minyoung sosok yang baru kami kenal.

Namun berita yang menurutku cukup mengejutkan disiang hari datang begitu saja. Yoona memberi tahu jika ternyata jessica mempunyai hubungan yang bisa dibilang dekat dengan park minyoung. Bukankah itu biasa saja ? Memang. Hanya saja, melihat seperti apa sosok minyoung, teman teman ku sangat tidak menyukai sifat play girl dari nya. Dan karena itu pula alasan kami cukup kecewa dengan apa yang dilakukan jessica.

Apa kalian pernah merasa dikecewakan oleh orang terdekat kalian ? Percayalah, itu sangat menyakitkan. Yeahh… kami semua merasa seperti dibohongi olehnya. Tapi rasa sayang mengalahkan segalanya. Rasa yang terjalin begitu saja seperti mengalahkan sakit akibat kekecewaan yang diberikan jessica dan kami kembali seperti biasanya. Kembali seperti biasa hanya saja mungkin sedikit menjaga perasaan masing masing dari kami.

Jika dihitung, sudah lebih dari 2 minggu aku menyatakan perasaanku pada jessica. Meskipun kami tidak berakhir pasangan, tapi aku bisa menerimanya. Apa kalian tau jawaban apa yang diberikan jessica untuku ?

Flashback

“Kau serius yul ? Bukan karena ini malam minggu kan ? Hahahaha” .

” Aku serius sica~”.

” Jinjjah ? “. Suara terkejut yang tidak dibuat buat terdengar dari seberang sana.

“Aku tidak tahu sejak kapan, yang jelas perasaan itu muncul dan semakin besar tiap hari nya sica”. Kataku jujur dengan degup jantung yang bisa didengar.

” Yul…  wae huh ? aku…. hhuuuufftt kenapa kau baru mengatakannya sekarang?”. Katanya pelan seperti biasanya.

” Kemana saja kau selama ini ? Kenapa baru sekarang kau jujur padaku setelah aku membiasakan perasaanku pada mu hanya sebagai eonnie dan dongsaeng ?”.

” Apa maksud mu sica ? Aku…. tidak mengerti”. Kataku jujur karena aku memang tidak mengerti, ” Sica~ah, jika yang kau maksud perasaan ku padamu, jujur aku baru merasakannya beberapa minggu ini dan perasaan itu semakin besar setiap harinya”.

” Bukan perasaan yang sama seperti perasaanmu dengan victoria eonnie kan yul ?”. Tanya nya lagi.

” Aku juga bingung sica~ah, yang jelas ini sangat berbeda dari yang aku rasakan dengan vict eonnie”.

” Kau ingin aku menjawab sekarang atau nanti ?”. Tanya nya lembut.

” Sekarang sica~ah”. Balas ku dengan perasaan yang bisa dibilang campur aduk.

” Huuuffttt baiklah yul”. Terjadi keheningan sebelum jessica melanjutkan pembicaraanya,” apa selama ini kau tidak menyadari jika aku sudah memberi mu petunjuk jika aku mempunyai rasa lebih dari hanya sebatas teman?”. Katanya sambil menunggu ku menjawab.

” Aku tidak mengerti sica~ah”.

” Kita baru saja mengenal yul, tapi apa kau tidak habis pikir jika aku sudah mengatakan sesuatu yang seharusnya hanya aku simpan sendiri ? Aku bukan orang bodoh yang dengan gampangnya bilang seperti apa aku sebenarnya padamu. Itu petunjuk untuk mu yul”.

” Jika kau sadar, kau akan tahu seberapa banyak petunjuk yang aku berikan padamu, dan sayangnya kau tidak pernah sadar. Sejak saat itu aku memutuskan untuk menyerah yul. Aku akan mengikuti apa mau mu yang hanya menganggap ku teman, karena aku tahu, kau begitu sangat menyayangi seorang teman”.

Hening. Tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun karena aku sendiri tengah mencerna semua kata kata yang baru saja jessica ucapkan.

” Sejak saat itu aku mulai membiasakan perasaanku padamu yul. Aku tidak ingin terlalu berharap banyak, karena aku tahu, aku hanyalah sebatas teman untukmu”.

” Je…jesica… aku… aku minta maaf”. Kataku sangat menyesal, ” aku minta maaf jika aku tidak menyadarinya lebih awal. Tapi…. sekarang aku… aku menyukai mu”. Kataku pelan dengan perasaan yang sedikit sesak.

” Yul mian. Aku… aku memang masih sangat menyayangi mu, hanya saja saat ini, dihati ku… sudah mulai terbagi”.

Flashback end

Apa kalian tau perasaan ku saat itu ? Yang jelas, aku cukup terkejut dengan semuanya. Terkejut karena aku terlambat mengutarakannya dan yang lebih menyakitkan jika ia membuka hatinya untuk orang lain. Tayeon pernah bilang padaku ” jessica hanya membuat alasan yul, jika ia memang sayang padamu, ia tidak mungkin membiarkan orang lain masuk kedalam hubungan kalian. Karena tidak ada hati yang bisa dibagi. Yang ada hanya karena ia tidak merasa puas maka dari itu ia mencari sesuatu yang tidak ia dapatkan dari mu. Dan jessica lupa, jika cinta itu saling melengkapi. Jika kau tidak bisa memberikannya bukan berarti ia bisa mencari yang lain”. Taeyeon benar. Aku selalu merasa tenang jika kedua teman ku sudah memberikan nasihatnya yang memang selalu aku butuhkan.

Sejak saat itu semua berubah. Tidak ada lagi kwon yuri yang mencintai jessica. Chankaman, apa itu terdengar berlebihan ? Ah sepertinya iya hehehe~… kalau boleh jujur, sampai saat ini pun perasaanku tidak berubah sedikit pun untuknya, Masih tetap sama. Parahnya lagi, sepertinya jessica memang senang sekali menggoda ku. Ia selalu bersikap seolah semua baik baik saja tanpa tahu seberapa perihnya luka yang kini mulai menggerogoti hati ku. Okey, aku tahu ini terdengar sangat berlebihan.

Perasaan ku kembali hancur lagi dan lagi, ketika tiffany memberi ku potongan percakapannya dengan jessica. Disana terlihat jelas jika semua yang dikatakan jessica benar, bukan alasan yang dimaksud taeyeon saat itu. Dimana memang benar jika jessica membagi hatinya dan yang lebih menyedihkan, orang itu adalah park minyoung. Lucu bukan ? Hahhahahaha

Aku memang tidak tau lebih tepatnya tidak mau tahu dengan siapa jessica membagi hatinya. Yang aku tahu, kini didalam sana bukan hanya ada aku seorang.

Apa kalian pernah merasakan perih akibat luka yang diberikan oleh seseorang, tetapi ketika luka itu bahkan belum kering sepenuhnya, kau kembali mendapat luka tepat dibagian yang sama, dengan orang yang sama pula ? Percayalah, itu sangat menyakitkan dari apapun. Dan kau selalu bersikap seolah semuanya baik baik saja bahkan kau tidak bisa marah sedikit pun karena perasaan mu mengalahkan segalanya. Bodoh ? Yeahh… memang.

” Kau bodoh yul ckckckc….”. Itulah yang taeng katakan padaku.

Tapi terlepas dari itu semua, aku cukup menikmatinya. Jinjjah, perasaan itu membawaku kedalam dimana aku berada di titik yang paling menyedihkan, dan karena aku mempunyai teman teman yang selalu siap membantu ku, aku mampu melewatinya meskipun tak jarang aku mengingat setiap kata yang jessica yang keluar dari bibirnya malam itu.

Jessica selalu bilang ” aku tahu kau marah padaku, jeball yul keluarkan semuanya padaku. Aku tahu aku salah. Please jangan hanya diam”.

Pertanyaan ku adalah, apa aku bisa untuk marah padanya ? Pada gadis yang sepenuhnya mengisi relung hati ku? Bahkan untuk sekedar membencinya saja aku tidak sanggup. Dan ketahuilah, jika seseorang seperti ku yang bahkan tidak pernah serius dalam segala hal mulai marah, aku bisa lebih menyeramkan dari seseorang pemarah sekali pun.

Beep

Ponsel ku bergetar dan ketika aku melihatnya, ternyata itu pesan dari tiffany.

From Tiffany

– Yuuuuuullllll

Segera saja aku membalasnya. Aku tahu jika sudah seperti ini, bisa dipastikan tiffany sedang dalam mood yang tidak baik.

To Tiffany

– Ooh waeeeeee ??? Berisik arra !!

Beep

From Tiffany

– Aishh… aku kesaaallll. Kapan huh teman mu bisa bersikap dewasa ?

See ? Mereka sering seperti ini, dan tidak lama lagi mereka akan kembali mesra dan itu cukup membuat ku terhibur.

To tiffany

– Ada apalagi huh ? Bukankah kalian baru berbaikan ? Dan sekarang bertengkar lagi? Ckckckckc

Beep

– Aku lelaah yull jika selalu aku yang mengalah. Kapan anak itu bisa bersikap dewasa dan tidak bersikap semaunya saja? Apa aku tidak berarti untuknya? Aiishh… air mata ku kenapa tiba tiba mengalir seperti ini huh !!!

Aku hanya bisa tertawa membaca pesan dari Tiffany. Perlu kalian ketahui jika tiffany bukanlah sosok yeoja cengeng yang mudah menangis. Dan hebatnya teman midget ku, ia berhasil membuat tiffany menjadi cengeng seperti ini.

To tiffany

– Aigoo… uri tiffany menangis huh ? Hahahaha… aku tanya sudah berapa lama kau mengenal kim taeyeon huh ? Harusnya kau lebih bisa memahaminya. Meminta maaf bukan berarti salah kan ? Mengalah bukan berarti kalahkan ?

Beep

– Jadi  aku yang harus mengalah lagi ? Aiishh baiklah~

Begitulah dalam hubungan mereka. Selalu tiffany yang mengalah dan pada akhirnya mereka kembali berbaikan tapi bukan berarti mereka tidak akan bertengkar lagi.

Beep

From Byuntae

– Hooii bagaimana kabar mu huh ? Apakah masih sakit ? Ah maksudku hati mu ? Hehehehe

Begitu ku buka, ternyata pesan dari Taeyeon yang menurutku sangat lucu. Yeahh… lucu dalam arti lain.

To byuntae

– Aishh… tidak usah meledek ku pabbo. Kau sendiri bagaimana huh ? Bagaimana hubungan mu dengan tiffany?

Beep

From Byuntae

– Sepertinya panny sudah menceritakannya padamu kan ? Kau sangat updet jika itu berhubungan dengan kami heheheh

To Byuntae

– kau mau saran dari ku ? Baiklah, Saran ku hilangkan sedikit sifat kekanakan mu tae. Karena kau tidak tahu kan berapa banyak orang diluaran sana yang menginginkan posisi mu ? Sebelum kau benar2 kehilangannya, lakukan apa yang aku katakan Kim

Beep

From Byuntae

– Ntahlah yul. Jika itu menyangkut tiffany, aku seperti menjadi orang lain. Ego ku mengalahkan akal sehat dan setelahnya, aku kembali ke sifat menjengkelkan, seperti biasa. Dan apa kau tahu ? Hanya tiffany yang membuat ku selalu menangis.

To Byuntae

– Jika begitu, jaga tiffany. Jika ego tengah menguasaimu, kau bisa mengatakannya dan meminta waktu bukannya membuat keputusan yang nantinya akan kau sesali. Ingat Tae, sekali kau menyesal, kau tidak akan bisa mengharapkan semuanya kembali seperti semula.

Yaahh begitulah hubungan kami. Meskipun sampai sekarang aku masih berusaha baik baik saja dengan jessica yang bahkan selalu memberikan perhatiannya padaku, jauh dilubuk hati ku, aku ingin semua kembali seperti semula. Kembali dimana aku hanya menganggapnya teman tanpa perasaan lebih. Hanya saja itu sangat sulit aku lakukan. Meskipun baik tiffany maupun taeng selalu bilang jika aku bodoh, tapi itulah kenyataanya.

Dan TaeNy? Mereka akan selalu menjadi teman terbaik ku, meskipun sampai detik ini aku belum pernah bertemu dengan tiffany secara langsung, begitu pula taeyeon yang hanya mampu mendengar suara khas milik gadis bermata eyesmile tersebut. Meskipun didalam hubungan mereka banyak sekali pertengkaran, aku yakin itu semua dapat mereka lalui karena keduanya saling melengkapi. Bukankah sudah kodratnya, jika didalam setiap hubungan selalu di bumbui dengan pertengkaran pertengkaran yang dapat membuat hubungan itu semakin erat ?

Bagaimana dengan yoona ? Yeaahh…. jujur saja, aku bahkan belum memberi tahunya sampai saat ini…

The end

FIRE

image

FIRE

Malam ini udara seoul sedikit terasa lebih dingin. Maklum saja, beberapa jam yang lalu hujan baru saja mengguyur kawasan tempat dimana seorang gadis cantik tengah menunggu kedatangan seseorang yang sangat special untuknya. Sudah 2 jam ia duduk sendiri namun seseorang yang ditunggunya belum juga datang.

” Aissshh,,, kenapa belum datang juga?  Dasar makhluk hitam menyebalkan”. Kesal gadis itu sambil melirik jam dipergelangan tangan kurusnya.

” MWO ???!!!! 2 JAM ???!!! Aishhh… awas kau monyet hitaammm !!!!”.

Karena kesal gadis itu menendang bangku yang sebenarnya menjadi temannya selama ia duduk seorang diri sejak tadi. Habis sudah kesabaran gadis yang sejak tadi menunggu selama 2 jam tadi. Tangannya secepat mungkin mengetik beberapa angka setelahnya terdengar suara yang sangat mengesalkan itu.

” YA !!! DIMANA KAU HUH ?!!!”. Teriaknya setelah panggilan itu terjawab.

Aigoo… galak sekali eoh ?? Kau merindukan ku ? Kekekeke~”.

” Mwo ?? YAA !!! Kau tau sudah berapa lama aku disini? Aishh… jangan membuat ku marah bodoh”.

Hahahaha ne… ne.. arasseo baby~, mian. Sekarang kau bisa menghadap ke belakang ?”.

Gadis itu segera menolehkan kepalanya dan dibelakang sudah berdiri seseorang yang masih menggenggam ponselnya sambil tersemyum serta melambaikan tangannya. Gadis itu berjalan mendekat dan siap memeluk gadisnya, namun belum sampai ia memeluk, gadis yang sudah menunggu lama itu malah memeberikan reaksi luar biasa.

BUKK

” Aawww Yaa !!! Untuk apa tendangan tadi ? Appo~ “. Gadis berambut hitam panjang itu melompat lompat untuk menghilangkan nyeri di tulang kakinya.

” Untuk menebus kesalahan mu karena membuat seorang Jessica Jung menunggu selama 2 JAM Kwon Yuri”. Jawabnya sambil bertolak pinggang, tentu saja dengan glare andalannya.

” Hehehe mian baby~,,, aku tidak sengaja. Aku juga tidak mau terlambat, tapi Api nakal itu tidak mau padam”. Balas Kwon Yuri sambil tersenyum childish.

” Sudah aku katakan berapa kali padamu untuk mencari pekerjaan lain seobang, dan berhenti dari pekerjaan itu “.

Jessica jung, gadis cantik yang sempat murka karena keterlambatan kekasihnya segera berubah sedih mengingat bahanyanya pekerjaan dari seorang kwon yuri. Ia memandang sedih ke arah gadis yang sudah menemani hari harinya selama 3 tahun terakhir ini, namun perasaan takut selalu menghantuinya ketika kekasihnya tengah menjalankan kewajibannya sebagai seorang pemadam kebakaran.

Kwon Yuri, gadis jangkung itu memang termasuk gadis pemberani. Ketika sebagian wanita seusianya memilih bekerja di kantor tapi tidak dengannya. Ia memilih menjadi petugas pemadam kebakaran dengan tujuan untuk menyelamatkan orang orang. Ia harus berjibaku dengan ganasnya api ketika sudah mulai merembet dan memakan korban jiwa. Ia tidak berhenti jika api itu belum padam. Baginya, menjadi petugas kebakaran adalah pekerjaan yang sangat mulia, dan ia mencintai pekerjaannya meskipun harus selalu berbeda pendapat dengan kekasihnya.

” Aku takut yul,,, aku takut jika nanti kau… kau… “. Jessica tidak dapat melanjutkan perkataannya karena isak tangis tertahannnya.

Yuri yang melihat kekasihnya menangis lagi dan lagi hanya bisa tersenyum sambil membawa jessica kedalam pelukannya. Menenangkan gadis kesayangannya dengan kecupan di kepala jessica.

” Sayang~,, hei lihat aku”. Yuri meminta jessica untuk menatapnya, ” Apa kau percaya padaku?”. Tanya yuri sambil menatap kedalam mata jessica.

Jessica menganggukan kepalanya, ” Jika kau percaya padaku, kau harus yakin bagaimana pun juga, aku pasti akan kembali untuk menemui mu meskipun aku terluka sekalipun sayang~, aku selalu berhati hati dalam bekerja karena aku tau ada seseorang yang sedang menunggu ku pulang”. Senyum yuri.

” Tapi aku selalu takut yul, kau tahukan? Pekerjaanmu itu bukan pekerjaan yang mudah”. Jessica menyentuh pipi gadisnya.

” Aku tahu baby~,,, karena itu aku selalu berhati hati”.

” Dan sekarang kening mu terluka. Apa itu yang kau bilang hati hati ?”. Jessica menyadari jika kening yuri terdapat luka meskipun hanya luka kecil.

” Ani, ini bukan apa apa. Aku baik baik saja. Kau lihatkan ??”. Yuri tersenyum dork dan mendapat pukulan pelan dari jessica.

” Mian baby kalo tadi aku sangaaaatt telat. Sebagai gantinya, bagaimana jika kita makan malam ?? Aku lapaar~”. Kata yuri manja sambil mengelus perut ber ABSnya.

” Memang kau belum makan ?? Jam segini?”.

” Ne~,,, aku belum makan. Otteh ?? Kita makan ???”.

” Kau tahukan aku tidak pernah makan malam jam segini, tapi karena kau lapar,  kajjah kita makan malam sepuas mu”. Kata jessica sambil tersenyum cantik.

” Yeeeyy kajjaaahh”. Yuri terlihat senang, ia bahkan mengayun ayunkan tangan jessica ke udara.

Sesampainya di cafe jam menunjukan pukul 22.15 menit waktu korea selatan. Didalam cafe yang terlihat sepi karena memang sudah hampir malam, Yuri mengajak jessica duduk di pinggir dekat dengan jendela. Sambil menunggu pesanan mereka datang, keduanya saling berbagi cerita.

” Iya baby, kau tahu ? Aku dan taeng harus memadamkan api dengan sisa air yang sangaatt sedikit. Untung saja kami dibantu hujan tadi jika tidak mungkin sampai sekarang aku masih disana”. Yuri bercerita dengan sangat menggebu gebu.

Belum sempat yuri melanjutkan ceritanya, ponsel putih miliknya berbunyi menandakan panggilan masuk. Ia melihat nama pada layar dan terlihat jika Taeyeon yang menelpon.

” Angkat saja mungkin saja penting”. Jessica mempersilahkan yuri menjawab telepon karena yuri sempat ragu.

” Ne, gomawo baby”.

” Yeoboseo ?”.

“……..”.

” Mwo ? Jinjah ??? Apa apinya sudah merembet ke semua ? Aiisshhh….”. Yuri terlihat gelisah.

” Wae ?? Apa terjadi kebakaran lagi?”. Tanya jessica terlihat khawatir.

” Ne baby, dan taeng bilang jika api nya sudah menyebar. Aahh ottokae ???”.

” Pergilah Yul, aku rasa mereka membutuhkan prajurit tangguh seperti mu”. Kata jessica pelan.

” Benar tidak apa apa ?”.

” Aku akan menunggu mu dirumah. Aku tahu kau pasti kembali kan ?”. Senyum jessica diakhir katanya.

” Tentu saja. Sebenarnya ada yang ingin aku katakan, baby apa kau mau menunggu ku dirumah ?”.

” Tentu saja. Aku akan menunggu mu dirumah dan kau harus mengatakan apa yang ingin kau katakan, arraseo?”.

” Ne, kalau begitu aku pergi. Kau bisa pulang sendiri kan ?”.

” Tentu saja, sudah sana pergi mereka sudah menunggu mu”.

Setelah kepergian yuri, entah mengapa prasaan tidak enak menghampiri jessica. Tapi perasaan itu segera di buang jauh jauh olehnya. Dan ia memutuskan untuk segera pulang sebelum bertambah malam.

Sesampainya jessica dirumah mereka berdua, gadis berambut honey blonde itu segera merebahkan dirinya dikasur. Memandang langit langit kamar sampai ia tertidur. Dan melupakan prasaan tak enaknya sejak tadi.

Geli.

Jessica jung merasakan geli ketika ia merasakan usapan lembut di wajahnya. Ia memutuskan membuka matanya meskipun ia masih mengantuk. Tepat saat ia membuka mata, matanya terperangkap didalam mata coklat yang sangat menenangkan baginya.

” Yul ?? Kau sudah pulang?”. Jessica memperhatikan wajah cantik kekasihnya dengan seksama.

” Tentu saja, kau fikir siapa yang sekarang berada di sini huh ? Hantu ? Kekeke”. Tawa pelan terdengar dari mulut yuri.

” Aish bodoh “. Jessica tertawa lepas mendengar jawaban aneh kekasihnya.

” Hug me pleasee~”. Rengek manja jessica sambil merentangkan tangannya.

” Aigooo manjanya kekasih ku~~,,,, sini”. Yuri segera mendekat dan memeluk jessica erat.

Tak ada suara yang terdengar selain helaian nafas dari keduanya. Yuri memeluk jessica erat seakan tidak ada kesempatan lagi untuk memeluknya esok hari. Sedangkan jessica merasa bahwa yuri memang sangat merindukan dirinya karena memang sudah cukup lama keduanya tidak menghabiskan waktu berdua seperti ini karena belakangan terakhir, di seoul sering sekali terjadi kebakaran entah karena arus pendek atau penyebab lainnya.

” Bogoshipeo jessica~,,, jeongmal begoshipeo~”. Lirih yuri pelan namun jessica bisa mendengarnya.

” Nado yul,,, nan bogoshipta”. Jessica mengelus belakang kepala yuri.

Cukup lama mereka saling berpelukan sampai yuri melepaskan pelukan penuh cinta itu. Memberi kecupan di kening jessica cukup lama sebelum akhirnya ia menunggingkan sebuah senyum indahnya.

” Gweanchana?? Bagaimana tadi pekerjaan mu ? Sepertinya kau lelah sekali?”. Jessica kembali bertanya.

Tidak ada perubahan dari yuri semenjak beberapa jam lalu mereka bertemu. Selain bekas luka dikeningnya, selebihnya tidak ada luka baru. Hanya saja, wajah itu terlihatbsedikit lebih pucat. Mungkin akibat kelelahan ??? Begitu pikir jessica.

” Aku ??? Tentu saja aku baik baik saja. Kau lihat kan ?”.

” Tapi kau terlihat sedikit pucat. Aku tau kau pasti kelelahan. Aku akan membuatkan mu teh, kau tunggu disini sebentar”.

” Ani. Tetap disini”. Yuri menarik jessica untuk duduk kembali di ranjang putih milik mereka.

” Wea ?? “. Jessica mengerutkan keningnya melihat sikap yuri namun ia tetap menuruti keinginan yuri.

” Aniya~, aku hanya ingin kau tetap disini bersama ku. Lagi pula aku baik baik saja, mungkin hanya sedikit lelah saja”. Yuri meyakinkan jessica agar tetap bersamanya.

” Arra, aku tidak akan kemana mana. Oh ya, apa setelah berakhir tugas mu tadi kau tidak sempat bersih bersih?”. Tanya jessica karena masih menemukan wajah yuri yang sedikit kotor akibat debu dari api.

” Waeyo ? Apa masih ada debu yang tertinggal ? Aahh~ sepertinya iya kan ? Hahaha aku memang segera pergi setelah api itu padam”. Yuri tertawa sambil menggaruk kepala yang tidak gatal itu.

” Ne, di wajahmu masih belepotan debu dan ada sedikit bau seperti daging terbakar hahahaha “. Tawa jessica meledak saat melihat wajah yuri yang mendadak berubah kaget.

” Jinjah ? Hahahahaha “. Mereka masih tertawa sampai sebuah suara telepon menginterupsi keduanya.

” Chankkaman Yul”.

” Ani,,,, ani biarkan saja. Aku masih ingin bersama dengan mu baby~”. Yuri kembali merengek dan membuat jessica gemas dan segera menghadiahi kecupan mesra di bibir yang selalu membuatnya ketagihan tatkala ia menyentuhnya.

CHU

Jessica mencium bibir lembut yuri. Memberi sedikit hisapan sebelum yuri membalasnya dengan sedikit gigitan pelan di bibir atas jessica. Keduanya saling menghisap seakan tidak ada hari esok bagi keduanya. Suara Kecapan terdengar di dalam kamar yang menjadi saksi bagi pasangan itu. Yuri terus menghisap bibir pink jessica sampai gadis itu membiarkan lidah tak bertulang yuri menerobos masuk dan menjelajahi isi didalamnya. Saling beradu, melilitkan benda lunak itu, dan menghisap itulah yang mereka lakukan sampai keduanya hampir kehabisan oksigen dan melepaskan pagutan penuh hasrat itu.

” Haah…. haaahh…. haahh…. Saranghae Kwon… Yurihh…”. Kata jessica disela helaan nafasnya.

” Nado sica,,,, nado saranghae”. Yuri menempelkan keningnya dikening jessica merasakan helaan nafas hangat kekasih tercintanya.

” Sica~,,, ada yang ingin aku katakan padamu”. Yuri kembali menatap wajah cantik yang sangat memabukan, melebihi minuman beralkohol di dunia.

“Heumm ?? Wae ??”.

” Kau ingat sudah berapa lama kita bersama?”.

” Pertanyaan bodoh kwon Yul. Tentu saja aku ingat”.

” Bagus jika kau ingat. Karena sebenarnya aku sedikit lupa kekekeke”. Cengir lebar yuri dan mendapat jitakan dari jessica.

” Aaww aiishh… mani appoo sicaa~”. Yuri mengusap usap kepalanya.

” Jadi itu yang ingin kau katakan huh?”.

” Hahaha aniya baby~ “.

” Lalu ??”.

” Sebenarnya… aku… aku… “.

” Aku apa kwon Yuri ??? “. Jessica menatap yuri penasaran.

” Aku… aku… hhhh… baiklah”. Yuri mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan pembicaraanya, “Jessica jung, aku tahu aku bukan perempuan sempurna, maka dari itu maukah kau menyempurnakan hidup ku?”.

Yuri mengeluarkan sebuah kotak dari hoody coklat miliknya. Didalam kotak itu terdapat cincin indah dengan permata kecil di tengahnya. Yuri tersenyum gugup sebelum kembali melanjutkan kata katanya.

” Aku tahu, cincin ini tidak seberapa tapi aku janji pada mu jika aku akan membelikan yang lebih bagus jika kau mau menerima ku”.

” Jadi ?? “.

” Aku mau bodoh”. Balas jessica sambil memeluk yuri dan tak terasa setetes air mata turun dari pelupuk matanya.

” Gomawo sica~,,, gomawo. Berjanjilah padaku apapun yang terjadi, kau akan selalu bahagia, arraseo ?”.

” Asalkan dengan mu aku pasti selalu bahagia”.

” Sica, kau satu hal kan ?”. Yuri berubah serius.

” Huh ? Maksudmu ?”. Jessica terlihat sedikit bingung.

” Kau tahukan, jika makhluk hidup pasti suatu saat akan kembali lagi ke pencipta-Nya? Itu merupakan hukum alam”. Kata yuri sedikit berhati hati menjelaskannya.

” Tentu saja aku tahu Yul, tapi apa hubungannya dengan kita ?”.

” Tentu saja ada sayang. Kita itu salah satu makhluk hidup itu dan sudah hukum alam jika kita pasti akan kembali ke pencipta-Nya”.

” Lalu ??”.

” Lalu sudah pasti salah satu dari kita akan pergi dan siapa pun yang kembali terlebih dulu, yang ditinggal harus tetap melanjutkan hidupnya dengan bahagia, otteh ?”.

” Mwo ? Yaah !!! Kenapa kau berbicara seperti itu ???? Aneh sekali”.

Drrrttt…. Drrrttt….

Keduanya menoleh dan mendapati ponsel jessica berbunyi untuk yang kedua kali nya. Jessica hendak mengabaikannya sampai yuri memintanya untuk mengangkat panggilan tersebut.

” Angkatlah, siapa tahu saja itu penting”.

” Taeng ?”. Jessica mengerutkan keningnya dan menoleh ke arah yuri dan dibalas anggukan.

” Angkat saja, mungkin saja itu penting sica”. Saran yuri dan jessica segera menjawab panggilan dari sahabat kekasihnya.

” Yeoboseo ?”.

Tuhaann… kenapa kau baru mengangkatnya jessica ?”. Suara taeyeon terdengar sedikit bergetar dan terdengar panik.

” Mianhae taeng tadi aku tidak mendengarnya. So, kenapa kau menelpon ku? Ada yang penting kah ?”. Tanya jessica sambil melirik yuri dan keduanya saling melempar senyuman.

Ntah itu hanya penglihatan jessica saja atau memang benar, yuri terlihat sangat sedih. Ntah karena apa jessica tidak tahu. Yuri menundukan kepalanya dan menghela nafas dalam.

” Hei sikha ,,,, kau mendengar ku ? Helloo?”.

” Ah ye ? Ah mian taeng. Tadi kau bilang apa ? Maaf aku tidak mendengarnya”. Jessica lupa jika sekarang ia tengah bertelepon dengan Kim Taeyeon.

” Aahh…. baiklah. Dengarkan ini baik baik jessica. Ini tentang kwon yuri”.

” Yuri ??? Memangnya ada apa dengan dia ?”. Jessica kembali dibuat bingung terlebih melihat yuri yang bergerak seperti hendak keluar dari kamar.

” Aku tahu mungkin ini terdengar berat untuk mu”.

” Hei tae, sebenarnya apa yang ingin kau katakan huh ? Palliwa, kau membuatku penasaran. Kau tahu ?”.

” Baiklah. Dengarkan aku. Jessica jung,  kwon yuri….. kecelakaan dalam pemadaman kali ini. Dan dia…. tidak selamat”. Terdengar helaan nafas panjang.

” MWO ?? Yaa !!! Berhenti bercanda Kim Taeyeon. Mana mungkin huh ? Yuri sedang bersama ku. Yu- ??? Yuri-yah ???”. Jessica tidak menemukan yuri di kamar.

” Aniya jessica. Kwon Yuri… haaahhh…. yuri terkana ledakan saat menyelamatkan anak kecil  dan ia tidak bisa diselamatkan”.

” Ani. Tidak mungkin. Ia tadi disini bersama ku taeng. Tidak mungkin”.

Jessica segera berlari keluar kamar dan tidak mendapatkan Yuri dimana mana. Sekeras apapun jessica memanngil yuri, gadis itu tidak muncul juga. Pikirannya kalut dan ia terjatuh pingsan.

Dikamar yang bernuansa putih dan bau khas rumah sakit, jessica kini berada. Sudah satu hari ia tidak sadarkan diri. Namun beberapa menit yang lalu ia siuman dan mendapati semua temannya berkumpul di ruangan berukuran kecil itu. Namun tidak mendapati Kwon Yuri disana.

” Dimana Yuri ?? Tiff dimana Yuri ku ? Taeng ??? Dimana dia ?”. Jessica hendak bangun dari ranjangnya namun ditahan oleh Taeyeon yang memeluknya.

” Sikha hei… tenangkan diri mu. Yuri baik baik saja”.

” Dimana yuri taeng ?? Aku ingin bertemu dengannya hiks… hiks…”. Isak jessica yang sangat memilukan.

” Yuri baik baik saja sikha. Dia…. sudah berkumpul bersama orang tuanya”. Taeyeo masih memeluk gadis itu.

” Yu…. ri… hiks…. hikss…”. Jessica memukul mukul punggung taeyeon kencang.

Flashback

Di flat yang dekat dengan pasar dongdaemun, api sudah berkobar hampir melalap sebagian bangunan di flat tersebut. Sudah 1 mobil pemadam kebakaran berusaha untuk memadamkan api namun api tersebut tak kunjung padam bahkan bertambah besar akibat angin yang membawanya merembet ke segala arah. Namun demikian, para prajurit pemberani tersebut tak dibuat mundur. Sang capten, leeteuk yang merupakan komandan dari semua team memerintahkan agar pasukannya menambah pasokan air dan menyebar agar api tersebut segera padam. Di team lion heart yang terdiri dari 6 pasukan, Kim Taeyeon dan Sunyeong tidak berhenti berusaha dengan mengarahkan segala kekuatan dan kecepatan. Kim Taeyeon bahkan sudah siap dengan  Attack Line atau yang biasa disebut dengan Garis Serang: Garis serang yang sudah dipasang pada pompa dan siap untuk dipakai menyerang kebakaran. Menyerang ke titik dimana api itu berasal. Tubuh kecilnya tidak menyurutkan tekad berani seorang taeyeon. Di depannya Kwon Yuri sudah bersiap untuk mendekat ke arah kobaran api.

” Yah !!! Kwon Yuri, apa yang kau lakukan eoh ? Mundur sekarang. Menjauh dari sana”. Teriak tayeon ketika melihat yuri sudah siap dengan alat dipunggungnya.

” Aku harus kesana taeng, kau lihat ? Apinya tidak akan padam jika kita hanya berpusat ke satu arah saja”. Yuri menunjuk ke arah sebuah lantai dengan api yang cukup besar.

” Kwon Yuri !!! Itu sangat berbahaya, cepat pergi dari sana bodoh”. Taeyeon masih terus berteriak berharap sahabatnya itu segera menjauh dari sana.

” Tolooongg jebaaalll,,, Tolooong agashii anak ku masih berada didalam, tolong selamatkan anak ku hikss.. hikkss…”.

” Mian Samonim, anda dilarang barada dikawasan ini”. Shindong mencoba menghalau seorang ibu yang berusia sekitar 30 tahun itu sambil terus mencoba menerobos kasuk.

” Ani tuan, anak ku masih berada didalam. Biarkan aku masuukk”.

” Mianhaeyo tapi anda dilarang berada di sini, terlalu berbahaya untuk keselamatan anda samonim dan aku mohon bersabarlah”. Tegas shindong.

” Sabar ? ANAK KU MASIH DIDALAM. IA BARU BERUSIA 3 TAHUN DAN KAU MEMINTAKU UNTUK BERSABAR ?”. Teriaknya kalut sambil meronta ronta namun tenaganya tidak lebih besar dari shindong.

” Oppa wae? “. Yuri yang sejak tadi memperhatikan mereka segera mendekat dan berusaha menenangkan ibu tersebut.

” Nona tolong anak ku jeball…. minguk masih didalam. Dia pasti tengah ketakutan didalam sana. Tolong anak ku jeball “. Ibu itu memohon pada yuri.

” Dilantai berapa anda tinggal?”. Tanya yuri cepat.

” 2. Tolong nona, tolong minguk”. Ibu itu berlutut di kaki yuri dan yuri segera membantunya berdiri.

” Oppa bantu aku memasangkan Backpack Pum. Aku akan masuk kedalam”. Yuri bergerak cepat dan menuju ke dok mobil.

Backpack pum : pompa yang yang dipasangkan di punggung serta selang panjang dan diisi air.

Taeyeon yang mendengar perkataan yuri segera bergerak cepat untuk menghentikan tindakan bodoh sahabatnya itu.

” Jangan bodoh yul, kau lihat sendiri kan? Api sudah menguasai hampir 50 persen bangunan ini, dan kecil kemungkinan jika -“.

” Kim Taeyeon dengar. Kau ingat apa semboyan dari pemadam kebakaran?”. Yuri memagang pundak sahabatnya erat.

” Pantang mundur sebelum api padam dan korbankan seluruh jiwa dan raga”. Kata taeyeon pelan.

” Anak ibu itu masih didalam Tae. Anak itu terlalu kecil untuk berakhir disana. Meskipun kecil kemungkinannya, setidaknya kita sudah berusaha”. Yuri mencoba meyakinkan taeyeon.

” Kau percaya padaku kan ? Aku pasti kembali dari dalam sana dan membawa anak kecil itu untuk bertemu ibunya kembali”. Setelah itu yuri bergegas meninggalkan taeng dan ia juga segera berlari kedalam.

Butuh waktu 30 menit yuri berada didalam untuk mencari keberadaan Song Minguk, anak yang masih terjebak didalam. Ketika ia menemukannya, anak kecil itu sudah pingsan karena terlalu banyak menghisap asap.

” Hei minguk~ah, noona datang. Bertahanlah ne ? “. Katanya sambil melepaskan masker dan memakaikannya tepat di hidung anak berusia 3 tahun.

Api sudah membakar lantai tersebut. Karena hampir terjebak, namun ia tidak patah semangat. Sambil mendekap minguk ia berusaha sekuat tenaga menghindar dari kobaran api meskipun rongga dadanya seakan ingin meledak karena ia tidak memakai masker. Saat melihat pintu keluar yuri memacu kecepatannya agar segera sampai diluar , namun saat itu pula terjadi ledakan besar dan menyebabkan beberapa bangunan roboh. Yuri yang berhasil keluar segera menyerahkan anak laki laki itu agar segera diberikan pertolongan medis. Namun naas, saat ia hendak kembali menyiramkan air , terjadi ledakan ke 2 dan membuatnya terpental sejauh 2 KM. Karena ledakan tersebut, yuri harus merasakan kobaran api yang akhirnya merenggut nyawa gadis berusia 26 tahun itu.

Flashback end

Ditanah lapang dengan berbagai tahun lahir dan tanggal berpulang seorang manusia, jessica tengah memanjatkan sebuah doa. Matanya tak lepas dari nisan yang bertuliskan nama kekasihnya.

Kwon Yuri, 5 Des 1989 – 3 Sep 2015.

Mata yang terlihat lelah itu terus saja meneteskan air mata, seakan tak ingin berhenti. Diusapnya kepala nisan itu dan ia menunduk. Terisak.

” Jadi ini maksud yang kau bilang malam itu seobang ? Apa bisa, aku bahagia tanpa mu?”.

Tiffany dan Taeyeon yang sejak kemarin selalu menemani Jessica tidak bisa menahan air matanya. Mereka sama seperti jessica. Sama sama kehilangan sosok gadis periang yang sangat pemberani. Bukan tanpa alasan Kwon Yuri memilih Pekerjaan yang menantang maut tersebut. Pasalnya beberapa tahu yang lalu, tepatnya Mr. Kwon, yang merupakan appa yuri juga bekerja sebagai petugas kebakaran. Dan ia juga meninggal dalam bertugas. Sejak saat itu, yuri bertekat ingin seperti Appanya yang menyelamatkan banyak nyawa orang meskipun nyawa nya sendiri menjadi taruhan.

” Malam dimana jasad yuri di temukan, tim medis menemukan kotak ini disaku hoodynya hanya saja kotak itu kosong sikha”.

Jessica memandang cincin yang tersemat dijari manisnya. Ia ingat jika malam itu, yuri datang dan memberikan cincin yang indah dan memintanya untuk menyempurnakan hidupnya. Yuri juga yang memakaikan di jari manisnya.

Namun diwaktu yang bersamaan, ternyata yuri tengah meregang nyawa akibat ledakan dan menyebkan dirinya terpental.

THE END

Haloooo epribadeehhh  *tebarKeong

Kumaha damang ? Sae pan ya ? Wkwkw… sorry gw baru nongol lagi setelah sekian lama ilang *aseeeekkk…

Tiba tiba aja pengen bikin Oneshoot terus jadi deh ini FF.  Maap ya kalo misalkan kurang bagus ato kurang berkenan dihati hahahaha…. maklum ide dadakan.

Oke deh, dari pada banyak cakap dimari mending sok atuh dibaca ff nya yaa…. makasiiihhh 😚😚😚😚

Salam, Ms. Keong 🐌🐌🐌🐌🐌🐌🐌